Home / Berita / Internasional / Asia / Seminar Aqsha 2: Ke Arah Pembebasan Baitul Maqdis

Seminar Aqsha 2: Ke Arah Pembebasan Baitul Maqdis

Para narasumber Seminar Aqsa 2 di Universitas Kebangsaan Malaysia, Selangor (aspacpalestine.com)
Para narasumber Seminar Aqsa 2 di Universitas Kebangsaan Malaysia, Selangor (aspacpalestine.com)

dakwatuna.com – Selangor. Malaysia, 27 September 2014. Dr. Saiful Bahri, M.A, Ketua Asia Pacific Community for Palestine kembali mendapat undangan untuk mengisi seminar tematik tentang Masjid al-Aqsha. Kali ini negeri jiran Malaysia yang berhajat mengadakan seminar tersebut. PACE (Palestine Centre of Excellence) bekerja sama dengan Aqsa Syarif dan Sahabat Aqsa Universiti Kebangsaan Malaysia menggelar acara tersebut dengan tajuk besar SEMINAR AQSA 2, Ke Arah Pembebasan Baitul Maqdis.

Acara ini diadakan di Universitas Kebangsaan Malaysia, Selangor. Dimulai pada pukul 09.30 pagi dengan keynote speech oleh Dr. Aminurrasyid Yatiban, dosen pada Institute for Excellence for Islamicjerussalem Studies (IEIJS) di Universiti Utara Malaysia. Pemaparan yang lugas dan detil dari alumni Ph.D Aberdeen Univetrsity, UK ini mengundang decak kagum para peserta karena luasnya wawasan keilmuwan tentang Baitul Makdis yang menjadi spesialisasinya sejak mengambil program magister di Inggris. Beliau meneruskan inisiatif para pendahulunya di Inggris yang mempopulerkan terminologi Islamicjerussalem untuk menerjemahkan kata Baitul Makdis dalam berbagai artikel di berbagai jurnal internasional yang terbit di Inggris juga dalam riset-riset yang teruji secara ilmiah dan mendapatkan respon yang cukup bagus dari para akademisi. Meskipun terminologi ini pun masih debatable karena akan mengundang munculnya cristianjerussalem atau jewsjerussalem. Baitul Makdis sendiri adalah istilah yang dipakai dalam hadits yang berkaitan dengan Syam. Kemudian beliau mengurai penamaan istilah West Bank (Tepi Barat) padahal posisi dan letak geografisnya ada di sebelah timur Palestina. Lalu apa kaitannya dengan East Bank di Jordania. Apa national interest Jordania terhadap Tepi Barat.

Tampil sebagai Pembicara Utama Pertama, Dr. Saiful Bahri, M.A yang juga Wakil Ketua KSB-MUI Pusat mengurai sedikit tentang landmark dan sejarah Masjid al-Aqsha sebagai entry point menjelaskan bahaya penistaan zionisme internasional yang teringkas dalam sebelas poin. Dari penggalian terowongan, perampasan lahan dan pengusiran warga, perlakuan tidak manusiawi kepada jamaah shalat di masjid al-Aqsha berupa kekerasan fisik dan pelarangan bagi para pemuda, program wisata, tingginya pungutan pajak, perusakan fisik masjid, intervensi pengelolaan, dan yang utama adalah rasionalisasi semua yang mereka lakukan dari sebuah mitos Solomon Temple yang masih debatable.

Poin penting lainnya yang dipaparkan adalah bahwa Gaza dengan rangkaian agresi militer, kemudian blokade selama delapan tahun dan berbagai tindakan tidak manusiawi lainnya adalah korban kezhaliman dan bola panas untuk dua kepentingan Israel. Secara internal, sebagai salah satu percobaan dan jualan politik para elit Israel. Dan secara eksternal, memecah suara Palestina terutama antara faksi perlawanan di Gaza dan faksi politik di Tepi Barat. Diharapkan dengan serangan yang bertubi-tubi ini, kecaman datang mengalir, bantuan kemanusiaan dan solidaritas internasional tergalang. Tapi di waktu yang sama, proyek utama zionis tetap berlangsung. Pemukiman ilegal dan proyek penguasaan Jerussalem (Al-Quds) secara total. Dan khususnya adalah kompleks Masjid al-Aqsha. Israel tanpa Jerussalem menjadi tak bermakna, Israel Raya tanpa membuktikan mitos Solomon Temple adalah mimpi yang tak nyata.

Perbincangan hangat berlanjut, ketika sesi break dilakukan. Sambil menikmati santapan ringan, para pembicara melanjutkan diskusi tentang terminology Islamicjerussalem dan beberapa isu terkini di Timur Tengah sampai pada pembicaraan referendum Skotlandia.

Sesi berikutnya adalah giliran Palestine Centre for Excellence (PACE) yang mewakili pihak penyelenggara, Hussaini Abu Khalid salah satu peneliti pada PACE memaparkan makalahnya tentang gerakan perlawanan Palestina yang diprakarsai oleh HAMAS.

Setelah istirahat pendek untuk makan siang dan melaksanakan shalat zhuhur, acara seminar sehari ini berlanjut ke pararel session. Pada sesi ini menghadirkan para panelis.

Prof Madya Dr. Mohd Afandi Saleh, wakil dekan Fakultas Hukum di Universiti Sultan Zainal Abidin , Prof Madya Dr. Hafidzi Mohd Noor, dosen di Universiti Putra Malaysia dan kembali menghadirkan Dr. Saiful Bahri, M.A dosen pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Diskusi Panel ini dimoderatori oleh Mohd Taufik Hussin Mantan Ketua ISN (Ikram Siswa Nasional) Magister Islamic Banking yang bekerja sebagai Auditor Syariahpada CIMB.

Diskusi panel yang berlangsung dalam dua putaran ini membicarakan berbagai tema, dari sejak mitos-mitos penaklukan Baitul Maqdis sampai pada perpolitikan modern Timur Tengah.

Dr. Saiful yang ditanya pertama kali tentang proses dan cerita penaklukan Baitul Makdis menjelaskan dengan singkat strategi Umar dan perjanjian damai di Al-Quds. Pemaparan ini sekaligus mementahkan pertanyaan yang dilontarkan oleh moderator.

“Kita tak perlu memiliki Superman atau Spiderman untuk membebaskan Baitul Maqdis dari penjajahan dan penistaan. Kita memiliki Umar dan Shalahuddin. Mereka bukan mitos, tapi berwujud nyata sebagai manusia seperti kita” tegasnya, “Kita hanya perlu menelusuri faktor dan rahasia kesuksesan mereka. Tiru, lakukan dengan sidikit modifikasi sesuai zamannya”

Sedangkan Dr. Hafidzi yang juga ketua umum Aqsa Syarif menjawab pertanyaan tentang peta perlawanan Palestina dan apakah ini merupakan reaksi terhadap kondisi terkini. Dan Dr. Afandi sebagai dosen hukum dan hubungan internasional berbicara tentang Jordania dan hubungan bilateral dengan Israel.

Pada putaran kedua diskusi semakin seru setelah mendapat respon dari audiens yang menyorot peta politik kawasan Asia Tenggara utamanya serta Timur Tengah dan respon yang berbeda terhadap masalah Palestina.

Pada putaran kedua ini diskusi menghangat ketika para panelis berbeda pandangan terhadap beberapa masalah.

Dr. Hafidzi mengemukakan perlunya belajar sejarah perang atau setidaknya bisa mengambil pelajaran dari filem peperangan modern. Amerika Serikat yang kalah di Afganistan menyelamatkan airmuka dengan menggunakan exit strategy, padahal mereka kalah dan ingin keluar dengan kepala tegak. Hal yang sama dilakukan ketika di Vietnam. Maka strategi dan penguatan para pejuang perlawanan ini perlu dikristalisasi dengan banyak belajar sejarah perang. “Saya tak suka membaca novel-novel cinta” tegasnya.

Dr. Saiful menimpali justru dalam setiap episode perang selalu menghadirkan kisah cinta yang dahsyat. Sebut saja Shafiyah binti Huyay yang kehilangan dua orang penting terdekatnya, suaminya Kinanah bin Rabi’ pimpinan Yahudi Khaibar dan ayahnya Huyay bin Akhthab tokoh penting Yahudi Madinah. Keduanya terbunuh dalam peperangan melawan tentara muslim. Tapi cahaya Allah menjadi dominan dalam dada Shafiyah, ia menerima Islam dan sekaligus kemudian menjadi istri Rasulullah SAW. Kecurigaan umat Islam bahwa ia merencanakan balas dendam tak terbukti dan bahkan sebaliknya, ia membela Islam dengan pembelaan yang luar biasa.

Kisah heroik Shalahuddin al-Ayyubi tak bisa dilepaskan dari seorang perempuan Ismah Khotun yang merupakan Janda mendiang Sultan Nuruddin Zanky. Ia menerima pinangan Shalahuddin dan bersedia menjadi istrinya, untuk menyambung mimpi sang sultan membebaskan Masjid al-Aqsha.

Dalam peperangan modern selalu ada proxy war dan psy war yang sebenarnya juga pernah dilakukan oleh para sahabat dalam berbagai ekspedisi dan futuhat Islamiyah.

“Bebaskan Masjid al-Aqsha dengan cinta. Perangi manusia dengan cinta” tutup Saiful mengakhiri diskusinya.

Pada acara seminar ini terdapat pameran buku dan pernik-pernik Palestina. Buku The Forbidden Country karya Dr. Saiful Bahri, M.A habis terjual. Buku tebal Ensiklopedia Mini Masjid al-Aqsa karya bersama tim kajian Asia Pacific Community for Palestina pun laris dan diburu para peserta. Dai akhir sesi, para peserta asyik berfoto bersama setelah meminta tanda tangan dari Dr. Saiful Bahri. (msy/aspac/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: M Syarief

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 3,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Syarief
Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
  • rj

    jazakumullah atas laporannya .. moga kita ketemu lagi di Malaysia atau di Indonesia..

Lihat Juga

Stadium general di aula Universitas Islam As-Syafiiyah. (aspacpalestine.com)

Peringati Hari Solidaritas Palestina, ASPAC for Palestine Gandeng UIA Gelar Stadium General

Organization