dakwatuna.com – Hari itu terasa begitu indah, ku hirup udara pagi di kota tercintaku yakni kota Karawang. Pagi ini aku bersama teman kerja berencana ke sebuah daerah di Jakarta, kami berdua merencanakan untuk memakai transportasi paling banyak pemakainya di negeri ini yakni kereta api.

Pada dasarnya perjalanan dengan kereta api ini bukan barang baru bagiku karena dulu ketika masih kuliah di bilangan selatan Jakarta tak jarang gunakan moda transportasi ini. Ada sesuatu yang tak bisa dihilangkan dari kereta yakni orang-orang yang ada di dalamnya.

Pagi itu kereta agak telat untuk berangkat, sekitar 10 menit dari jadwal keberangkatan. Kami mencari tempat duduk yang cukup nyaman, Alhamdulillah akhirnya kami menemukan tempat yang cocok.

Sekitar pukul 06.40 akhirnya kereta menunjukkan tanda mulai berangkat. Ketika mulai berangkat datang dari arah pandangan kami orang tua dari murid kami ternyata juga melakukan perjalanan menuju Jakarta, namun kami berbeda stasiun. Dalam perjalanan itu kami berbincang banyak hal, mulai dari pembicaraan di sekolah hingga pembicaraan mengenai sekelumit permasalahan negara namun dari sudut pandang pendidikan.

Kemudian saya memandang sekeliling kami, ternyata banyak sekali orang dengan profesi berbeda. saat itu terlintas di pikiran suatu kata yakni mana tanggung jawabmu!! Lantas kemudian saya berfikir benar juga mana tanggung jawab kita? Ketika mungkin sebagian besar dari kita merasa tenteram sekali bisa berdzikir setiap saat, bisa mengikuti ta’lim, bisa mendapatkan informasi yang benar tentang Islam sehingga memahami agama ini dengan baik, namun di sekitar ruangan ini.. ya.. sekitar gerbong ini yang jumlahnya mungkin kurang dari 80 orang, sudahkah hari ini mendapatkan kelezatan shalat subuh berjamaah, membaca dzikir yang sesuai sunnah atau sedekah atau yang lain atau mereka sudah mendapat informasi lengkap mengenai agamanya sendiri tentang Islam? Jika belum maka jangan salahkan mereka, ketika nafsu pikirannya telah dijadikan Tuhan sehingga dengan bebas berkata semua agama benar padahal kita tahu Islam adalah agama yang paling benar, kemudian jangan salahkan mereka ketika mereka berucap pornografi adalah sebuah seni dan budaya tinggi padahal kita tahu bagaimana aurat itu dan hukum jika dibuka untuk bukan muhrimnya, jangan salahkan mereka jika kemudian mereka membela mati-matian diskotik karena dari sana penghidupan mereka padahal kita tahu menunjuk tempat haram saja sudah termasuk bagian , jangan salahkan waria yang mengajukan hak persamaan padahal kita tahu banci itu dilaknat Allah…

Inilah yang kemudian seakan menohok jiwa saya.. Saat itu saya tersadar sekali bahwa ini semua adalah tanggung jawab dari kita semua untuk memberikan informasi Islam ini dengan baik. Bukankah kita itu akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah atas segala yang kita lakukan selama hidup. Jika hari ini kita tetap membiarkan kejahiliyahan merajalela, jika selama ini kita tetap membiarkan maksiat itu semakin sistemik maka rugilah kita hidup.. Rugi sekali karena jika lingkungan sekitar tak pernah kita dakwahi, maka azab itu akan dimulai pertama kali dari orang yang taat kepada Allah karena ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Maka di sinilah perlunya memahami kesalehan sosial itu penting.

Wallahu’alam