Home / Berita / Internasional / Ini 29 Nasihat Dr. Thariq Suwaidan Kepada Para Pemuda

Ini 29 Nasihat Dr. Thariq Suwaidan Kepada Para Pemuda

DR. Thariq Suwaidan. (albosala.com)

dakwatuna.com – Istanbul. Dai kondang asal Kuwait, Dr. Thariq Suwidan, menyampaikan 29 nasihat kepada para pemuda. Dilansir dari aa.com.tr/ar, Ahad (01/10/2017), hal itu ia sampaikan dalam sebuah seminar yang digelar di ibu kota Turki, Istanbul.

Menurut Suwaidan, 29 nasihat ini berasal dari rangkuman karir dan pengalaman hidupnya. Seminar itu sendiri merupakan bagian dari acara Pameran Buku yang telah berlangsung sejak tanggal 21 September dan berakhir pada hari ini, (01/10).

Suwaidan mengatakan, “Seminar ini yang mengajarkan kehidupan padaku. Ini tidak terdapat dalam buku ataupun majalah. Merupakan hadiah bagi pemuda umat dari sejarah yang panjang. Tentunya setelah menulis banyak buku, mengunjungi banyak negara, turut berperan dalam mengelola banyak pekerjaan, bertemu dengan banyak ulama, serta memberi pelatihan pada lebih dari 100 orang.”

Kemudian, Suwaidan juga mengomentari ukuran pembelajaran yang ada pada dunia Barat maupun Timur. “Ukuran pembelajaran di Barat lebih besar dari pembelajaran di Timur. Bahkan sampai pada ilmu-ilmu Syariah. Karena di sana (Barat, red) ada kurikulum, dan yang terpenting banyaknya doktor yang menguasai secara mendalam pada tema-tema kecil,” katanya.

Dalam ceramahnya, Suwaidan membagi pembahasan menjadi tujuh bagian. Setiap bagian terdapat empat nasihat. Sehingga jumlahnya menjadi 28 nasihat. Kemudian di akhir ceramah, ia menambahkan satu nasihat emas, sehingga jumlah akhirnya menjadi 29 nasihat.

Suwaidan menjadikan tema ‘Bepergian’ sebagai pembahasan pertama. Dalam nasihat pertama, ia mengatakan, “Bepergianlah. Karena bagi yang tidak bepergian, sesungguhnya ia tidak belajar. Perbanyaklah dalam bepergian, karena ukuran pembelajarannya sangat besar.”

Nasihat kedua, menurut Suwaidan, adalah mengambil cuti setahun pasca sekolah menengah dan pasca perguruan tinggi. “Hal ini bermanfaat dalam mengubah hidup jadi lebih baik. Karena hasil penelitian menyebutkan 80% orang bekerja tanpa memiliki spesialisasi,” lanjutnya.

“Harusnya, tujuan utama dalam bepergian adalah untuk ilmu, bukan wisata,” kata Suwaidan untuk nasihat ketiga. Sedangkan nasihat keempat, “Bepergian untuk mempelajari agama lain setelah memiliki akidah yang baik.”

Sebagai contoh, ia menceritakan pengalamannya sendiri. “(Aku, red) mengunjungi kota Qom yang menjadi pusat Syiah di Iran. Aku dapati di sana ada 80 ribu buku. 70% di antaranya berbahasa Arab dan 70% di antaranya pula merupakan kitab Ulama Sunni,” tambahnya.

Pembicaraan kemudian masuk kepada tema ‘Membaca’, yang menandai masuk ke dalam pembahasan kedua. Pada nasihat pertama, Suwaidan mengatakan, “Membaca secara metodis, sehingga menjadikan manusia lebih sistematis. Yaitu membaca 400 halaman dalam sebulan. Barang siapa yang ingin menjadi ilmuwan, maka harus membaca 7 sampai 10 buku dalam sebulan. Sebagiannya yang sesuai spesialisasi, sebagian lainnya spesialisasi lainnya.”

Nasihat ketiga, Suwaidan menyebutkan, “Membacalah dengan cepat untuk meringkas waktu, lalu mengulangnya.” Untuk nasihat ketiga dan keempat dalam pembahasan ini, Suwaidan menganjurkan untuk membaca memoar seseorang, dan membaca sesuatu yang tidak disetujui.

Pada pembahasan ketiga, Suwaidan membicarakan tentang ‘Perancanaan’. Nasihat pertamanya, “Rencanakan lebih awal dan jangan tunda perencanaan hingga dewasa. Tapi mulailah berencana sejak akhir masa sekolah menengah, karena itu waktu yang tepat.”

Nasihat kedua berisi, “Fokuslah dalam memperbaiki diri. Jangan berfilsafat, jangan berbicara hal-hal yang tidak Anda pahami.”

“Jangan bertindak berdasarkan pendapat orang lain, dan kesabaran memberikan hasil yang besar,” lanjut Suwaidan dalam nasihat ketiga dan keempat.

‘Ubah Kebiasaanmu’ menjadi pembahasan keempat dalam seminar dai asal Kuwait tersebut. “Nasihat pertamaku, jangan buang waktu Anda. Kedua, jangan takut pada risiko. Ketiga, jika Anda harus gagal, mulailah kembali dari awal dan jadikan kegagalan sebagai pembelajaran. Keempat, banyaklah bertanya. Karena ciri seorang kreator adalah banyak bertanya.”

Pembahasan kelima membicarakan tentang ‘Relasi’. Suwaidan memberi empat nasihat  kepada para pemuda. Yaitu, “Tanggunglah rasa sakit dan percayalah pada manusia, jangan runtuh. Jangan terburu-buru membangung relasi yang langgeng. Anda tidak perlu punya banyak teman dekat, maksimal lima. Bergaullah dengan yang istimewa saja.”

Selanjutnya, Suwaidan menjadikan tema ‘Rencana Keuangan’ sebagai pembahasan keenam. Di dalamnya, terdapat juga terdapat empat nasihat.

Ia mengatakan, “Rencanakan untuk melipatgandakan pendapatan bulanan setiap tiga tahun, hingga usia 46 tahun dan selanjutnya stabil. Rencanakan untuk menambah kepemilikan setiap lima tahun. Rencanakan keuangan masa pensiun mulai sekarang. Dan segeralah berinvestasi, 30 tahun adalah usia tepat untuk investasi.

Pembahasan ketujuh dengan tema ‘Rules of Life’ merupakan yang paling penting, menurut Suwaidan. Empat nasihatnya dalam pembahasan ini adalah, “Jagalah keluargamu. Prinsip lebih penting dari sebuah hajat. Kebebasan merupakan hak sah yang sakral bagi semua. Akal tidak untuk dijual, Anda tidak bisa menjual akal kepada seorang syaikh, ilmuan, partai politik ataupun sebuah kelompok Islam.”

Kemudian, Dr. Thariq Suwaida mengakhiri ceramahnya dengan nasihat emas bagi para pemuda. Ia mengatakan, “Ingatlah selalu, bahwa usia itu pendek, kehidupan itu singkat. Namun di saat yang sama, kehidupan itu indah. Janganlah kalian berpikir bahwa hidup itu penderitaan.”

“Keindahan hidup adalah saat Anda mengenal Allah dengan pengenalan hakiki yang mendalam, dan Anda benar-benar mencintai-Nya. Dengan begitu, Anda akan bergelimang keridhoan-Nya,” pungkasnya. (whc/dakwatuna)

Sumber: Anadolu Ajansi Arabic

Advertisements

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Erdogan Persilahkan Dubes AS Angkat Kaki dari Turki