Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jangan Korbankan Agamamu

Jangan Korbankan Agamamu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Sebuah kisah nyata yang harus menjadi perhatian khusus bagi saya dan semua umat muslim di dunia. Pada waktu saya menjadi mahasiswa, saya tinggal di daerah pinggiran kota Solo. Sebuah nama kota yang sudah mendunia, sampai negara Amerika Serikat saja mengetahui. Merupakan daerah cagar budaya, termasuk kota pelajar, pariwisata, bisa juga disebut kota santri. Ada juga yang menyebut kota pelopor perubahan bangsa.

Singkat cerita, ada seorang anak yang masih duduk di bangku SD yang masih polos. Pada waktu itu saya berada di sebuah masjid untuk shalat berjamaah bersamanya. Setelah selesai melaksanakan shalat, saya menghampiri bocah tersebut. Dia bercerita banyak tentang apa yang dialaminya sekarang. Dia harus melawan orang tuanya. Kenapa kamu melawan orang tua kamu? Tanya saya. Melawan orang tua termasuk perbuatan durhaka. Tapi jika melawan tentang masalah aqidah tidak menjadi masalah. Dia harus shalat secara sembunyi-sembunyi. Jika waktu sekolah ikut shalat berjamaah, tapi jika sudah pulang sekolah harus sekolah sore yaitu sekolah Kristen di sebuah gereja. Tapi sebenarnya tidak mau, karena sebuah paksaan maka harus melangkahkan kaki dengan berat. Orang tua yang dengan tega menjual aqidah anaknya dan seluruh keluarga. Dengan kata lain aqidah ditukar demi sekardus mie instan. Harusnya orang tua bangga terhadap anaknya yang rajin shalat. Karena orang tuanya anak itu menjadi orang Kristen,atau Yahudi. Pertanggungjawaban yang berat kelak di hari pembalasan. Dengan semua kebutuhannya dicukupi dari seorang misionaris. Beasiswa, sembako, uang juga dapat. Orang tuanya termasuk golongan ekonomi menengah ke bawah. Pekerjaannya pedagang kaki lima di belakang kampus.

Suatu ketika saya jalan-jalan menyusuri sebuah perkampungan di pinggiran kota Solo, ternyata masih ada juga daerah yang hidup di bawah garis kemiskinan. Ingin rasanya saya membantu mereka tapi apa daya saya belum bisa. Tidak sengaja saya bertemu dengan seorang tukang jamu keliling dengan sepeda ontel. Panjang lebar saya bercerita tentang kisah keluarga yang rela menjual agama dengan sekardus mie instan. Saya bertanya kepada pedagang itu. Bagaimana jika ibu dicukupi kebutuhan hidup sehari-hari, tapi ada syaratnya harus pindah agama? Tanya saya. Dengan jelas dan tegas Ibu tersebut menjawabnya. Meskipun saya hidup menderita, harus banting tulang dalam bekerja, tapi saya tetap istiqomah di dalam beragama Islam, jawab Ibu tersebut. Saya salut mendengar jawaban ibu tersebut. Suatu prinsip hidup yang harus dipegang teguh sampai akhir hayat. Memang, tidak bisa dibohongi bahwa sebuah kemiskinan dekat dengan kekufuran. Tapi, ada juga kekayaan yang melimpah ruah bisa dekat dengan kekufuran.

Masyarakat umumnya dihadapkan dengan masalah ekonomi. Kekurangan makanan, buah-buahan, kelaparan, berbagai penyakit dan sebagainya itu yang menjadi masalah pokok. Artinya itu menjadi PR bagi para Pemimpin negeri ini, bagaimana cara cepat mengentaskan kemiskinan di masyarakat. Tapi yang terjadi yaitu yang miskin semakin miskin, yang kaya semakin kaya. Korupsi semakin menjamur di negeri ini. Suatu hari saya diskusi dengan seorang anak SMPIT Nururrahman Depok. Seorang siswa yang menyukai pelajaran IPS. Dia menyukai pelajaran tersebut karena ekonomi menjadi masalah pokok hidup masyarakat. Dia sudah bisa berfikir bagaimana caranya mengangkat ekonomi masyarakat. Mudah-mudahan apa yang dicita-citakan bisa berhasil dan menjadi perubahan di negeri ini. Amiin.

Hidup di dunia ini membuat kita selalu dihadapkan dengan banyak pilihan. Jika kita mau ke surga ada jalannya.Yaitu dengan memperbanyak amal sholeh dan beribadah kepada Allah. Jika kita mau ke neraka pun ada juga jalannya yaitu berbuat maksiat kepada Allah. Semoga kita bisa memilihnya dengan hasil yang terbaik.

Semoga kisah di atas  bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Orang Islam harus kaya dan mampu membantu saudara-saudara muslim yang membutuhkan agar dapat terus belajar agama, membentengi diri dengan iman yang kuat dan tidak mudah terpengaruh dari dunia luar. Dan umat Islam bisa menjadi tokoh perubahan yang bisa bermanfaat bagi umat manusia. Mudah-mudahan kita senantiasa meningkatkan iman dan takwa kepada ALLAH SWT. Amin. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Karyawan SMPIT Nururrahman Depok Jawa Barat.

Lihat Juga

Din Syamsuddin: Agama Harus di Praktekkan dalam Kehidupan Sehari-hari

Figure
Organization