Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ketika Bertemu Preman di Pasar

Ketika Bertemu Preman di Pasar

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

pasardakwatuna.com – “Mau beli apa untuk Mas Heri, Nur ?”tanya salah satu teman relawan pendidikan satu timku.

“Entahlah, menurut kakak aku mesti beli apa?”Jawabku.

Beginilah percakapan itu dimulai ketika aku dan ketiga teman relawanku akan pergi ke Kantor Dompet Dhuafa Banten tadi. Mengingat bahwasanya salah seorang dari kami akan merayakan hari jadinya yang ke-25 tahun. Semakin membuatku bingung, ketika harus memilih antara membeli kue atau membeli hadiah ulang tahun.

Percakapanpun berhenti. Aku, anty dan kak Ulfa pergi ke pasar, sedangkan Sasni melanjutkan perjalanannya ke Kantor Dompet Dhuafa Banten dengan menggunakan angkot yang sama.

Sesampainya di pasar, kami mulai mencari hadiah untuk Mas Heri sang Team Leader Pandeglang. Kami melihat dan bertanya harga baju yang sudah kami sambangi. Mungkin sudah 10 toko pakaian laki-laki yang kami jajaki, tapi kami merasa tidak ada yang cocok untuknya.

Dan sampailah kami pada sebuah toko yang menjual segala macam bentuk Alquran. Terlintas dibenakku akan suara Mas Heri yang nian merdunya ketika membaca ayat-ayat cinta Allah SWT. Jadi kenapa tidak aku membelikan Alquran yang bisa bermanfaat untuknya. Konon lagi bisa berpahala pula ketika membacanya. Akhirnya aku memilih Alquran sebagai hadiah terindah dan teristimewa untuknya. Bahkan aku juga membeli Alquran mini yang sama warnanya dengan hadiah yang aku belikan. Hijau Tosca warnanya. Aku senang bisa membelikan Alquran itu padanya.

Setelah berkeliling lumayan lama, akhirnya sampailah pada sebuah toko yang menjual peralatan shalat serta baju koko laki-laki. Kak Ulfa mulai memilih dan bertanya soal harga bajunya. Setelah bernegosiasi, akhirnya kak Ulfa mendapatkan hadiah untuk mas Heri dan dia juga membeli mukena berbahan parasut. Selain dia yang belanja, Anty juga tak kalah membeli mukena dengan harga yang sama. Usai berbelanja baju koko dan mukena, kak Ulfa melirik baju batik, dia pun langsung memilih baju dan kembali bernegosiasi soal harga. Dan pada akhirnya dia juga membeli baju tersebut.

Berjalan menyusuri dagangan yang dijajakan di pasar itu kian membuatku merasa ingin berbelanja. Tapi apalah daya, uangku pun tak cukup untuk membeli kerudung yang aku idamkan. Kuurungkan niatku sejenak berbelanja. Khawatirnya aku tak punya uang untuk ongkos pulang ke Pandeglang.

Ternyata Anty belum mendapatkan hadiah untuk mas Heri, jadi kami harus berjalan mengelilingi pasar lagi. Yuuuppppzzz, akhirnya ketemu yang dicari Anty, jam tangan itu sepertinya cocok untuk mas Heri. Setelah memilih beberapa menit, pada akhirnya dia mendapatkan jam tangan yang cocok untuk mas Heri. Sebuah jam tangan berwarna hitam diletakkan di kotak transparan. Tak cukup membeli itu saja, aku dan Anty membeli headband ciput.

Lelah pun tak terasa ketika semua hadiah yang dicari sudah didapatkan. Perutpun mulai terasa lapar, kamipun memutuskan untuk makan siang di pasar. Makan siang dengan telur dadar, peyek udang dan gulai tahu tak lupa dengan sambalnya yang khas, cukup mengenyangkan dengan membayar Rp 10.000,- untuk itu semua.

Selesai makan kami mulai berjalan mencari angkot menuju ke Kantor Dompet Dhuafa Banten. Alhamdulillah, akhirnya ada angkot. Di dalam angkot ada supir angkot dan salah seorang penumpang laki-laki. Tanpa terasa laki-laki itu telah sampai ketujuannya dan turun dari angkot. Sekitar 10 menit beliau turun, tiba-tiba saja seorang preman masuk ke dalam angkot yang kami tumpangi dan segera dia meminta paksa kami untuk memberinya uang. Tampangnya yang sangar penuh dengan tato yang bergambar yang menyeramkan.

Dia memaksa kami dengan melepaskan topinya dan melemparkan di kursi penumpang agar kami mau memberinya uang. Ya Allah, seketika itu aku langsung mengambil tas yang awalnya di depanku tepat di sebelah preman itu. Aku khawatir apabila dia akan merampas tasku. Jadi aku langsung memindahkan tasku itu. Aku semakin takut melihat raut wajahnya. Aku merasa trauma dengan bertemu preman seperti itu. Bisa saja dia membawa senjata tajam dan bahkan secara tidak sadar dia mungkin menusukkan senjata tajam itu ke kami, pikirku dalam hati. Setelah kami memberinya uang, dia pun keluar seketika dari mobil itu. Dan kamipun merasa lega setelah dia turun. Aku sangat takut. Aku merasa sepertinya itu adalah kejadian yang menjadikan aku harus lebih berhati-hati lagi untuk bepergian meskipun aku tidak sendiri.

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Relawan Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa. Penempatan Kab. Pandeglang-Banten.

Lihat Juga

Bendera, Literasi, dan Titik Temu