Home / Narasi Islam / Dakwah / Keikhlasan, Modal Gerakan Dakwah Melahirkan Mobilisasi

Keikhlasan, Modal Gerakan Dakwah Melahirkan Mobilisasi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Pelaksanaan ibadah haji di bulan Zulqaedah dan Zulhijah tiap tahun merupakan momen penting bagi umat Islam. Suatu peristiwa tahunan yang memiliki banyak dimensi pada tiap rangkaian pelaksanaan manasik haji. Bukan hanya menghadirkan kesan ibadah pada diri muslim, tapi juga ada kesan kolektif, sebagai mata rantai umat tauhid sejak zaman nabi Ibrahim, nabi Muhammad saw. para sahabat dan seterusnya hingga detik saat dia melaksanakan ibadah haji di tempat bersejarah.

Perasaan itu akan mengiringi dan menjadi suasana batin mereka yang sadar akan muasal kewajiban ibadah haji. Inilah momen besar dalam diri dan dalam dunia Islam, pada setiap interaksi jamaah haji di setiap tempat dan waktu-waktu mereka di tanah suci, bahkan juga bagi gerakan dakwah melalui para aktivis yang turut hadir di sana. Pengalaman spiritual dalam pelaksanaan ibadah haji harus menghadirkan aspek harakiyah bagi aktivis dakwah.

Ketika kita menengok ke belakang, pada sejarah pertama manasik haji menjadi syariat, kita menyaksikan bagaimana nabi Ibrahim dan Hajar yang tinggal di Palestina, yaitu kawasan Syam, melakukan perjalanan ke lembah (Mekah) di jazirah Arab sebanyak 4 kali. Suatu lembah tandus yang tidak tumbuh satu pun tumbuhan dan tidak berpenghuni.

Berkembangnya kabilah di lembah tandus tersebut adalah setelah Ismail menikah dengan salah seorang gadis Jurhum asal Yaman yang singgah saat melintasi lembah ini. Lembah yang sudah tidak tandus lagi karena sudah ada air dari sumur Zamzam dan menjadi tempat singgahan para musafir dan kafilah dagang.

Setelah mendapat perintah Allah untuk membangun Ka’bah, nabi Ibrahim as. berdoa:

رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Ibrahim:37)

Doa nabiyullah, Ibrahim dikabulkan Allah. Lembah Mekah menjadi tempat yang senantiasa dikunjungi dan disinggahi banyak orang dari berbagai penjuru dunia. Bukan hanya untuk barter atau jual beli barang, tapi juga untuk menunaikan serangkaian ibadah seperti yang diajarkan Nabi Ibrahim as. Segala jenis makanan dan buah-buahan juga dapat ditemukan di sana.

Jadi, suatu amal jika ingin dilakukan terus-menerus, tumbuh dan berkembang, maka harus ada keikhlasan pada awalnya. Seluruh amal para nabi selalu tumbuh dan berkembang. Rahasianya adalah keikhlasan mereka. Mereka melakukannya sebagai tuntutan dari aqidah. Bagian dari misi kenabian yang mereka emban.

Inilah salah satu penjelasan bertahannya agama ini. Agama ini terus tumbuh dan berkembang, tidak bisa dihalangi. Ini karena keikhlasan yang menjadi dasar amal. Amal-amal para nabi ini merupakan a’malul aqidah. Kalau didasarkan pada keikhlasan, maka yang tampak keluar adalah keberhasilan. Itulah yang membedakan agama Islam dengan ideologi lainnya.

Agama ini memiliki qudratu ‘ala ta’biah, kemampuan untuk memobilisir. Ukuran kesuksesan secara harakiyah adalah kemampuan gerakan dakwah ini melakukan mobilisasi untuk mewujudkan harapan dan cita-cita.

Pengalaman nabi Ibrahim as. inilah yang telah membuktikan bahwa haji dan umrah yang dilakukan umat Islam tidak pernah berhenti. Tidak ada satu pun ideologi di dunia yang mampu melakukan mobilisasi manusia seperti yang dilakukan Islam.

Basis mobilisasi ini adalah spiritual. Kita dapat menyaksikan bagaimana orang-orang menabung, mengumpulkan uang untuk perbekalan berangkat haji atau umrah, karena memang haji dan umrah tidak hanya dilakukan orang-orang kaya. Orang-orang miskin mengumpulkan uangnya bertahun-tahun untuk berangkat haji.

Yang lebih menarik adalah orang-orang yang berangkat haji dan umrah ini juga termasuk orang-orang yang tidak pernah melihat Nabi mereka. Rasulullah saw bagi mereka hanya ada dalam imagi. Yang mereka dengarkan dari riwayat. Yang mereka dengarkan dari ceramah-ceramah di masjid. Mereka termobilisasi dengan sendirinya.

Jadi, kalau ada satu ide yang turun ke publik atau ke masyarakat dan ide ini tidak mampu melahirkan mobilisasi, berarti ide tersebut tidak punya kandungan atau konten. Konten dan kandungan yang mampu mendorong orang untuk berbuat dan beramal demi suatu cita yang digelorakan.

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa asal mula setan menggoda manusia diawali dari khatirah (lintasan pikiran). Lintasan pikiran yang ada di benak manusia selanjutnya akan menjadi dzakirah (memori). Memori ini terus akan berkembang dan akan menjadi fikrah (pemikiran). Pemikiran ini selanjutnya akan turun ke dalam hati, menjadi keyakinan. Keyakinan ini selanjutnya mengendap di dalam hati menjadi iradah (keinginan). Keinginan ini akan terus mengendap ke dalam hati yang lebih dalam dan selanjutnya akan menjadi azam atau azimah (tekad). Tekad inilah yang akan melahirkan sebuah tindakan.

Jadiazimah turun ke badan yang akan melakukan tindakan dari azimah di dalam hati. Tindakan yang dilakukan terus-menerus dan berulang-ulang, maka tindakan ini akan menjadi ‘adah (kebiasaan). Kebiasaan inilah yang akan membentuk syakhshiyah (kepribadian) seseorang. Yang pada akhirnya akan menjadi watak dan tabiat.

Alurnya akan seperti itu dan itulah yang dilakukan setan kepada manusia seperti yang diungkapkan Ibnul Qayyim dalam kitab Talbisul Iblis. Alurnya dimulai dari pikiran, kemudian hati dan kemudian berakhir di fisik.

Jadi, jika ada satu pikiran yang tidak mampu melahirkan mobilisasi fisik, berarti pikiran tersebut mandek di kepada dan tidak mampu melahirkan amal, apalagi mobilisasi. Tidak mampu melahirkan fikrah, keyakinan, kehendak, tekad dan berarti tidak akan menjadi tindakan. Dalam skala kolektif berarti ide atau pikiran tersebut tidak mampu menciptakan mobilisasi.

Salah satu makna mobilisasi menurut Alquran adalah infiru khifafan watsiqalan, berangkatlah kalian dengan ringan atau dengan rasa berat. Jadi, ukuran kesuksesan gerakan dakwah adalah sejauh mana rancangan dan program yang sudah dibuat mampu melahirkan mobilisasi. Gerakan dakwah berkembang karena kemampuannya melahirkan mobilisasi.

Berkembangnya dakwah hingga saat ini berbasis pada keikhlasan yang pada akhirnya berujung pada kemampuan memobilisasi. (sb/dakwatuna)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Samin Barkah, Lc. M.E
Lelaki Betawi yang pernah merantau. S1 Lulusan Universitas Al-Azhar, Mesir dan S2 pada Ekonomi Syariah di IEF Trisakti, Jakarta. Bekerja, berjuang dan berkorban untuk hidup dan kehidupan.

Lihat Juga

Komunitas Muslim Jerman Minta Aparat Jaga Seluruh Masjid

Organization