Home / Narasi Islam / Dakwah / Dakwah Adalah Tentang Seni

Dakwah Adalah Tentang Seni

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com –   Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Bismillahirrahmanirrahim.

Tanpa dakwah akan terasa hampa hidup kita,

Tanpa dakwah tak akan pernah kita rasakan ukhuwah yang begitu mesra dan indah,

Tanpa dakwah takkan kita rasakan perjuangan Nabi dan sahabat dulu dalam memperjuangkan agama ini, memperjuangkan tegaknya kalimat Allah di bumi ini,

Tanpa dakwah takkan kita sadari cinta-Nya kepada hamba-hamba yang menolong agama-Nya,

Tanpa dakwah kita bukanlah apa-apa dan bukan siapa-siapa.

Tanpa dakwah kita tak tahu artinya Cinta.

Saya sangat menyadari benarnya kalimat-kalimat tersebut. Ya, tanpa dakwah akan terasa hampa hidup kita karena dengan dakwah-lah hidup kita penuh warna. Dalam barisan dakwah inilah saya rasakan berbagai pengalaman baru, saya dapatkan keluarga yang baru yang kami saling menyayangi karena-Nya. Saya dapatkan arti hidup yang sebenarnya untuk kehidupan ini.
Khoirunnas anfa’uhum linnas (Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lainnya)
Kalimat itulah yang sering didengungkan oleh salah seorang ustadz.

Yang lebih Allah tegaskan lagi dalam surat cinta-Nya:

Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. (QS. Al-Asr; 103: 1-3)

Saya Mengerti.

Dakwah adalah seruan.

Dakwah adalah ajakan.

Dakwah adalah seni. Bagaimana menyeru orang yang tak tahu bahkan mungkin yang apatis terhadap Islam berputar 180 derajat menjadi orang yang simpati terhadap dakwah Islam dan siap memperjuangkan serta membela Islam.
Ah, begitu masih dangkalnya ilmu saya tentang Seni dalam berdakwah.
YA, tanpa dakwah takkan kita rasakan perjuangan Nabi dan para sahabat dahulu dalam memperjuangkan agama ini, memperjuangkan tegaknya kalimat Allah di bumi ini.

Kita patut berbangga dan meneladani cara Rasulullah SAW dalam berdakwah karena beliau memiliki Seni berdakwah yang bernilai tinggi. Betapa banyak dari deretan nama shahabat dan shahabiyah beliau dalam menegakkan Islam di bumi Allah ini yang ternyata sebelum mendapatkan hidayah adalah orang-orang yang apatis bahkan dengan tegas menentang seruan Rasulullah. Seperti hal nya Umar Ibnul Khattab yang sudah sampai pada puncak kebenciannya terhadap dakwah Rasulullah sehingga dia bersiap untuk membunuh baginda Nabi tapi hidayah Allah mengetuk hati beliau sehingga sampai detik ini kita kenal beliau (Umar) sebagai salah satu sahabat dekat Rasulullah, salah satu dari empat Khalifah sepeninggal Rasulullah dan Pejuang tangguh dakwah Islam.

Begitu indahnya seni dakwah Rasulullah. Dengan kelembutan dan kasih sayang beliau
Terhadap orang yang selalu meludahinya ketika beliau berjalan ke masjid. Beliau tak pernah marah apalagi membalasnya, sebaliknya beliau jenguk ketika orang itu sakit beliau doakan ia agar cepat sembuh. Maka tak heran orang tersebut berbalik mencintai Rasul-Nya.

Dengan kesabaran dan keikhlasan beliau. Berdakwah tak semudah mengedipkan mata atau membalik telapak tangan. Teringat kisah Nabi Muhammad SAW ketika hendak menyeru penduduk Thoif dan mengajak Kabilah Tsaqif masuk Islam.

Apa yang beliau dapatkan? Perkataan menenangkan? Sambutan hangat? Pelukan kasih sayang? Jamuan yang istimewa?
Bukan!
Bukan itu yang beliau dapatkan!
Yang didapatkan baginda Nabi adalah: Beliau dapati caci maki, Beliau dapati ejekan, Beliau dapati lemparan batu, Beliau dapati darah atas luka-lukanya. Hingga akhirnya, Rasulullah harus berlindung di kebun milik ‘Utbah bin Rabi’ah.
Saat itu, Rasulullah SAW berdoa,

“Ya Allah kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkaulah Pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapa diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku?
Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akhirat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan dan mempersalahkan diriku. Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu.”
Dari doa ini tentu semua begitu merasakan betapa beratnya cobaan Rasulullah SAW saat itu dalam menghadapi penganiayaan dengan penuh ridha, ikhlas dan sabar, serta tidak pernah berputus asa. Siapa yang tidak meneteskan air mata menyimak dan merasakan apa yang beliau alami itu.
Seperti sejumlah cerita yang diriwayatkan kembali oleh Ulama Hadist terkenal, Imam Bukhari dan Muslim dari Asiyah RA.
Ia (Aisyah) berkata, “Wahai Rasulullah SAW, pernahkah engkau mengalami peristiwa yang lebih berat dari peristiwa Uhud?” Jawab Nabi saw, “Aku telah mengalami berbagai penganiayaan dari kaumku. Tetapi penganiayaan terberat yang pernah aku rasakan ialah pada hari ‘Aqabah di mana aku datang dan berdakwah kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kilal, tetapi tersentak dan tersadar ketika sampai di Qarnu’ts-Tsa’alib.
Lalu aku angkat kepalaku, dan aku pandang dan tiba-tiba muncul Jibril memanggilku seraya berkata, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan dan jawaban kaummu terhadapmu, dan Allah telah mengutus Malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu.”

“Kemudian Malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku lalu berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah Malaikat penjaga gunung, dan Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka.”
Begitu buruknya perlakuan penduduk thoif terhadap Baginda Nabi sehingga mudah saja bagi Nabi untuk membalas perlakuan kejam mereka. Tapi tidak. Beliau tidak melakukannya. Sebaliknya Rasulullah SAW menjawab, “Jangan! Bahkan aku menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, dengan sesuatu pun.”

Lihat…

Betapa sabar dan ikhlasnya Rasulullah menghadapi ujian demi ujian dalam berdakwah. Ujian terberat sekalipun beliau hadapi dengan dada yang lapang, kesabaran yang luas dan keikhlasan yang murni serta keyakinan yang mantap akan datangnya petolongan Allah azza wa jalla.
Sebagai aktivis dakwah, ujian apa yang telah kita terima? Sudahkan mencapai titik seperti yang Baginda alami?
Belum!

Baru seujung kuku mungkin jika mau dibandingkan dengan apa yang Nabi terima.

Terlalu cepat untuk berkata lelah dijalan ini sedang pendahulu-pendahulu kita masih tetap semangat berjuang dalam dakwah.

Terlalu dini untuk merasa cukup berkontribusi dalam barisan dakwah ini sedang Qiyadah kita tak pernah berhenti berpikir dan bergerak untuk kemenangan dakwah.

Terlalu lemah jika kita katakan kita terlalu sibuk mengurus hidup kita, masalah kita, sedang Ikhwah yang lain masih banyak yang jauh lebih sibuk dibanding diri kita.
“Nahnu Du’aat qobla kulli syay’ (Kita adalah Dai sebelum menjadi apapun)”
Kalimat itulah yang selalu terngiang di telinga saya dan terikat dalam pikiran saya sehingga sampai detik ini saya masih bertahan dalam barisan dakwah ini, Alhamdulillah. Kalimat seorang Qiyadah yang seakan saat beliau sampaikan pada kami sebagai nasehat dengan serta merta mengambil tempat dalam kepala dan hati saya bahkan juga yang lain mungkin dan kalimat tersebut menjadikan “dirinya” sebagai mindset yang harus dimiliki seorang aktivis dakwah, seorang Dai.

Ingat Ikhwah…
Istirahat kita para aktivis dakwah adalah di surga-Nya kelak dan akan kita dapati kesenangan yang abadi in sya’a Allah. Bertemu dan melihat wajah-Nya. Berjumpa Baginda tercinta kita Muhammad SAW yang senantiasa kita rindukan. Berkumpul dengan para sahabat dan sholihin serta orang-orang yang kita cintai.
Firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad; 47: 7)
Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Qs. Al imran ; 3 : 104)

Keberuntungan yang akan kita dapatkan dari menjalankan dakwah ini berupa keberuntungan di dunia dan di akhirat. Kita akan mendapatkan hikmah berupa nikmatnya Islam, iman dan ukhuwah yang semakin menyubur seiring dengan pertumbuhan dakwah dalam hati kita dan orang-orang yang bergabung dalam barisan dakwah ini. Inilah yg akan kita peroleh, tatkala kita mau menjadi penerus para Nabi untuk menegakkan dan meninggikan kalimatullah, menyebarkan kebenaran, mencegah kemungkaran dan menghancurkan kedzaliman. Lebih dari itu semua, akan kita dapatkan Cinta Allah yang begitu besar terhadap orang-orang yang mau berdakwah dan berjihad di jalan Allah. Allahu Akbar!!!

 

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Lulus dari Univ. MH. Thamrin tahun 2014 jurusan Management dan saat ini bekerja di perusahaan media sosial. Bergabung dalam Alumni LDF Al-Iqtishod Univ. MH. Thamrin. Aktif sebagai Ketua Departemen PeTiKan (Penyuluhan, Pelatihan dan Pendidikan) Muslimah Center @_muslimahcenter

Lihat Juga

Dakwah Islam Kewajiban Semua Muslim

Figure
Organization