Home / Narasi Islam / Hidayah / Ramadhan di Amerika (Bag. 2)

Ramadhan di Amerika (Bag. 2)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Tetapi tidak semua orang merasakan kehausan akan ilmu agama, seperti kawan yang barusan aku ceritakan. Banyak juga yang justru begitu sampai di Amerika jiwanya semakin rusak. Salah seorang kawan menceritakan: “Di Amerika ini ada dua kondisi ekstrim, yang mau ia bisa benar-benar baik dan yang mau rusak ia bisa benar-benar rusak”.

Karena itu dalam berbagai pengajian yang sempat aku hadiri, ada juga yang tidak mau mendatanginya, padahal tempatnya sangat dekat. Sementara sebagian yang lain berlomba-lomba datang sekalipun harus menempuh jarak perjalanan lima jam. Yang jelas memang masing-masing orang berbeda-beda, tergantung kesungguhannya dalam menjaga keimanan yang ia punya. Sebagian benar-benar merasakan bahwa iman yang ia punya adalah amanah yang harus dijaga dan disuburkan dengan ketaatan. Sebagian cuek-cuek saja, ia tidak mau berusaha menambah ilmu, padahal menurut Imam Ghazali dalam bukunya Ihya’ Ulumuddin, ilmu adalah merupakah ruh penguat keimanan dalam jiwa. Dengan bertambahnya ilmu, iman seseorang akan semakin kokoh. Karena itu Allah swt. sebelum menurunkan perintah-perintah-Nya untuk beribadah, yang pertama kali Allah swt turunkan adalah iqra’ (perintah untuk membaca). Ini menunjukkan bahwa ilmu adalah fondasi ibadah dan keimanan.

Si Cecep Pembuat Boeing

Salah seorang yang selalu menemani saya di penginapan dan senantiasa aktif dalam pengajian Ramadhan adalah Pak Cecep dari Bandung. Begitu aku mendengar namanya Cecep aku teringat sinetron yang berjudul Si Cecep. Sejak itu, setiap aku mendengar Cecep, dibenakku tergambar bahwa setiap orang yang bernama Cecep adalah kampungan, bloon, tidak ilmiyah dan seterusnya. Tetapi setelah aku bertemu dengan Pak Cecep di Amerika, semua persepsi yang selama ini melekat dalam bayangan, hilang seketika. Sebab ternyata pesawat Boeing yang selama ini aku kendarai, salah seorang perancangnya adalah Pak Cecep.

Lebih dari itu, aku terkesan, bahwa ternyata orang-orang Indonesia banyak yang cerdas. Sebab dari yang hadir pengajian rata-rata adalah karyawan Perusahaan Boeing dan Microsoft. Dan memang kota Seattel adalah pusat kedua perusahaan itu. Tiba-tiba terbersit dalam pikiran pertanyaan aneh berbahu mimpi: Kapan mereka bisa ditarik untuk membangun negeri sendiri? Mereka adalah anak-anak bangsa yang seharusnya mendapatkan penghargaan dari negerinya.

“Pak Cecep kapan balik ke Indonesia?” Tanyaku.

“Di Indonesia ilmu kurang diperlukan”. Jawabnya.

“Lho, siapa bilang? Bukankah semua negara membutuhkan pesawat terbang seperti Boeing? Negara mana yang menolak seorang seperti Pak Cecep?”

“Dalam hati memang ada niat untuk kembali, tetapi memang untuk keahlian seperti yang aku punya, di negeriku kurang tersalurkan, dan kurang mendapatkan perhatian yang serius”.

“Lalu bagaimana ke depannya? Apakah Pak Cecep hanya akan terus bekerja sebagai karyawan di sini?”

“Apa boleh buat? Ya, mudah-mudahan ini menjadi jalan ibadah kepada Allah”

“ Ingat Pak Cecep, bahwa hampir setiap tahun pesawat Boeing yang Pak Cecep bikin, selalu mengangkut jamaah haji ke Makkah. Coba bayangakan, pemandangan yang sangat mengharukan itu. Berapa besar pahala yang didapatkan ketika Pak Cecep benar-benar berniat ibadah dengan pekerjaan ini. Karena itu niatkan segalanya untuk ibadah, jangan hanya sekedar mencari makan. Sebab mencari makan di mana-mana bisa kita dapatkan. Itulah makna hadits: ”Innamal a’maalu binniyaat, wa innamaa likullimriin maa nawaa. Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang kelak akan mendapatkan pahala amalnya sesuai dengan niat yang mengantarkannya”.

Mendengar itu Pak Cecep semakin semangat. Dia bahagia sekali. Perasaan yang selama ini menjadi beban, kini telah terjawab. Pak Cecep sangat bahagia dengan pertemuan yang sangat singkat ini. Tetapi setidaknya obrolan tersebut telah memberikan makna bagi hidupnya.

Dan memang kataku lebih lanjut masalah niat dalam Islam, sekalipun nampak sederhana, tetapi kedudukannya sangat menentukan. Karenya para ulama hadits, mereka selalu memulai kumpulan hadistnya dengan hadits tersebut. Silahkan buka Sahih Bukhari, Sahih Muslim dan kumpulan hadits lainnya. Bahkan lebih gampangnya silahkan buka Riyadhush Shalihin atau Al Arba’iin An Nawawiyah keduanya karya Imam An Nawawi yang paling popular dan hampir selalu ada di setiap rumah orang-orang Islam. Bila itu anda lakukan pasti pertama kali anda akan mendapatkan hadits “innamal a’maalu binniyaat” yang tadi aku sebutkan.

“Mengapa ya? Apa rahasianya?” Tanya Pak Cecep.

“Sebab masalah niat adalah masalah yang paling pokok dalam setiap amal. Suatu ibadah ritual sekalipun, akan menjadi sia-sia jika ternyata niatnya salah. Bukankah Rasulullah saw. telah menceritakan bahwa kelak nanti di hari Kiamat ada tiga orang yang dimasukkan neraka hanya karena salah niat. Padahal masing-masing mereka ahli ibadah, satunya ahli pemberi sadekah dan satunya ahli pengajar Al Qur’an, satunya lagi ahli jihad di jalan Allah. Tetapi niat mereka masing-masing hanya ingin dipuji orang: yang ahli sedekah ingin dibilang dermawan, lalu yang ahli pengajar Al Qur’an ingin dibilang seorang yang alim, sementara yang ahli jihad ingin dibilang pahlawan pemberani”.

Pak Cecep tersenyum mendengar jawaban tersebut. Senyum yang tulus sebagaimana selalu menghisai wajahnya. Sedikit mengangguk-angguk, penuh haru. Wallahu a’lam bishshawab.

Redaktur:

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
DR. Amir Faishol Fath
Lahir di Madura,15 Februari 1967. Setelah tamat Pondok Pesantren Al Amien, belajar di International Islamic University Islamabad IIUI dari S1 sampai S3 jurusan Tafsir Al Quran. Pernah beberapa tahun menjadi dosen tafsir di IIUI. Juga pernah menjadi dosen pasca sarjana bidang tafsir Al Quran di Fatimah Jinah Women University Rawalpindi Pakistan. Akhir-akhir ini sekembalinya ke Indonesia, menjadi dosen sastra Arab di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatulah Jakarta. Lalu menjadi dosen Tafsir sampai sekarang di Sekolah Tinggi Al Hikmah Jakarta. Selebihnya beberapa kali di undang untuk mengisi Seminar, konfrensi dan ceramah di tengah komunitas muslim di beberapa kota besar Amerika Utara (Washington, New York, Houston, Los Angles, Chicago, Denver). Beberapa kajian tafisir rutin yang diasuh di perkantoran Jakarta antara laian di: Indosat, Conoco Philips, Elnusa, Indonesian Power, PLN Gambir. Agenda Kajian Tafsir Dzuhur:Senin (setiap pekan ) : Masjid Baitul Hikmah Elnusa Selasa 1 : Masjid Bank Syariah Manidiri Pusat Selasa 2&4: Masjid Indosat Pusat Selasa 3 : Masjid Hotel Sultan Rabu 1 : Masjid Indonesian Power Pusat Rabu 3 : Masjid PLN Gambir Kamis (setiap pekan) : Masjid Miftahul Jannah Ratu Prabu 2 (Conoco Philiphs)Agenda Pengajian Tafsir Dan Hadits lainnya:Sabtu 1&2 (Sesudah Subuh) : Masjid Az Zahra Gudang Peluru Ahad 2 (Sesudah Subuh) : Masjid An Nur (Perdatam) Senin ( Jam 14:30-20.00) :Sekolah Tinggi Al Hikmah Jakarta Selasa (Jam 14:00-15:30 : Majlis Talim Amanah Dault (Kedian Menpora Adiaksa Dault, Belakang STEKPI, Kalibata). Rabu: 1&2 (Setelah Maghrib) : Masjid Az Zahra Gudang Peluru Kamis (Setiap Pekan, setelah Maghrib) : Masjid Bailtul Hakim, Diskum Kebon Nanas.

Lihat Juga

Tim KNRP melaksanakan program Buka Puasa Bersama dan pemberian bingkisan Idul Fitri untuk pengungsi Palestina di salah satu rumah makan di Kilis, Turki Selatan, Sabtu (2/7/2016). Mereka mengucapkan, "Terima kasih Indonesia". (ist)

Di Ramadhan 1437 H, KNRP Salurkan Rp 12 Miliar untuk Rakyat Palestina