Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jangan Kalah Oleh Kuda!

Jangan Kalah Oleh Kuda!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (RoL)
Ilustrasi (RoL)

dakwatuna.com  “Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu shubuh, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh. Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya. Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada? Sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.” (QS. Al ‘Adiyat: 1-11)

Allah, Yang Maha Menciptakan dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu, seringkali bersumpah atas nama makhluk-Nya. Berkali-kali kita di hadapkan pada ayat-ayat dalam Al-Quran yang di dalamnya tertulis Allah bersumpah atas nama makhluk-Nya. Demi Matahari, Demi Bulan, Demi Bintang, Demi Jiwa, Demi Bumi, Demi Waktu, dan lain sebagainya. Bukan hak kita menanyakan mengapa Allah bersumpah atas nama makhluk-Nya. Namun, kita akan temukan satu hal, jikalau Allah bersumpah atas nama makhluk-Nya, pastilah Allah menyelipkan berjuta hikmah pada makhluk tersebut.

Syaikh Ibnu Utsaimin dalam kitabnya Majmu Fatawa wa Rasail Ibn Utsaimin menulis, “Allah bersumpah dengan ayat-ayat ini sebagai dalil atas keagungan dan kesempurnaan kekuasaan dan hikmah-Nya. Sehingga bersumpah dengannya menunjukkan keagungannya dan Tingginya kedudukannya yang mengandung pujian kepada Allah Azza Wa Jalla. Sementara kita tidak dibolehkan bersumpah dengan selain nama Allah atau sifat-Nya, karena kami dilarang melakukan hal itu.”

Sejenak, mari kita perhatikan dengan seksama ayat demi ayat dalam surah Al-‘Adiyat tersebut. Bila kita teliti, kita akan menemukan ada hal yang jomplang, atau istilah sekarangnya mak jleb. Dalam lima ayat pertama, Allah bersumpah atas nama kuda perang yang berlari terengah-engah, kemudian menjelaskan sepak terjang si kuda. Tetapi dalam enam ayat ke belakang, Allah menceritakan manusia. Manusia yang seringkali ingkar kepada Tuhannya. Seolah-olah Allah sedang menjatuhkan derajat manusia di depan seekor kuda. Padahal manusia diciptakan dalam bentuk terbaik. Manusia diberi karunia di atas segala makhluk yang diciptakan-Nya. Dan lebih daripada itu semua, bahwa manusia diproyeksikan oleh-Nya sebagai pemimpin di muka bumi. Manusia diberi tanggung jawab oleh Allah sebagai penjaga keseimbangan kehidupan di muka bumi. Sungguh mulia manusia diciptakan, dan sungguh besar tanggung jawab manusia di muka bumi.

Namun, Allah menyebutkan bahwa sesungguhnya manusia itu benar-benar ingkar kepada-Nya. Pernyataan tersebut diawali dengan pujian Allah kepada makhluk-Nya, yaitu seekor kuda perang. Dalam surah ini, Allah bersumpah atas nama kuda. Bahwa kuda adalah salah satu karunia terbesar di antara karunia Allah pada makhluk-makhluk-Nya. Karena Allah menyebutkan kuda dengan sumpah, berarti kuda di sini memiliki keistimewaan khusus dibanding hewan-hewan lainnya. Kuda tersebut berlari kencang dengan terengah-engah. Kuda tersebut memercikkan api karena hentakkan kakinya yang mengenai batu saat berlari. Sambil berlari, kuda tersebut kemudian menyerang musuhnya di waktu shubuh. Akibat kencangnya lari kuda tersebut, lalu debu-debu pun beterbangan. Kemudian kuda tersebut menyerang dengan menerobos barisan musuh hingga menembus ke tengah-tengah mereka. Inilah yang digunakan untuk bersumpah oleh Allah dalam surah ini.

Manusia harus bisa mengambil pelajaran dari ayat-ayat tersebut. Dari sumpah Allah kepada kuda, hingga kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang sangat lengah.

Bersungguh-sungguh
Kuda diciptakan Allah sebagai kendaraan dan juga sebagai perhiasan bagi yang memilikinya. “Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS. An-Nahl: 8). Dan di dalam surah Al-‘Adiyat, kuda yang disebutkan adalah kuda yang dikhususkan (dan telah dilatih) untuk berperang. Di antara hewan-hewan yang bisa dijadikan tunggangan, hanya kuda yang sering digunakan dalam perang sejak berabad-abad yang lalu. Lain halnya dengan unta atau gajah yang hanya digunakan oleh pasukan-pasukan tertentu dan dalam keadaan tertentu saja. Hampir setiap bangsa diharuskan memiliki pasukan yang pandai menunggang kuda.

Di awal ayat surah ini disebutkan bahwa kuda tersebut lari hingga terengah-engah. Kemudian kuku-kuku kakinya memercikkan api akibat bergesekan dengan batu. Kita dapat memahami bahwa kuda adalah hewan yang tidak pernah setengah hati dalam bekerja. Kuda bekerja sesuai dengan kehendak tuannya. Apapun yang diperintah tuannya, kuda akan menaatinya dengan sepenuh hati. Bila larinya sampai membuat nafasnya terengah-engah, artinya ia sedang berlari dalam kecepatan tinggi. Bila larinya menyebabkan munculnya percikan-percikan api dari kakinya, berarti ia sangat bersungguh-sungguh dalam berlari.

Apa yang harus dipelajari manusia dari hal ini adalah bersungguh-sungguh dalam bekerja sesuai potensi dan tugasnya masing-masing. Kuda diberi kelebihan oleh Allah dalam hal kekuatan otot dan kecepatannya dalam berlari. Dengan karunia tersebut, kuda dapat dimanfaatkan sebagai kendaraan perang. Kuda sangat bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas serta memanfaatkan potensi yang ada pada dirinya.

Bersiap-siaga
“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali Imraan: 200).

Allah memerintahkan kepada setiap mukmin untuk senantiasa bersiap-siaga disertai dengan kesabaran dan ketakwaan kepada-Nya. Sebagaimana kuda perang dalam surah Al-‘Adiyat yang bersiap-siaga berperang menerjang musuh dalam keadaan apapun kapanpun ia dibutuhkan, bahkan ketika pagi-pagi buta sekalipun. Tatkala kaum muslimin pun banyak yang masih tertidur lelap melalaikan shalat subuhnya, sang kuda sudah beranjak menerjang musuhnya. Dan kuda perang adalah hewan yang terlatih.

Bersiap-siaga adalah hal yang tidak mudah dilakukan setiap orang. Ini hanya dapat dilakukan bagi mereka yang terlatih dan melatih dirinya setiap saat. Betapa beratnya bagi mereka yang belum terlatih untuk beranjak meninggalkan aktivitas duniawinya ketika azan berkumandang. Betapa beratnya bagi mereka yang belum terlatih untuk bangun untuk berdiri berucap kasih mesra kepada Rabb-Nya di sepertiga malam terakhir. Betapa beratnya bagi mereka yang belum terlatih untuk menahan nafsu syahwatnya sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari dalam sebulan penuh. Betapa beratnya bagi mereka yang belum terlatih untuk sekadar menghabiskan setengah jam waktunya dalam sehari untuk menamatkan satu juz Al-Quran. Duhai, betapa beratnya bagi diri yang belum terlatih. Maka latihlah diri agar terbiasa dengan perintah dan larangan-Nya. Agar diri tidak gagap kala mendapat tanya di alam kubur.

Pemberani
Sang Bijak berkata, “Keberanian tidak akan mempercepat kematianmu, dan takut berperang tidak akan memperlambat kematianmu.” Tidak ada jaminan bila kita maju berperang akan mempercepat kematian kita. Tidak ada jaminan pula bila kita bertahan dan berdiam diri justru akan menunda kematian. Keduanya sama saja. Kematian akan menghampiri kita kapanpun dan dimanapun kita berada. Walau kita berada di sebuah gedung tinggi dengan tembok yang kokoh sekalipun.

Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, sekalipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh” (QS. An-Nisaa: 78).

Apa yang dapat kita pelajari dari kuda yang disebutkan dalam surah Al-‘Adiyat, salah satunya adalah keberanian yang dimiliki kuda perang tersebut. Dalam beberapa kurun ini tak jarang kita mendapat kabar kejadian tawuran di beberapa tempat, baik yang dilakukan antar pelajar, antar suku, bahkan antar suporter sepak bola. Ini adalah sikap pengecut yang dilakukan oleh para pengecut pula. Hal sepele yang dibesar-besarkan kemudian melecutkan kerusuhan. Berapa banyak jiwa yang tergadai atas kesia-siaan diakibatkan ulah para pengecut ini. Kalaulah satu di antara para pelaku tawuran tersebut diperintah maju satu per satu, tentulah mereka tidak seberani ketika menyerang ramai-ramai.

Tidak demikian halnya pada kuda perang. Mereka dengan gagahnya lari menerjang ke tengah sekawanan musuhnya. Tanpa ada rasa takut sedikitpun, meskipun kuda itu sendirian –bersama penunggangnya. Jiwa pemberani adalah jiwa yang dimiliki para pejuang. Pejuang bukanlah hanya dalam perang, pejuang ada dalam setiap aspek kehidupan. Setiap pejuang adalah mereka yang mempunyai jiwa keberanian sejati. Dan keberanian sejati adalah mereka yang bersedia dikoreksi bila salah dan siap menerima kebenaran meskipun dari orang yang memiliki kedudukan lebih rendah. Keberanian dan sikap tegas dalam menerima kebenaran adalah keberanian yang sebenarnya.

“Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dengan keputusan yang kamu berikan dan mereka menerima sepenuhnya.” (QS. An Nisa: 65

“Sesungguhnya jawaban orang-orang yang beriman bila mereka dipanggil kepada Allah Subhannahu wa ta’ala dan Rasul-Nya agar Rasul menghukumi (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: “Kami mendengar dan kami patuh.” Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An Nur: 51)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang patut diteladani kehidupannya sejak bangun tidur hingga tidur lagi, adalah juga pejuang yang pemberani. Kita dapat mengambil keteladanan yang beliau ajarkan kepada kaummnya. Dalam sebuah hadits diceritakan bahwa Rasul adalah orang pertama yang berani mendatangi tempat atau sumber bahaya: “Rasulullah adalah orang yang paling baik, paling pemurah, dan paling berani. Pada suatu malam, penduduk Madinah dikejutkan oleh suatu suara, lalu orang banyak keluar ke arah datangnya suara itu. Di tengah jalan, mereka bertemu dengan Rasulullah yang justru sudah hendak pulang (dari suara itu). Rupanya beliau telah mendahului mereka ke tempat datangnya suara itu. Beliau mengendarai kuda yang dipinjamnya dari Abu Thalhah, sambil menyandang pedang. Beliau bersabda: ‘Sungguh kudapati kuda ini sedemikian kencang larinya bagaikan ombak menggulung lautan. (Dalam riwayat lain: Sungguh kuda ini bagaikan ombak menggulung lautan) Kata Anas (bin Malik): ‘Padahal kuda itu sebelumnya sangat pelan jalannya.’” (HR. Muslim)

Baik dari segi fisik, maupun sikap, pejuang adalah mereka yang memiliki keberanian. Dan sebaik-baik keberanian adalah keberanian membela kebenaran, meski keberanian tersebut akan mengundang pedang membelah lehernya, atau peluru menghujam jantungnya. Poin-poin yang dipaparkan di atas ialah poin-poin yang dimiliki oleh makhluk bernama kuda. Sedangkan di ayat-ayat selanjutnya (ayat ke-6 seterusnya), Allah menjelaskan bahwa manusia sesungguhnya bukan makhluk yang lebih baik, jika mereka tidak menyadari akan adanya siksa kubur.

Sampai di sini, baiknya kita renungi sedalam-dalamnya. Apakah kita, sebagai manusia, sebagai khalifah di muka bumi, sebagai makhluk Allah yang tercipta sempurna, lebih baik daripada kuda? Atau hidup kita dapat disamakan dengan kuda? Atau jangan-jangan kita lebih buruk daripada kuda?

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,78 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Zaky Ahmad Rivai
Pembelajar di Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Karyawan Allah, berkarya bersama KAMMI UIN Sunan Kalijaga. Penulis buku "Jangan Berdakwah! Nanti Masuk Surga" follow @zakyZR

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Eksistensi Ekonomi Syariah di Indonesia