Home / Berita / Opini / Apakah Trump Akan Konsisten Dengan Janji Kampanye?

Apakah Trump Akan Konsisten Dengan Janji Kampanye?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Presiden AS terpilih, Donald Trumph (aa.com.tr)
Presiden AS terpilih, Donald Trumph (aa.com.tr)

dakwatuna.com – Hasil pemilihan umum Presiden Amerika Serikat telah selesai. Seperti diketahui bahwa Donald Trump secara mengejutkan mengalahkan kandidat yang sejak awal diperkirakan unggul, Hillary Clinton. Tentu saja kemenangan pengusaha real-estate itu membuat terkejut bukan saja Amerika bahkan dunia. Namun keterkejutan itu juga setidaknya bercampur rasa khawatir terkait masa depan politik internasional yang akan dijalankan oleh Amerika Serikat ke depan. Mengingat suksesi di negeri super power itu secara otomatis diyakini akan berimplikasi pada perubahan politik internasional di bawah Trump.

Banyak pernyataan-pernyataan Trump saat kampanye yang memang kurang bijak dalam memandang perbedaan. Ia dikenal anti terhadap kalangan minoritas di AS seperti Muslim dan Hispanik. Begitu juga terkait imigran timur tengah yang saat ini membanjiri Eropa karena berkecamuknya perang di kawasan Timur Tengah. Trump pun sempat membuat pernyataan yang membuat umat Muslim geram, yakni dengan menyerukan sebuah larangan kepada umat Islam untuk masuk ke Negeri Paman Sam usai terjadi peristiwa penembakan massal di California.

Dalam debat calon presiden ia menegaskan kampanyenya tentang larangan terhadap imigran atau Muslim masuk ke Amerika Serikat. Menurut Trump, lawannya (Hillary) ingin mendatangkan ratusan ribu pengungsi dari negara-negara berbahaya di Timur Tengah, terutama dari Suriah. Padahal, menurutnya rakyat Amerika Serikat tidak tahu siapa mereka (imigran itu) atau bagaimana perasaan hati mereka tentang Amerika Serikat.

Fenomena ultra nasionalis

Sebenarnya, kemenangan Trump dalam pemilu presiden AS itu memiliki keterkaitan dengan makin maraknya fenomena anti kemapanan yang seiring dengan gerakan ultra nasionalis di dunia terutama di Barat. Salah satu indikasi yang terlihat jelas bisa dilihat dari fenomena Brexit sebagai hasil referendum warga Inggris untuk keluar dari Masyarakat Uni Eropa.

Brexit merupakan fenomena yang mempertegas adanya kecenderungan ke arah anti kemapanan dan munculnya ultranasionalis di Barat. Kondisi itu tidak bisa dilepaskan dari ketidakpastian ekonomi pasca krisis global 2008, seperti pertumbuhan ekonomi yang melambat, meningkatnya rasio gini, ketidaksenangan terhadap kalangan imigran, dan turunnya kepuasan terhadap rezim yang berkuasa.

Pasca krisis global 2008, fenomena anti kemapanan itu kemudian menjalar ke beberapa wilayah Eropa, hal itu terbukti dengan banyak terjadinya kekalahan rezim yang berkuasa dalam pemilu yang diadakan. Dari 20 negara maju dan berkembang, jumlah rezim yang berkuasa berhasil memenangkan pemilu hanya 37 persen setelah tahun 2008. (Sumber: Brookings Institute Annual Report 2015).

Tidak terkecuali Donald Trump, Politisi sayap kanan di Eropa dan Amerika Serikat terus melakukan strategi mengeksploitasi rasa frustrasi dari kelas pekerja dengan menyalahkan kesengsaraan mereka pada rezim yang berkuasa dan juga kepada imigran pendatang sebagai pihak yang dituduh telah memenuhi jatah pekerjaan bagi warga asli.

Sejak krisis ekonomi 2008, memang ada kecenderungan menguatnya sikap anti pendatang terutama Muslim di kalangan rakyat Eropa, hal itu sebagian didasarkan pada anggapan bahwa bukan hanya kehadiran para imigran akan membebani ekonomi mereka, tapi juga karena faktor keamanan.

Trump Melunak

Namun anggapan bahwa Donald Trump akan menjalankan pemerintahannya, khususnya politik luar negeri dengan gaya ultra nasionalis amat diragukan. Bahkan saat ini beberapa langkahnya menunjukkan kecenderungan tidak akan sekeras kampanyenya itu, antara lain dengan menempuh kompromi terhadap legislatif yang didominasi kelompok kemapanan dari Partai Republik yang umumnya menjaga jarak dari Trump selama kampanye.

Selain itu, Donald Trump juga menyatakan terbuka peluang untuk mempertahankan kebijakan warisan Barack Obama, bahkan seperti Obamacare sekalipun yang sempat dianggap sebagai salah satu biang bencana bagi kemunduran ekonomi AS. Trump juga melunak soal tembok perbatasan dengan Meksiko,

Terkait larangan terhadap para imigran terutama dari kalangan muslim juga mulai melunak. Setidaknya ada beberapa faktor yang membuat Trump pada akhirnya melunak, antara lain : Pertama, adanya protes besar dari kalangan kelas menengah, yang menghawatirkan Trump akan menjalankan pemerintahannya secara rasis dan anti minoritas. Setidaknya sejak Trump terpilih demonstrasi telah terjadi di beberapa kota dengan isu menolak kemenangan Trump. Kedua, sikap anti minoritas, terutama kepada kalangan muslim cenderung akan merugikan pemerintahan Trump sendiri, mengingat populasi umat Muslim di Amerika Serikat tergolong besar dan beberapa bahkan menduduki kelas ekonomi atas sebagai pengusaha. Ketiga, sikap anti imigran jika dijalankan malah akan menjadi bumerang bagi Amerika Serikat sendiri yang dikenal selama ini sebagai terbuka. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Wakil Ketua Komisi VIII FPKS DPR RI.

Lihat Juga

Rawan Imigran, Trump Kirim Ribuan Tentara ke Perbatasan

Organization