Topic
Home / Berita / Nasional / Ini Jawaban Habib Rizieq Soal Pelesetkan ‘Sampurasun’

Ini Jawaban Habib Rizieq Soal Pelesetkan ‘Sampurasun’

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq. (inilah.com)
Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq. (inilah.com)

dakwatuna.com – Jakarta  Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq angkat bicara soal polemik dirinya yang mempelesetkan salam Sunda “Sampurasun” menjadi “campur racun” dalam Tablig Akbar beberapa waktu lalu di Purwakarta.

Ia mengatakan, bahwa pelestarian budaya boleh boleh saja dilakukan, tetapi bukan berarti menjadikan budaya sebagai racun untuk menjauhkan umat dari nilai nilai keislaman.

Rizieq mengatakan, bahwa ucapan Sampurasun yang dibudayakan oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi sah-sah saja dilakukan. Hal tersebut sama halnya dengan ucapan selamat pagi, selamat malam, dan ucapan salam lainnya. Namun, Rizieq menentang jika pelestarian budaya tersebut malah menjauhkan umat dari nilai nilai keislaman.

“Tentu kita setuju, bahwasanya Dedi Mulyadi memang bukan sedang memasyarakatkan kesantunan salam Sunda ‘Sampurasun’, tapi dia memang sedang merusak umat Islam Purwakarta dengan ‘Campur Racun’, yaitu meracuni aqidah umat dengan aneka perbuatan ‘Syirik’,” ujar Rizieq melalui laman pribadinya, Rabu (25/11/15) sebagaimana dilansir republika.co.id

Masalah yang dianggap oleh Rizieq bukan persoalan pelestarian budaya. Tetapi Rizieq mengkirtisi sikap Dedi yang malah meminggirkan Assalamualaikum sebagai sapaan yang Islami. Apalagi, menurut Rizieq hal ini didukung oleh kebijakan yang ditelurkan oleh Dedi yang dinilai Rizieq menjauhkan umat dari nilai islami.

Dedi membuat Perbup (Peraturan Bupati) tentang larangan ceramah provokatif yang menentang kebijakannya. Dedi juga menganjurkan agar siapa yang mau selamat lewat di jalan Tol Cipularang agar menyebut nama Prabu Siliwangi. Dan beberapa tahun lalu, Dedi juga pernah menyatakan bahwa suara seruling bambu lebih merdu daripada membaca Al-Qur’an.

Hal inilah yang dinilai Rizieq tak memenuhi standar keislaman. Ia mengatakan jika memang hendak memurnikan dan mengembalikan kelestarian budaya bukan berarti meminggirkan nilai Islami dan membuat masyarakat menjadi lebih jauh dari nilai keislaman.

Sebagaimana dikabarkan tribunnews.com beberapa waktu yang lalu, Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, mengimbau pelajar di wilayahnya untuk menerapkan salam Sunda sebelum beraktivitas di sekolah.

Tak hanya kepada pelajar, pegawai di lingkungan Pemkab Purwakarta juga diimbau menggunakan salam ini. Mereka harus menjadi teladan dalam pelestarian budaya Sunda.

Hal ini dilakukan untuk menjaga kearifan lokal wilayahnya yang kental dengan tradisi tersebut. Menurutnya, budaya mengajarkan penghormatan kepada orang lain, termasuk budaya salam sunda ini. “Jadi akan sangat baik bila diajarkan sedini mungkin,” kata Dedi. (sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

IPW Sarankan Polisi Minta Maaf ke Rizieq Shihab

Figure
Organization