Topic
Home / Berita / Daerah / Sukita, 7 Tahun Hidup di Kandang Sapi Bersama Suami yang Lumpuh

Sukita, 7 Tahun Hidup di Kandang Sapi Bersama Suami yang Lumpuh

Di kandang sapi inilah Sukita (77) menghabiskan hari-hari tuanya.  (kompas.com)
Di kandang sapi inilah Sukita (77) menghabiskan hari-hari tuanya. (kompas.com)

dakwatuna.com – Malang.  Sukita (77), bersama suaminya Buari (71), warga Dusun Baran Temboro, Desa Baran Temboro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur, sudah tujuh tahun tinggal di kandang bersama dua ekor sapi yang mereka rawat sejak kecil. Suami Sukita, Buari yang diharapkan dapan membantu menopang hidup, sudah tiga tahun menderita sakit lumpuh.

Sukita dan Buari dikaruniai tujuh anak, yakni Sunarti (40), Kholik (35), Marsiyah (33), Siti Aisyah (31), Husni (30), Tuka (29), Ngatmina (27). Namun, hanya Ngatmina yang hidup bersama Sukita dan Buari.

Lokasi kandang sapi yang menjadi rumah Sukita terletak di belakang rumah Ngatmina. Rumah Ngatmina terlihat relatif layak huni. Jika siang hari Sukita dan Buari tinggal di tempat anaknya tersebut. Setiap hari, Sukita bekerja menjadi tukang pijat tradisional.

“Jika ada orang yang akan pijat, saya tempatkan di anak saya (Ngatmina). Jika malam, saya tidur di kandang sapi yang sekaligus rumah saya ini. sudah tujuh tahun saya tinggal di sini. Suami saya tinggal di rumah Ngatmina, sejak tiga tahun lalu. Karena sakit dan tidak bisa ke sawah lagi,” kata Sukita, Kamis (12/3/2015).

Biaya untuk makan sehari-harinya, Sukita ditopang dari bantuan anaknya Ngatmina yang membuka toko kelontong. Selain itu, ada pula penghasilan pijat tradisional yang dibuka di rumah Ngatmina. “Kadang dapat Rp 20.000 per hari jika ada orang yang pijat,” kata dia.

Selain itu, setiap harinya Sukita dan suaminya dibantu beras rakskin yang dapatnya dari pemerintah desa setempat. “Berasnya makan beras dapat dari kantor desa itu,” kata dia.

Sukita mengaku pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah senilai Rp 300.000. “Setelah itu tidak dapat lagi sampai sekarang,” kata dia.

Kondisi rumah Sukita juga pernah dilihat langsung oleh pemerintah setempat untuk direnovasi. Namun, sampai sekarang tak juga dibangun. “Dulu pernah difoto oleh orang dari Pemerintah. Katanya mau dibantu. Tapi sampai sekarang belum ada. Saya pasrah. Saya menerima apa adanya dari kerja pijat dan dikasih makan anak saya walau sudah janda,” kata dia.

Di dalam rumah berdinding bambu itu hanya ada peralatan masak dan satu unit televisi yang sudah tidak bisa hidup. Di dalam kandang, pada salah satu sisinya dibuat untuk tempat dua ekor sapi. Di depannya tempat pakan dua ekor sapi yang bersebelahan dengan pintu masuk rumah.

Sisi bangunan sebelah kanan tepat di samping kandang disekat dengan dinding bambu. Di situ digunakan keluarga Buari untuk memasak menggunakan tungku kayu bakar. Di depannya diletakkan meja untuk menaruh makanan, sekaligus berhimpitan dengan tempat tidur.

Camat Kedungkandang Haryoto mengaku sudah mengetahui kondisi Sukita dan suaminya yang hidup di kandang sapi. “Saya sudah mengajukan program bedah rumah Pak Buari. Saya berharap bisa segera terealisasi, sehingga Buari bisa hidup layak,” kata dia.

Menurut Haryoto, pengajuan tersebut telah dilakukan sejak dua tahun lalu. Namun, hingga kini langkah tersebut belum terealisasi karena Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri yang bakal digunakan untuk mendanai justru dipakai membangun paving jalan di desa setempat.

“Setelah dajukan, anggarannya malah dibuat untuk paving. Sekarang sudah diajukan lagi. Semoga segera dicairkan. Kasihan mereka sudah lama hidup di kandang sapinya,” kata dia. (kompas/sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Meraih Kesuksesan Dengan Kejujuran (Refleksi Nilai Kehidupan)

Organization