Topic
Home / Berita / Nasional / Ibu Kandung Anak yang Disetrika: Allah Maha Pemurah, Tapi Saya Tidak!

Ibu Kandung Anak yang Disetrika: Allah Maha Pemurah, Tapi Saya Tidak!

Stop kekerasan terhadap anak - ilustrasi.  (rmol.co)
Stop kekerasan terhadap anak – ilustrasi. (rmol.co)

dakwatuna.com – Jakarta – Amarah Sri Ningsih, 40 tahun, akhirnya tumpah juga. Dia meluapkan kekesalannya yang disimpan selama satu tahun terakhir. Dia sampai berjanji tak akan memaafkan perempuan yang ditemuinya di kantor Kepolisian Resor Jakarta Timur, Ahad 22 Maret 2015.

“Walaupun Allah Maha Pemurah, tapi saya tak akan bermurah dengan dia (Suhaeni),” kata dia saat ditemui Tempo di Duren Sawit, Jakarta Timur, Rabu, 25 Maret 2015. Menurut Sri, kesalahan Suhaeni sudah berkali lipat banyaknya. Awalnya, Suhaeni merebut suaminya (Uka, 42 tahun) dengan nikah siri setahun lalu.

Lalu, Suhaeni menyuruh Uka membawa paksa anak bungsu Ningsih, DA, 9 tahun, dari sekolah. Gara-gara Suhaeni, kata dia, anak keduanya sempat putus sekolah di STM karena stres menanggung beban masalah keluarga.

Tak sampai di situ, DA ternyata mendapat perlakuan buruk dari Suhaeni. Puncaknya, pipi kiri DA disetrika karena dianggap tak menuruti perkataan Suhaeni. “Perempuan mana yang sanggup memaafkan perempuan begitu,” kata dia.

Sri sempat meneriakkan umpatan pada Suhaeni. Hampir pula dia menjambak Suhaeni. Tapi, hal itu tak terjadi karena ditahan oleh orang-orang yang ada di unit PPA, Polres Jakarta Timur. “Kesel saya sudah lebih dari ubun-ubun,” kata dia.

Dia juga mengaku kesal dengan suaminya karena sempat membela Suhaeni. Suaminya sempat ingin mencabut tuntutan Suhaeni, tapi hal ini jelas dilarang keras olehnya. “Jika dia ketahuan bela lagi, saya juga akan tuntut dia,” geramnya.

Saat ini Sri fokus memulihkan kondisi fisik dan psikis DA. Masih banyak perjalanan yang harus dilewati DA untuk sembuh. Dokter bedah yang memeriksanya mengatakan bahwa DA harus melakukan bedah plastik untuk mencegah adanya bekas di pipinya.

DA juga harus pergi ke psikolog untuk menyembuhkan kondisi mentalnya yang trauma. “Jika saya mengingat hal ini, saya jadi kembali marah,” kata dia. (tempo/sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

UNICEF: Di Yaman, Satu Anak Meninggal Setiap 10 Detik

Figure
Organization