Topic
Home / Berita / Rilis Pers / Nabi Ibrahim AS, Deklarator Peradaban Tauhid dan Tauladan Umat Manusia

Nabi Ibrahim AS, Deklarator Peradaban Tauhid dan Tauladan Umat Manusia

Ahmad Zainuddin, Lc.ME memberikan ceramah Idul Adha di Masjid Nurul Iman, Jalan Kesehatan no 7, Kompleks Pondok Bambu Permai-Pondok Bambu Dua, Jakarta Timur, Kamis (24/9/2015)
Ahmad Zainuddin, Lc.ME memberikan ceramah Idul Adha di Masjid Nurul Iman, Jalan Kesehatan no 7, Kompleks Pondok Bambu Permai-Pondok Bambu Dua, Jakarta Timur, Kamis (24/9/2015)

dakwatuna.com – Jakarta.  Hari Kamis (24/9/15), seluruh kaum muslimin di berbagai belahan dunia serentak melaksanakan shalat Idul Adha dan memotong hewan qurban. Sementara saat bersamaan, sekitar 2 juta umat muslim mendirikan shalat Idul Adha dalam rangkaian ibadah haji di Arab Saudi.

Ketua Lajnah Tadrid, Dewan Syariah Pusat (DSP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ahmad Zainuddin, Lc.ME mengatakan, peristiwa Idul Adha dan haji yang dijalankan kaum muslimin sedunia mengingatkan kembali tentang sejarah Nabi Ibrahim AS. Menurut Zainuddin, Ibrahim AS adalah sejarah seorang tokoh besar yang menjadi sentral umat manusia dan alam raya, yang Abul anbiya’ wal mursaliin (penghulu para nabi dan rasul).

Zainuddin melanjutkan, Nabi Ibrahim AS adalah yang membuka sekaligus memperkenalkan sebuah peradaban agung. Peradaban ummat manusia yang penuh dengan kemuliaan dan keberkahan. Peradaban yang tidak saja membawa kebahagiaan di dunia yang fana, tapi juga ketentraman dan kebahagiaan di akhirat yang baqa.

“Benar, dia adalah peradaban tauhid, yang hanya mengagungkan Allah, mengesakan Allah, memaha sucikan Allah, memanjatkan puja dan puji hanya kepada Allah. Dan itulah yang kita ulang-ulang di hari yang penuh dengan keutamaan ini. Dan Nabi Ibrahim mendeklarasikan peradaban yang mulia ini ke seantero dunia saat itu, tanpa khawatir dan tanpa rasa takut sedikitpun,” ujar Zainuddin dalam ceramah Idul Adha di Masjid Nurul Iman, Jalan Kesehatan no 7, Kompleks Pondok Bambu Permai-Pondok Bambu Dua, Jakarta Timur, Kamis (24/9/2015)

Ribuan jamaah kaum muslimin memadati lapangan depan masjid tersebut sejak pukul 05.30 WIB.
Berikut ceramah Idul Adha Ust Ahmad Zainuddin selengkapnya:


TAUHID DAN KETELADANAN

Jamaah Sholat Ied Rohimakumullah

Hari ini, pada detik ini, tiga juta lebih jamaah haji tengah melakukan mabit di Muzdalifah….dan sebentar lagi, saat matahari terbit mereka berbondong-bondong menuju Mina untuk seterusnya melempar jumrah aqobah, atau menuju Makkah untuk Thawaf Ifadhah. Mereka agungkan Allah atas kebesaran-Nya, mereka mahasucikan Allah dengan memanjatkan  puja dan puji hanya kepada-Nya, mereka esakan Allah dengan mentauhidkannya.

Hari ini, di pagi yang cerah ini, di halaman yang insya Allah penuh berkah ini, kita tundukkan kepala, kita tawadhu’kan jiwa dan raga, kita rendah diri sepenuh hati seraya berucap dengan tulus, Allahu Akbar, ya Allah engkaulah dzat maha besar, kami tidak berdaya, kami tidak punya apa-apa dan tidak punya siapa-siapa di hadapan kebesaran-Mu. Tiada tuhan yang wajib disembah kecuali hanya Engkau, hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan, maha suci Engkau dan hanya bagi-Mu segala puja dan puji

Allahu Akbar 3x Laailaaha illahu dst.

Jamaah Sholat Ied Rohimakumullah 

Rekaman sejarah itu kembali terulang, sejarah seorang tokoh besar yang menjadi sentral ummat manusia dan alam raya, Abul anbiya’ wal mursaliin Nabi Ibrahim as. Yang membuka sekaligus memperkenalkan sebuah peradaban agung. Peradaban ummat manusia yang penuh dengan kemuliaan dan keberkahan, Peradaban yang tidak saja membawa kebahagiaan di dunia yang fana, tapi juga ketentraman dan kebahagiaan di akhirat yang baqa. Benar, dia adalah peradaban tauhid, yang hanya mengagungkan Allah, mengesakan Allah, memaha sucikan Allah, memanjatkan puja dan puji hanya kepada Allah. Dan itulah yang kita ulang-ulang di hari yang penuh dengan keutamaan ini. Dan Nabi Ibrahim mendeklarasikan peradaban yang mulia ini ke seantero dunia saat itu, tanpa khawatir dan tanpa rasa takut sedikitpun:

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang berbuat syirik.(QS. Al An’aam: 79)

Deklarasi ini, tidaklah datang dengan tiba-tiba, tidaklah muncul dengan spontanitas. Sebagai pelajaran bagi ummat manusia saat itu, deklarasi ini melalui sebuah proses  panjang dan cukup melelahkan. Sebagaimana yang Allah kisahkan di ayat-ayat sebelumnya, Beliau melihat bintang gemintang yang indah di pandang, bulan purnama yang menyilaukan mata, juga matahari yang penuh dengan kekuatan dan energi. Semua bukanlah tuhan, dan sama sekali tidak layak untuk dijadikan sandaran kemuliaan dan kekuatan. Bintang bisa redup, bulan purnama bisa tenggelam, mataharipun di kala senja pasti akan terbenam.

Jadi siapapun yang mengandalkan bintang, memberhalakan bulan, mendewakan matahari, maka dia akan redup bersama redupnya bintang, akan tenggelam bersama tenggelamnya bulan dan akan terbenam bersama terbenamnya matahari. Dan betapa banyak manusia sekarang ini -semoga kita tidak termasuk di dalamnya- yang mengejar bintang bintang itu, kemudian tertipu karenanya, menggapai kebahagian dengan mengandalkan bulan-bulan itu dan kemudian sengsara karenanya. Betapa banyak yang mendewakan matahari, kemudian dia tersesat karenanya. 

Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. (QS. Al Baqoroh: 130)

Ma’asyirol Muslimin 

Kita kembali kepada tokoh sentral kita, Nabi Ibrahim. Setelah peradaban ini beliau umumkan, setelah aqidatut tauhid ini beliau deklarasian, datanglah tantangan demi tantangan ujian demi ujian, cobaan demi cobaan. Kerajaan besar yang ada pada saat itu, murka !, 

Raja dan hampir seluruh warganya tidak bisa menerima dakwah Ibrahim. Karena memang tauhid secara diametral bertentangan dengan syirik, sebuah keyakinan yang mereka anut saat itu,  apalagi pada saat yang bersamaan, Nabi Ibrahim menghancurkan patung-patung yang mereka sembah, dan membiarkan satu patung besar. Dan ini dimaksudnya untuk memancing mereka. Terjadilah diskusi dan perdebatan, dan dengan izin Allah, Nabi Ibrahim bisa mematahkan seluruh argumentasi mereka. Merekapun marah, dan dengan membabi buta mereka mengatakan.

Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”. (QS. Al Anbiya: 68)

Allah pun berfirman kepada api: 

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” (QS. Al Anbiya: 69)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Dakwah Islam Kewajiban Semua Muslim

Figure
Organization