Home / Berita / Internasional / Australia / Inilah Kondisi Pulau di Vanuatu Sebelum dan Sesudah Badai Pam Lewat Jepretan dari Udara

Inilah Kondisi Pulau di Vanuatu Sebelum dan Sesudah Badai Pam Lewat Jepretan dari Udara

Kondisi pulau vanuatu sebelum dan sesudah diterjang badai pam.  (viva.co.id)
Kondisi pulau vanuatu sebelum dan sesudah diterjang badai pam. (viva.co.id)

dakwatuna.com – Seorang pilot Australia yang bekerja di Vanuatu telah memotret kondisi kehancuran yang ditinggalkan Badai Pam, dalam serangkaian foto yang diambil sebelum dan sesudah badai datang.

Badai kategori lima itu menghantam kepulauan Pasifik tersebut pada tanggal 13 dan 14 Maret, meratakan sebagian besar wilayah Vanuatu.

Kapten William Dyer menerbangkan pesawat ‘Air Vanuatu’ carteran yang membawa para petugas bencana, ketika ia mengambil foto-foto dari udara.

“Ini bukan potongan yang lengkap – sebenarnya ada kerusakan hutan total di beberapa tempat,” ujar sang kapten.

Tim telah melakukan penilaian udara atas kelompok Kepulauan Sheppard di Provinsi Shefa, yang terletak di antara pulau utama Efate dan Epi sebelah utara.

“Kepulauan Sheppard terkena cukup parah karena medannya cukup curam sehingga ada banyak daerah yang terkena. Ini membuat kondisi di sana menjadi cukup keras, bukan hanya untuk warga yang tinggal di sana, tapi untuk ekosistem juga,” jelasnya.

Pilot berusia 27 tahun ini telah menerbangkan pesawat ‘twin otter’ untuk maskapai nasional ‘Air Vanuatu’ selama hampir dua tahun.

Sementara ia telah melihat beberapa badai, ia mengatakan belum ada yang menyebabkan kerusakan sebanyak badai kali ini.

“Saya terkejut ketika saya ditarik keluar ke parkiran bandara di [Pulau] Emai dan melihat betapa buruknya itu,” ungkapnya.

Ia mengutarakan, “Saya pikir saya lebih baik mengambil foto sehingga orang-orang bisa melihat, karena saya pikir lebih mudah untuk memahami betapa berat badai itu jika Anda memiliki foto sebelum dan sesudah bencana sebagai perbandingan.”

Ia mengatakan, beberapa foto asli diambil untuk ditunjukkan ke keluarganya di Queensland tentang betapa indahnya negara ini (Vanuatu).

“Foto yang dekat pohon mangga, saya mengambilnya untuk dikirim ke rumah buat ibu sambil bilang, ‘Lihat kamu bisa ambil mangga selama belok’,” ujar pilot William.

“Ini adalah tempat yang sangat indah dan saya pikir itu keren,” tambahnya.

Kapten William mengatakan, ia berharap agar foto-fotonya tak mengirimkan pesan yang salah kepada calon wisatawan.

Ia mengungkapkan, di luar provinsi selatan Shefa dan Tafea, banyak daerah relatif tak terdampak.

“Selain terkena sedikit sisa badai, [Espiritu] Santo masih seperti sebelumnya – sangat indah. Penting bagi orang-orang untuk tahu bahwa tempat ini masih bagus untuk didatangi,” jelasnya.

Ia mengatakan, dirinya yakin bahwa pulau-pulau yang terkena dampak terburuk akan pulih dengan cepat.

“Ini akan menjadi hijau kembali dalam beberapa bulan. Ini tidak akan sama tapi akan menjadi bagus lagi,” sebutnya.

Kementerian Pariwisata Vanuatu telah menyarankan para pengunjung untuk menunda perjalanan ke ibukota Port Vila hingga 18 April.

Sebanyak 17 hotel, saat ini, beroperasi di ibukota Vanuatu, tetapi pihak berwenang mengatakan, sebagian besar kamarnya ditempati oleh para pekerja lembaga donor.

“Tak ada banyak kamar di sini sekarang,” kata Tiffany Carroll, juru bicara Air Vanuatu.

Namun ia menekankan bahwa industri pariwisata di pulau Santo, di utara, beroperasi seperti biasa.

“Jangan membatalkan liburan Anda. Jika Anda datang ke Port Vila atau Tanna, justru pergi ke Santo saja. Tentunya tak perlu dibatalkan. Kami perlu wisatawan untuk kembali ke negara ini – Itu salah satu lapangan kerja terbesar di Vanuatu,” terangnya.

Penerbangan domestik di Vanuatu kembali ke jadwal normal pada hari Minggu (22/3). (viva/sbb/dakwatuna)

 

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

ASPAC Forum 3 Pertemukan Kembali NGO Palestina Se-Asia Pasifik