Home / Berita / Analisa / Memahami Latar Belakang Terjadinya Tragedi Mina 2015

Memahami Latar Belakang Terjadinya Tragedi Mina 2015

mina12
Lokasi kejadian tragedi Mina 2015.

dakwatuna.com – Tampaknya pelaksanaan haji tahun ini sangat menyedihkan, musibah besar terjadi berulang kali, sangat layak di evaluasi. Setelah jatuhnya crane raksasa di Masjidil Haram, terbakarnya hotel jamaah haji Indonesia, hari ini terjadi musibah Mina, 150 wafat.

Belum ada info detail tragedi Mina kali ini, tapi tanggal 10 dan 12 Dzulhijjah memang saat yang krusial bagi jamaah haji. Sering terjadi musibah. Mengapa tanggal 10 dan 12 sangat krusial bagi jamaah haji? Ini terkait dengan pengaturan, mentalitas serta pemahaman jamaah haji itu sendiri.

Pada hari ke 10 Dzulhijjah, ada 4 manasik penting dalam haji, melontar jumrah aqabah, menyembelih dam, menggundul dan tawaf sai. Nah yang krusial adalah masalah melontar. Ketentuannya dilakukan setelah subuh, sunah pada waktu Dhuha. Tapi bisa dilakukan sore atau malam.

Masalahnya, saat itu kondisi fisik jamaah sudah melemah setelah perjalanan melelahkan sejak tanggal 8 dari Mina ke Arafah, lalu dari Arafah ke Muzdalifah. Semua dilakukan di tengah lautan manusia, lebih dari 2 juta, udara sangat panas dan dalam titik tertentu, sangat padat dan berdesak-desakan.

Yang sering terjadi, sebagian dari jamaah haji, dan itu jumlahnya bisa ratusan ribu, bahkan lebih dari 1 juta, memaksakan jalan dari Muzdalifah ke Mina. Biasanya yang seperti ini dari bangsa Afrika dan dataran India, serta mereka yang tidak memiliki tenda resmi. Perkiraan saya, korban dari jamaah RI sedikit.

Meskipun tidak tertutup kemungkinan ada juga jamaah RI yang jadi korban, tapi sekali lagi insya Allah sedikit dibanding jamaah dari negara lain.

Ada 2 tipe jamaah haji yang pagi-pagi berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina. Pertama mereka yang ingin laksanakan sunah haji secara strik, kurang fleksibel. Sunnahnya memang melontar pada hari ke 10 ini pada waktu Dhuha. Nah, banyak yang kejar sunah ini. Biasanya mereka dari daratan Afrika dan India.

Tipe ke 2 mereka yang tidak punya tenda resmi di Mina, biasa disebut haji koboi. Tidak ada pilihan, mereka jalan langsung ke Mina, kadang bawa tas besar. Adapun yang punya tenda, biasanya dari Muzdalifah, dapat singgah dulu sambil lihat-lihat suasana, setidaknya mereka bisa istirahat dan kumpulkan stamina.

Nah, kedua tipe ini yang cukup dominan adalah orang-orang dari dataran Afrika dan India; Pakistan, India dan Bangladesh, afwan bukan rasial. Ada juga sih dari negara-negara lain, termasuk dari Indonesia. Saya juga pernah sekali haji ngoboi. Ngga punya tenda. :)

Adapun jamaah haji yang resmi, umumnya mereka akan diangkut oleh bis khusus atau kereta ke tenda-tenda mereka terlebih dahulu.

Kembali ke pejalan kaki ini, yang khas juga dari sebagian mereka, adalah fisiknya tinggi besar, cenderung temperamental dan egonya lumayan. Masalahnya lagi, jalan dari Muzdalifah yang asalnya lebar dan banyak, mendekati Mina menjadi menyempit, semacam bottle neck gitu lah.

Menyempit di sini bukan berarti sempit banget seperti jalan-jalan di kita, jalannya sudah lebar, tapi untuk menampung jumlah besar, jadi terasa sempit. Nah, di sinilah yang sangat krusial. Jumlah ratusan ribu tiba-tiba datang seperti air bah, jalan menyempit, lalu terjadilah desak-desakan, ada yang panik, dll.

Temperamen keras dan tidak mau mengalah memperparah keadaan, ada kondisi fisik melemah, haus… akhirnya terjadi kepanikan, korban pun jatuh. Kadang kejadiannya sulit diperkirakan. Jamaah bisa begitu saja datang dalam jumlah besar, sedangkan di waktu lain, normal-normal saja.

Jadi, musibah kali ini bukan di jamarat, tapi di jalan menuju jamarat. Ini yang mungkin kurang di antisipasi dengan maksimal. Sebab yang fokus diperhatikan selama ini adalah jamarat. Karena sekian tahun yang sering terjadi musibah adalah di jamarat. Saat itu jamarat masih dua lantai. Tidak cukup menampung beban jamaah yang sangat besar, mudah terjadi desak-desakan, khususnya tanggal 10 dan 12 tersebut.

Namun sejak beberapa tahun lalu, masalah jamarat relatif teratasi dengan sangat baik setelah diperluas dan dibangun menjadi 5 lantai. Sehingga beberapa tahun terakhir ini, tidak kita dengar berita musibah dari jamarat. Info dari beberapa teman, tadipun jamarat normal.

Nah rupanya jalan menuju jamarat yang kini menjadi titik krusial. Sebenarnya banyak petugas yang mengarahkan atau mengatur. Cuma itulah, kadang ada sebagian jamaah haji yang sulit diatur. Beberapa tahun lalu, beberapa petugas meninggal karena membendung arus jamaah. Maksudnya untuk mengurangi kepadatan di jamarat. Namun apa daya, bendungannya tak kuat menahan arus jamaah yang menjebolnya. Tumbanglah mereka.

Memang berat, kalau sudah berada di pusaran kepadatan, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Minimal kita bertahan agar jangan jatuh. Kalau jatuh bahaya.

Jadi kesimpulannya, musibah ini terjadi di jalan menuju jamarat, karena desak-desakan dengan kondisi seperti yang saya sebutkan tadi. Jadi akumulasi kepadatan luar biasa, keletihan, suhu sangat panas, penyempitan jalan, dan sebagian karena memaksakan dan tidak taat aturan.

Betapapun ini adalah musibah, kita terima dengan ridha, tapi masalah evaluasi harus dilakukan, jika terbukti ada kelalaian harus dijatuhi hukuman. (dakwatuna/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Lihat Juga

Erdogan: Jangan Tutup-tutupi Fakta Pembunuhan Khashoggi