Home / Dasar-Dasar Islam / Tazkiyatun Nufus / Menjauhi Dosa Besar (Bagian 4)

Menjauhi Dosa Besar (Bagian 4)

11. Dusta dan bohong

Dalam Alquran kalau kita perhatikan kalimat al-kadzibu, maka kita temukan dalam bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan wazannya, seperti Kaadzibu, Kadzaab, Al-Mukadzibuun, Al-Mukadzibiin, Kadzaaba, Kadzaabat, Makdzuub, Takdziib, Kdazzabuu. Ini semua sesuai dengan ayat dan bentuknya.

Kebohongan atau sifat dusta adalah suatu sifat yang timbul dari sebab beberapa faktor yang ada, antara lain:

· Lemah jiwa dan mentalnya.

· Kegoncangan jiwa.

· Senang dengan perhatian manusia atau pandangan manusia.

· Suka bergurau atau bercanda yang berlebihan.

· Rasa dengki dan iri yang ada.

· Lingkungan yang buruk dan berpengaruh padanya.

Dalam Alquran Allah banyak mengingatkan tentang hal ini, bahkan memberi julukan kepada mereka yang dusta dengan berbagai julukan yang ada:

1. Al-Mujrimuun

“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya Sesungguhnya tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa.” (Yunus: 17)

2. Al-Kafiruun

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir.” (Al-Ankabut: 68)

3. Al-Asyqaa

“yang mendustakan (kebenaran) dan (berpaling) dari iman.” (Al-Lail: 16)

4. Al-Mu’tad

“Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu, melainkan setiap orang yang melampui batas.” (Al-Muthaffifin: 12)

5. Adz-Dzalimuun

“Maka barangsiapa mengada-adakan dusta terhadap Allah sesudah itu, maka merekalah orang-orang yang zalim.” (Ali Imran: 94)

6. Al-Aatsimuun

“Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka).” (An-Nisaa’: 50)

7. Al-Muftaruun

“Apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah pada hari kiamat Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya).” (Yunus: 60)

8. Al-Munafiquun

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: ‘Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.’ Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (Al-Munafiquun: 1)

9. Al-Musrifun

“Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata, ‘Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah” padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu, dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.” Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (Ghafir: 28)

Kalau kita perhatikan dari ayat-ayat di atas, kata Kadzibu bisa bermakna dusta atau bohong dan bisa bermakna ingkar, yaitu penolakan pendustaan. Dan setiap keadaan pelaku akan dihukum sesuai dengan apa yang didustakannya atau apa yang dijadikan kebohongannya.

Pada dasarnya setiap hukum kebohongan mempunyai dosa dan resiko sesuai dengan tingkat kebohonganya itu. Seperti dusta atas nama Allah dan Nabi-Nya, dusta dalam kehidupan dan lain-lain.

Dan seseorang apabila dia berdusta atau berbohong, maka pada dasarnya dia harus siap berbuat kebohongan yang lainnya untuk menutupi kebohongan yang pertama. Dan biasanya kebohongan memang harus bersambung atau sampai seorang itu mau menyelesaikan kebohongannya dengan mangaku dan menutup dengan taubat atau minta maaf kalau hal itu bersangutan dengan manusia. Dan banyak di antara kita yang hampir tidak memperhatikan hal ini, bahkan ada yang beranggapan kalau bohong sedikit tidak apa-apa atau tidak dosa. Artinya bohong yang diluar syar’i. Dan Nabi saw. mengancam keras bagi orang yang bohong atau dusta apa lagi mengatasnamakan beliau. Dalam riwayat Muslim dari Samura r.a., sesungguhnya Nabi saw. berkata, “Barangsiapa yang berbicara tentang aku, dengan suatu hadis yang hal itu sebenarnya dusta, maka orang itu dikatakan pendusta.”

Bohong yang secara syar’i dibolehkan dalam tiga kondisi:

1. Bohong dalam medan Perang atau jihad atau peperangan menghadapi musuh, yaitu yang kita kenal sekarang dengan istilah taktik atau strategi. Hal ini pernah dilakukan oleh Ali r.a. dalam perang tanding satu lawan satu dengan jagonya kafir quraisy yang berpengalaman. Singkatnya, ketika dia berhadapan dengan Ali r.a., maka Ali r.a. menoleh kesamping musuhnya (seolah-oleh orang itu ada kawannya), ketika orang itu menoleh kesamping langsung Ali r.a. membelah kepala musuh itu. Dan dalam hadis sahih dikatakan “Al-Harbu Khud’ah” (perang itu tipu daya).

2. Bohong untuk Islah atau memperbaiki hubungan dua orang yang sedang marah atau bermusuhan.

3. Bohong yang dalam urusan suami istri.

Dalam Riyadhus Sholihin, Imam Nawawi membawakan dalil dari Ummu Kultsum, dari Nabi saw. bersabda, “Tidaklah dikatakan Al-Kadzibu orang yang mengishlah antara manusia, dan dia berkata baik pada kedua belah pihak.” Hadis Bukhari no. 2692 atau Muslim no. 2605, dalam riwayat Muslim berkata, Ummu kultsum diberi keringanan tentang apa yang diucapkan manusia dalam tiga hal, yaitu dalam perang, ishlah antara manusia, dan ucapan seorang suami pada istrinya, dan istri pada suaminya.”

Dari sini jelas bahwa kebohongan yang bukan dasar syar’i, hendaknya kita hindari dan jauhi. Karena, hal ini memang sangat diancam dan dibenci oleh Allah dan RasulNya.

Dalam suatu riwayat Nabi saw. pernah ditanya, “Apakah seorang mukmin bisa penakut?” Nabi saw. menjawab, ” Ya, seorang mukmin mungkin saja dia penakut.” Apakah seorang mukmin bakhil, pelit? “Ya, seorang mukmin mungkin bisa pelit.” Apakah seorang mukmin dusta atau pembohong? Nabi saw. Menjawab, “Tidak!” (HR. Malik)

Dan sebagaimana kita ketahui bahwa bohong adalah salah satu dari tanda-tanda munafik. Sebagaimana hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a., sesungguhnya Nabi saw. Bersabda, “Tanda seorang munafik ada tiga: kalau berbicara bohong, kalau berjanji ingkar, dan kalau diberi amanah (kepercayaan) khianat.”

Dan dalam riwayat Ahmad Nabi saw. Bersabda, “Sungguh suatu pengkhianatan yang besar apabila kamu bicara pada saudaramu dan dia membenarkan kamu, padahal kamu dusta.” (HR. Abu Daud)

Bahaya yang ditimbulkan dari dosa besar

Allah berfirman, “Maka masing-masing (mereka itu) kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang di timpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka kami benamkan ke dalam bumi dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan; dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Al-Ankabut: 40)

Adapun bahaya yang ditimbulkan oleh maksiat atau perbuatan dosa itu seperti di sebutkan oleh Ibnu Qoyyim rahimullah, sebagai berikut:

1. Terhalangnya ilmu agama karena ilmu itu cahaya yang diberikan Allah di dalam hati, dan maksiat mematikan itu.

2. Terhalangnya rezeki, seperti dalam hadits riwayat Imam Ahmad, “Seorang hamba bisa terhalang rezekinya karena dosa yang menimpanya.”

3. Perasaan alienasi pada diri si pendosa yang tiada tandingannya dan tiada terasa kelezatan.

4. kegelapan yang dialami oleh tukang maksiat di dalam hatinya seperti perasaan di kegelapan malam.

5. Terhalangnya ketaatan.

6. Maksiat memperpendek umur dan menghapus keberkahannya.

7. Maksiat akan melahirkan maksiat lain lagi, demikian kata ulama salaf: Hukum kejahatan adalah kejahatan lagi sebagaimana kebaikan akan melahirkan kebaikan lagi.

8. Orang yang melakukan dosa akan terus berjalan ke dalam dosanya sampai dia merasa dirinya hina. Itu pertanda-tanda kehancuran.

9. Kemaksiatan menyebabkan kehinaan. Dan kebaikan melahirkan kebanggaan dan kejayaan.

10. Maksiat merusak akal, sedang kebaikan membangun akal.

Ganjaran orang yang meninggalkan dosa besar

Jika orang yang melakukan dosa besar akan menimbulkan efek negatif pada dirinya, keluarga, dan masyarakatnya. Sebaliknya, orang yang mampu dan berhasil menahan diri dari melakukan perbuatan dosa, akan mendapatkan ganjaran yang sangat besar disisi Allah, diantaranya:

1. Terhapusnya dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya

2. Digantinya kejahatan dengan kebaikan

3. Dimasukkan ke dalam surga

Redaktur:

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (14 votes, average: 9,36 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • trio segara

    Kebohongan atau sifat dusta adalah suatu sifat yang timbul dari sebab beberapa faktor yang ada, antara lain:

    · Lemah jiwa dan mentalnya.

    · Kegoncangan jiwa.

    · Senang dengan perhatian manusia atau pandangan manusia.

    · Suka bergurau atau bercanda yang berlebihan.

    · Rasa dengki dan iri yang ada.

    · Lingkungan yang buruk dan berpengaruh padanya

  • icha

    BUKALAH SELALU PINTU HATI DI JALAN YANG DIRIDHOI ALLAH….

  • icha

    smoga kita smua dapat menjauhkan hal2 yang tidak terpuji

  • yasin

    keluhuran budi adalah sebuah cita-cita. kita tak akan pernah menggapai ridho-Nya tanpa melaksanakan segala apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang dengan hati yang iklas.

  • saya prihatin dengan apa yang menimpakita sekarang ini mulai penjajahan moral dan perusakan akhlak.saya cuman ada tulisan-tulisan yang menguatkan agama islam dan dalil-dalil yang bisamembuat hati para rengrasi terngiuh

  • Umi Nayya

    Masakan enak pakai sasa
    Seluruh hidangan enak terasa
    Jauhilah diri dari dosa
    Karena kita bisa binasa

  • harun mip

    Beberapa hal dalam artikel ini hanya menyebutkan “berdasarkan hadits…” bisa ditulis lebih lengkap hadits dan perawi nya?
    Demikian pula jika ada kutipan dari ayat Al Qur’an, sebaiknya ditulis lengkap dalam huruf Arab dan Terjemahnya.

Lihat Juga

Ilustrasi. (islamreview.ru)

(Dasar!) Sok Tahu