Home / Narasi Islam / Hidayah / Singgasana Sang “Bintang”

Singgasana Sang “Bintang”

Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun.” Said bin Amir Al Jumahi mengucapkan lafazh ini saat menerima bantuan 1000 dinar, karena namanya tercantum dalam daftar para fuqara saat musibah kelaparan melanda daerah Hims, Syiria.

Pada abad ke 18 H, bencana kelaparan hebat melanda wilayah Arab Utara. Khalifah Umar Radhiyallahu ‘anhu melewati hari-harinya tanpa istirahat dan tidak bisa tidur memikirkan cara menanggulangi bencana tersebut. Ia bersumpah tidak akan menyentuh susu dan mentega sampai kelaparan berakhir. Bencana itu disusul dengan wabah sampar mematikan yang menyebar ke Syria.

Musibah dan bencana itu hanya menyisakan kesedihan dan kepedihan. Betapa tidak, sekian orang yang dicinta telah tiada. Harta benda terjual habis untuk mengatasi rawan pangan itu. Bahkan segenap pikiran tercurah untuk meratapi diri. Kondisi yang menyayat ini sangat mengagetkan Khalifah Umar ra. daerah Hims Syiria secara merata dilanda bencana kelaparan yang luar biasa. Segera, berita ini mendorong khalifah mengirimkan para petugas untuk melihat keadaan di sana sekaligus melakukan pendataan korban yang layak memerlukan bantuan.

Namun alangkah terkejutnya Khalifah saat mengetahui di antara ribuan orang yang termasuk dalam daftar orang-orang miskin dan kelaparan, terdapat nama Sa’id ibn Amir Al Jumahi. Beliau sendiri adalah Gubernur Hims, daerah yang dilanda bencana kelaparan tersebut.

Kemudian khalifah memanggil utusannya untuk klarifikasi prihal validitas data dalam daftar tersebut. Apakah daftar itu dibuat-buat atau memang sahih, ternyata hasil temuan itu adalah fakta di lapangan. Utusan itu mengukuhkan temuannya bahwa faktanya selama berhari-hari mereka tidak melihat dapur Sang Gubernur mengepul walau sekali. Atas dasar itulah Al Jumahi dimasukkan dalam daftar orang-orang yang memerlukan bantuan.

Lalu, khalifah menanyakan bagaimana roda pemerintahan di sana dijalankan. Subhanallah. Meski, gubernurnya miskin dan kelaparan, provinsi Hims tetap berjalan sebagaimana mestinya. Kenyataan tersebut tidak dapat menutupi rasa haru yang mendalam di dada Khalifah. Dengan meneteskan tangis kesedihan, khalifah menyatakan dirinyalah yang bersalah membiarkan rakyatnya kelaparan. Bahkan gubernurnya sendiri termasuk dalam musibah itu.

Segera khalifah mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Hims. Dititipkanlah sekantung khusus untuk Sang Gubernur dari Khalifah Umar ra., berisi uang sebesar 1000 dinar (kira-kira setara dengan 6 juta rupiah). Semua bantuan telah disampaikan dan diterima, baik oleh masyarakat demikian pula titipan khusus untuk Sang Gubernur.

Menerima titipan khusus sebesar 1000 dinar, bukannya merasa gembira, Sa’id ibn Amir malah merasa menerima musibah. Dipanggil segera istrinya menghadapnya, untuk menyampaikan musibah tersebut. Inna lillahi Wa Inna illaihi Raji’un. Kenapa gerangan? Bagi Sa’id bin Amir, menerima uang sebanyak itu, di tengah krisis yang mendera rakyatnya adalah musibah yang berat. Oleh karena itu, setelah disisihkan seperlunya, ia sumbangkan kembali sisanya kepada rakyatnya.

Begitulah tinta emas sejarah dituliskan bukan dengan kata-kata apalagi jargon-jargon kosong tanpa makna. Al Jumahi ra melakoni semuanya karena karakter pemimpin di dalam dirinya sudah demikian meresap. Tidak dalam rekayasa tebar pesona maupun membangun citra positif di hadapan rakyatnya. Keteladanannya mengemuka lebih dikarenakan faktor ketakwaannya kepada Allah swt.

Lihatlah tatkala inspeksi dilakukan Umar ra ke di Hims­, banyak komplain, keluhan dan ketidakpuasan penduduknya, baik dari kalangan jelata maupun birokrasinya terhadap kinerja Gubernur Sa’id bin Amir. Aduan para penduduk mengindikasikan 4 hal yang menjadi keluhan mereka atas diri Gubernur Sa’id bin Amir.

Satu adegan langka yang mungkin hanya terjadi di zaman Umar. Klarifikasi dilakukan Umar dengan mempertemukan gubernur dan warganya dalam satu majelis terbuka. Sebuah pemandangan yang tidak mungkin terjadi di zaman sekarang ini. Kalaupun terjadi tentunya terikat kebiasaan protokoler, dan cenderung seremonial, mungkin kunjungan-kunjungan para elite pejabat ke daerah, justru akan lebih membebani anggaran.

Mungkin dana untuk membiayai perjalanan dan kunjungan, ikut membengkak. Nilainya tak mustahil berlipat ganda. Lebih dari cukup untuk membeli beras dan bahan makanan bergizi dan bernutrisi baik yang dibutuhkan para penderita rawan pangan. Tanpa membesar-besarkan “buruk sangka”, sejak dulu di negeri ini beredar pemeo “pejabat datang melayat, rakyat makin melarat”. Ya, karena dana untuk mengatasi kemiskinan khalayak, tersita oleh kegiatan protokoler dan seremoni di tempat yang dikunjungi.

Namun tidak demikian dengan Khalifah yang bijak ini. Tatap muka tetap berjalan dalam suasana bersahaja, egaliter dan saling menghormati. Sehingga temu rakyat dan pemimpinnya ini berjalan lancar tanpa basa basi.

Tatkala semuanya telah berkumpul, Umar bertanya, “Apa yang kalian keluhkan terhadap pemimpin kalian?”

“Ia tidak pernah menemui kami kecuali telah siang hari.” Keluh warga.

“Apakah benar yang mereka kata­kan, ya Said?” tanya Umar kepada Sa’id.

“Demi Allah, se­benarnya aku tak ingin mengatakannya. Tetapi karena itu harus dikatakan, baiklah. Keluargaku tidak mempunyai seorang pem­bantu, sehingga setiap pagi aku harus membuat adonan roti untuk mereka, menungguinya hingga matang dan membagikannya kepada mereka, kemudian aku berwudhu dan baru aku keluar menemui rakyatku.” Ja’wab Sa’id.

“Ia tidak pernah mau ditemui pada malam hari?” keluh warga lagi.
“Apakah benar yang mereka kata­kan, ya Said?” tanya Umar
“Demi Allah, sebenarnya aku juga tak ingin me­ngatakannya. Aku telah memberikan waktu siangku untuk mereka dan waktu malamku untuk Allah.”

“Apa lagi yang kalian keluhkan atasnya?” tanya Umar kepada warga Hims.
“Setiap bulan, ia tidak menemui kami satu hari?” Jawab warga
“Apa lagi ini, ya Said?” tanya Umar heran.
“Aku tidak mempunyai pembantu, ya Amirul Mu’minin. Dan aku tidak mempunyai sehelai kain pun kecuali yang aku kenakan ini, sehingga aku harus mencucinya setiap bulan dan aku menungguinya hingga kering untuk dipakai kembali. Dan setelah itu, aku keluar menemui mereka di sore hari.”

“Apa lagi yang kalian keluhkan atasnya?” Umar melanjutkan pertanyaannya.

“Wajahnya selalu murung dan sedih, sehingga membuat orang-orang keluar dari majelisnya.” Keluh warga selanjutnya.
“Apa yang terjadi pada dirimu, ya Said?” Umar kembali heran.
“Dahulu, aku melihat kematian Khubaib bin Adi dan waktu itu aku masih musyrik. Dan aku melihat kaum Quraisy memotong-motong tubuhnya dan mereka berkata kepadanya, ‘Relakah engkau jika Muhammad menempati posisimu ini?’ Khubaib menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak akan rela jika aku selamat untuk keluarga dan anak-anakku sedang Muhammad ditusuk duri.’ Demi Allah, aku selalu terbayang akan hari itu, bagaimana aku tidak menolongnya, aku amat khawatir Allah tidak akan mengampuniku. Itulah yang sedang menimpaku sampai saat ini.”

“Mahasuci Allah yang tidak membuatku su’uzhan kepadanya.” Kagum Umar atas semua jawaban Sa’id. Kemudian Umar memberikannya seribu dinar untuk meme­nuhi kebutuhannya. Ketika istri Said melihat hal itu, ia berkata, “Mahasuci Allah yang telah mencukupi kami dengan melayani­mu. Belikanlah kami kebutuhan rumah tangga dan carikanlah kami pembantu.”

“Bukankah kita memiliki yang lebih baik daripada itu?” Sergah Sa’id kepada istrinya. “Sesuatu yang dapat membantu kita memperoleh­nya sehingga kita dapat menikmatinya yaitu kita meminjamkannya kepada Allah dengan pinjam­an yang baik.” Nasihat Sa’id kepada isterinya.

“Ya, semoga Allah membalas dengan yang lebih baik.” Jawab sang istri mantap.

Said pun tidak meninggalkan majelisnya, sehingga ia meletak­kan dinar-dinar tadi ke dalam beberapa pundi dan berkata kepada salah seorang keluarganya, “Pergi dan bawalah ini kepada janda si fulan, anak yatim si fulan, orang miskin dari keluarga si fulan, dan orang fakir dari keluarga si fulan.”

Satu lagi hal penting perlu kita teladani dari pribadi mulia ini adalah qana’ah dan kesederhanaan. Di sebuah negara yang sudah mapan, justru orang yang bersahaja lebih disegani, berwibawa dan dihormati daripada orang yang bergelimangan kemewahan, hidupnya hedonis. Apalagi hidup dengan kekayaan yang tidak jelas asal-usulnya.

Dalam situasi paceklik seperti sekarang ini, musibah di mana-mana, harga-harga melambung tinggi, pengangguran terus meningkat, kelangkaan BBM. Kalau ada keteladanan terutama dari para pemimpin tentang kesederhanaan, niscaya masyarakat akan sadar bahwa dirinya bisa seperti yang lain, sehingga akan malu untuk pamer kemewahan dan hidup bermewah-mewah, hedonis.

Namun faktanya gaya hidup hedonistik ini tampak semakin banyak saja pengikutnya. Hedonisme yang mengajarkan ‘nikmatilah segala sesuatu dalam hidup selagi memungkinkan dan ada kesempatan’ seperti diajarkan oleh Epicurus pada 2000 tahun yang lampau kayaknya membuka peluang terciptanya pasar untuk kemewahan.

Apalagi setting opini diarahkan agar kemewahan terasa menjadi semakin wajar dan manusiawi, meskipun tentu saja banyak pihak yang tidak sependapat dengan paham tersebut.

Pola dan gaya hidup yang menginginkan tampak serba mewah, boros dan tidak produktif ini telah sejak lama dibahas oleh Von Veblen (1929) menjelang resesi dunia pada tahun 1930 dalam teorinya ‘The Leisure Class’. Perubahan gaya hidup yang diakibatkan oleh perubahan budaya sebagai dampak negatif perkembangan teknologi yang mampu menghasilkan sikap dan perilaku yang tidak bermanfaat atau sia-sia.

Pola konsumsi yang disebut ‘conspicious consumption’ ini tampaknya menjawab fenomena mengapa banyak orang tidak memliki sense of crisis saat ini. Semakin banyak saja mobil mewah berlalu-lalang di jalan-jalan raya, lalu lintas serba macet di hari-hari libur panjang dan tentunya semakin maraknya pembangunan mal dan wisata belanja di kota-kota. Dalam pola dan gaya hidup seperti itu maka tujuan dan maksud adalah bersantai (leisure) dan untuk pamer agar supaya dikagumi orang lain (demonstration effect).

Di sini manfaat barang dan jasa yang dikonsumsi adalah diukur oleh sejauhmana ‘kenikmatan’ dan ‘manfaat’ yang didapat dari tingkat kekaguman pihak lain yang melihatnya. Manfaat dan semangat pamer ini akan semakin besar dan efektif dalam lingkungan masyarakat yang miskin.

Dengan demikian maka semangat pamer ini menjadi meningkat dan mendorong masyarakat menengah ke bawah tertarik untuk mengikutinya. Menurut Veblen, secara alamiah melalui proses historis dan antropologis, kecenderugan seperti ini akan terjadi.

Perilaku ini melembaga secara seremonial dan memiliki karakteristik cinta berlebihan terhadap uang. Oleh karenanya bagi mereka akan lebih menghargai pekerjaan yang mampu ‘making money’ dibandingkan dengan ‘making goods’.

Penghargaan atau nilai tinggi diberikan bila sesuatu dapat dinilai secara materi (tangible) dan dapat diukur dengan nilai uang (p-cuniary emulation) dibandingkan memaksimalkan manfaat (utility maximization). Pada gilirannya maka semangat dan sikap hidup sederhana dan etos kerja keras dianggap dan dinilai sebagai ‘ketidak-berhasilan’, sedangkan sikap santai ‘biar tekor asal kesohor’ dan kemewahan akan dinilai atau dianggap sebagai indikasi ‘keberhasilan’ hidup.

Masyarakat golongan menengah sebenarnya banyak yang memiliki kemampuan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dengan layak. Namun tidak habis-habisnya mereka menjadi target pasar berbagai produk ‘kemewahan’ yang sebenarnya bukan yang mereka butuhkan.

Sementara itu para pengusaha semakin jeli menciptakan pasar dan membaca nafsu terpendam (desire) dalam diri para calon konsumen ini yang siap dan rela menggadaikan ‘masa depan’ mereka demi kesempatan menikmati kemewahan dalam bentuk produk dan layanan yang berselera dan berkualitas tinggi, meskipun hanya sesaat.

Pola hidup sederhana tak lain merupakan buah keindahan dari kekuatan mengendalikan diri dari hawa nafsu dan keserakahan. Meski untuk menjadi kaya-raya tidak dilarang agama. Termasuk siapa pun, tidak dilarang punya mobil mewah, rumah mewah, kapal pesiar mewah dan perhiasan mahal, namun asal kekayaannya itu diperoleh secara halal. Apalagi kaya tidaknya seseorang bukan dinilai dari seberapa banyak harta yang dipamerkan akan tetapi kekayaan itu dinilai dari seberapa banyak harta yang diinfakkan di jalan Allah, seperti yang diperlihatkan oleh Abu Bakar ra.

Para pemimpin seharusnya bisa memberi contoh terhadap rakyat yang sebagian besar miskin, untuk tidak hidup mewah. Seringkali, justru petinggi negara itu terlena, mabuk kepayang dan lupa daratan, hingga tanpa mereka sadari, hidup bergelimang kemewahan. Mentang-mentang menjabat, dibiayai negara, mereka menggunakan aji mumpung. Potret hidup kita seakan dalam suasana yang paradoks. Kita diimbau hidup sederhana, memiliki sense of crisis namun kenyataannya kaum elite mempertontonkan kemewahan. Padahal, kesederhanaan dan keprihatinan perlu keteladanan.

Allah telah ridha kepada Said bin Amir al-Jumahi. Dia berusaha keras menundukkan ambisi pribadinya, mengendalikan kepentingan diri dan keluarganya, demi mengutamakan kepentingan rakyat yang lebih membutuhkan. Singgasana yang galibnya penuh gemerlap, bagi seorang Al Jumahi hanyalah seonggok limbah yang patut dibersihkan. Puncak kariernya adalah puncak pengabdiannya kepada Allah swt. Dia bertahta tanpa istana. Kesederhaannya laksana silau bintang yang dinikmati para penghuni langit. Al Jumahi menjadi satu di antara para ’bintang’ pemimpin shaleh yang rasa takutnya kepada Allah amatlah besar dibanding sesuatu yang lainnya. Wallahu a’lam.

Redaktur:

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (8 votes, average: 8,50 out of 5)
Loading...
Avatar
"Aidil" adalah panggilan kesehariannya. Lahir di Jakarta pada tahun 1964 dan sekarang telah dikaruniai Allah 4 orang anak. Manajer SDM di Ummigroup Media ini adalah lulusan dari SMA Negeri 8 Jakarta, LIPIA (I'dadul Lughoh Masa'iyah), dan Institut Agama Islam Al-Aqidah. Pernah aktif di Kerohanian Islam (Rohis) SMAN 8 Jakarta, dan di Bi'tsatud Du'at PKPU. Saat ini mengemban amanah sebagai Pembina Yayasan Sahabat Insani. Moto hidupnya adalah "Hidup Mulia atau Mati Mulia".

Lihat Juga

Singgasana Balqis, Queen of Sheba, Saat Ini

Figure
Organization