Home / Berita / Silaturahim / Bantuan IZI untuk Keluarga Bu Mursadah

Bantuan IZI untuk Keluarga Bu Mursadah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
IZI memberikan bantuan kepada Mursadah, (Mury/Nana Sudiana/IZI)
IZI memberikan bantuan kepada Mursadah, (Mury/Nana Sudiana/IZI)

dakwatuna.com – Serang.  Kabupaten Serang tak terlalu jauh dari Jakarta sebagai ibukota Negara Indonesia. Hanya diperkukan waktu dua jam lebih sedikit bagi seseorang yang hendak menuju Serang dari Jakarta. Namun, ternyata gebyar kemajuan dan kemegahan Kota Jakarta tak lantas berkorelasi dengan tingkat kesejahteraan kota-kota kecil lainnya di sekitarnya. Kemiskinan masih melilit warga yang tinggal tak jauh dari Jakarta, termasuk mereka yang berada di Serang, Banten. Karena kemiskinan, bahkan seorang ibu tak mampu membeli dan memiliki makanan sekedar untuk dirinya dan anak balitanya. Kemiskinan bukan di derita keluarga ini, ternyata keluarga-keluarga disekitarnyapun mengalami kondisi yang kurang lebih sama.

Awalnya, Senin (27/6/2016) ada pesan masuk ke kami di IZI terkait adanya keluarga yang membutuhkan pertolongan. Dari pesan itu kami mendapati info lebih jelas bahwa seorang ibu muda bernama Mursadah yang masih berusia 24 tahun telah melahirkan bayi secara caesar. Paska melahirkan, ternyata ada masalah yakni ia kesulitan mendapatkan asupan makanan yang memadai karena keterbatasan pendapatan keluarga.

Bayi laki-laki yang dilahirkannya menurut tetangga sekitarnya siang malam selama lebih tiga hari menangis dengan keras karena asi dari ibunya tidak keluar. Ini dimungkinkan karena saat yang sama ibunya tidak mampu membeli makanan yang bisa mencukupi untuk dirinya dan anaknya. Bayi laki-laki ini namanya Samsul. Ia karena terus menerus menangis siang malam, terpaksa disuapi makanan bayi seadanya yang murah, walau tak sesuai peruntukannya.

Suami bu Mursadah bekerja sebagai kuli bangunan di sekitar Serang. Ia juga harus menghidupi tujuh orang anggota kelurganya yaitu : Ibu Rosah (mertua), Ibu Mursadah (istri), Ibu Aam (kakak ipar) dan ketiga anak ibu Aam. Suami bu Mursadah sudah beberapa hari tidak diberikan upah oleh majikannya tanpa sebab yang jelas.

Sebagai gambaran, kondisi rumah Bu Mursadah ini merupakan rumah dengan bilik bambu dan lantainya tanah. Rumah ini sendiri sebenarnya dari kondisinya kurang layak huni. Di dalamnya tidak ada kasur, kursi, kompor, kamar mandi apalagi TV. Selama ini, untuk listrik saja, ia ikut ke tetangganya. Baju-baju yang dipakai keluarga ini hampir seratus persen pemberian orang dan semuanya bekas pakai. Warga sekitar sebenarnya berusaha membantu keluarga ini, namun karena kondisi mereka juga tak jauh berbeda, alias sama-sama kurang mampu, maka bantuan yang bisa diberikan pun seadanya saja, sesuai dengan yang mereka bisa.

Seketika informasi ini kami dapatkan, hari itu juga kami putuskan menyiapkan tim untuk berangkat ke lokasi. Namun karena padatnya agenda di hari itu, kami pastikan tim akan berangkat besok pagi-pagi dari kantor. Alhamdulillah sesuai rencana, tim IZI selasa pagi-pagi sudah siap turun ke lapangan untuk memastikan kondisi ibu Mursadah. Namun karena ada urusan teknis terlebih dahulu, tim baru bisa berangkat pada pukul 09.30 wib dari kantor di condet.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam, akhirnya pada pukul 12.00 WIB Tim IZI sampai ke alamat rumah yang dimaksud di Desa Tambiluk, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang, Banten.  Alamat ini tak lain adalah rumah dari Ibu Mursadah. Ia ternyata tinggal bersama kelurganya di sebuah rumah gubuk berukuran lima meter kali sepuluh meter yang berlantaikan tanah dan hanya beralas terpal.

Tim IZI yang datang Alhamdulillah tak mendapat kendala di perjalanan, sesuai bekal alamat yang dibawa dari kantor, tim sampai juga di alamat tujuan. Tim mendapati di rumah bu Mursadah tinggal pula ibunya, Sanudin (suami), M. Samsul (anak) dan dua orang keponakan yang masih kecil. Ibu Mursadah memiliki seorang anak laki-laki yang bernama M. Samsul yang saat ini berusia enam bulan. Selama ini yang menopang hidup ibu Mursanah, anak, ibu dan kedua keponakannya berasal dari suaminya.

Ketika tim IZI bertemu dengan keluarga ini. Dapat dipastikan bahwa Suami ibu Mursadah hanyalah seorang kuli bangunan. Sesekali ia menjadi buruh lepas. Penghasillanya tidak tetap. Setiap hari berkisar lima puluh ribu atau terkadang kurang. Dari jerih payah suaminya, ibu Mursadah setiap minggu hanya dikasih 250 ribu-300 ribu untuk berbelanja kebutuhan hidup dan juga untuk membeli susu dan bubur bayi anaknya.

Setelah menyampaikan maksud dan kedatangan Tim IZI, bantuan yang telah disiapkanpun diberikan kepada keluarga Bu Mursadah. Adapun bantuan yang diberikan IZI selain sejumlah uang untuk biaya kehidupan keluarga ini, IZI juga memberikan bantuan berupa barang-barang sembako untuk kebutuhan hidup sehari-hari seperti beras, gula, teh, kopi, susu bayi, susu ibu menyusui dan juga kebutuhan lainnya.

Di ramadhan yang mulia, semoga bantuan dari kami di IZI bisa memudahkan urusan keluarga ini sehinggga kami di IZI beserta para donatur/muzaki yang ada Allah permudah urusannya dan juga diberikan keberkahan yang berlipat nilainya. Amiin. (Mury/Nana Sudiana/IZI/SaBah/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Lihat Juga

UNICEF: Di Yaman, Satu Anak Meninggal Setiap 10 Detik