Topic
Home / Narasi Islam / Sosial / Serial Konflik #2: Persepsi Adalah Segalanya

Serial Konflik #2: Persepsi Adalah Segalanya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (alia.wordpress.com)
Ilustrasi. (alia.wordpress.com)

dakwatuna.com – Konflik dengan berbagai eskalasinya akan dapat terjadi hanya apabila persepsi tentang perbedaan kepentingan itu ada dan dipercayai bahwa pemuasan kepentingan satu pihak akan mengganggu pemuasan kepentingan pihak lain. Konsep persilangan (crossing atau kontroversi) ini jelas sangat membantu kita dalam mengelola konflik sehari-hari.

Definisi konflik

Sebagaimana dijelaskan di tulisan lalu bahwa konflik adalah persepsi tentang perbedaan kepentingan (perceived divergence of interest). Konflik akan dimulai ketika satu atau para pihak memiliki persepsi bahwa pemuasan kepentingan satu pihak akan mengganggu kepuasan pemenuhan kepentingan pihak lain. Contoh sederhana adalah konflik antara suami dan istri dalam menentukan liburan akhir pekan bersama mereka. Suami ingin ke laut, sedang istri ingin ke gunung.

Penyebab konflik: Persepsi tentang kepuasan

Salah satu faktor penting dalam memahami konflik adalah persepsi tiap pihak. Konflik bukan terjadi karena adanya perbedaan kepentingan yang sesungguhnya, melainkan karena hal itu menjadi suatu persepsi. Lihatlah kasus pemogokan buruh. Perwakilan buruh di suatu pabrik memiliki aspirasi untuk mendapatkan kenaikan gaji sebesar 30% seiring naiknya prestasi penjualan pabrik itu. Persepsi pihak buruh adalah bahwa pihak manajemen pabrik akan menolak aspirasi ini karena sudah jelas bahwa naiknya upah buruh akan langsung mengurangi tingkat laba pabrik. Padahal sebenarnya ada 2 kemungkinan faktual bahwa persepsi itu benar adanya atau ternyata aspirasi buruh itu sejalan dengan kepedulian pihak manajemen yang memang berniat menaikkan upah buruh. Andai opsi kedua adalah faktanya, kenapa pihak buruh harus susah payah melakukan pemogokan massal demi untuk sesuatu yang hanya ada di persepsi mereka, bukan sesuatu yang riil.

Di sinilah betapa pentingnya pengelolaan persepsi. Allah Tuhan seluruh manusia memberikan panduan yang sangat baik tentang pengelolaan persepsi ini yang dibahasakan dengan istilah “prasangka”, yaitu tindak lanjut dari adanya persepsi. Yaitu di dalam Quran Surah Al-Ĥujurāt:12 – Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Crossing persepsi

Konflik dengan berbagai eskalasinya akan dapat terjadi hanya apabila persepsi tentang perbedaan kepentingan itu ada dan dipercayai bahwa pemuasan kepentingan satu pihak akan mengganggu pemuasan kepentingan pihak lain. Konsep persilangan (crossing atau kontroversi) ini jelas sangat membantu kita dalam mengelola konflik sehari-hari.

Dengannya, konflik antar anak-anak kita dapat diatasi dengan baik. Ketika si kakak menolak meminjamkan sepedanya kepada si adik yang ternyata disebabkan oleh ia berpersepsi bahwa ketika sepedanya dipakai si adik, dipastikan si adik tak mau memberi kesempatan pada si kakak untuk kembali memakainya. Maka kita sebagai ortu harus dapat memahami persepsi si kakak dan juga meluruskan persepsi si adik yaitu betapa pelitnya si kakak sehingga ketika ia meminjam sepedanya nanti, pasti dalam waktu singkat akan segera diminta kembali tanpa mempedulikan kepuasan bermainnya. Dengan memahami persepsi mereka, solusi dapat diberikan oleh ortu mereka dengan saling meluruskan persepsi dan membangun alternatif yang menguntungkan semua pihak. Maka pertengkaran antar kakak adik yang memusingkan akan dapat dimitigasi.

Demikian juga bagi Pemda yang sedang membangun ekonomi suatu daerah, atau perusahaan yang sedang mengelola masyarakat yang terdampak (project affected people) oleh keberadaan perusahaan dalam bungkus program-program Community Development-nya. Stakeholder yang beragam akan berpotensi melahirkan konflik yang akan menghalangi efektivitas program.

Dengan memahami persepsi tiap pihak, dan memahami dimana letak persilangan (crossing) antar persepsi yang akan melahirkan konflik dalam berbagai bentuk, Pemda atau perusahaan akan dapat menjalankan programnya dengan mulus. Benih konflik atau konflik di masa lalu dapat dengan mudah diselesaikan ketika persepsi ini dikelola dengan baik.

Tak perlu kita alergi dengan konflik. Dengan memahami manajemen konflik yang benar, apalagi dipandu dengan nilai-nilai Islami yang Allah turunkan, maka pengelolaan program CSR, pembangunan daerah, pengelolaan kelas di sekolah, pengelolaan antar tetangga di suatu RT, hingga mengelola lingerie mana yang akan dipakai oleh istri kita menjelang tidur; akan dapat terkelola dengan baik.

Konflik, sudahkah Anda berkonflik hari ini? (hatma/dakwatuna)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Tenaga ahli untuk business sustainability and locak-regional economic development. Saat ini Hatma sedang berkarya di suatu perusahaan minyak & gas nasional untuk mengelola: CSR, social engineering dan keberlanjutan bisnis (business sustainability) di aset-aset milik perusahaan tersebut. Dengan latar belakang Teknologi Pertanian (UGM) dan Magister Teknik Industri (UII), Hatma yang sedang menempuh pendidikan Ekonomi Islam di IOU (Qatar) ini mendapatkan pengakuan sebagai tenaga ahli di bidang Regional Economic Development dari pemerintah Jerman di 2010. Mengkonsentrasikan diri pada isu tentang business sustainability melalui pendekatan social engineering dan community development, pelbagai pelatihan dan sertifikasi baik di level nasional dan internasional telah diikutinya.

Lihat Juga

Keimanan Adalah Keberpihakan

Figure
Organization