Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Nikmatnya Shalat Maghrib Berjamaah

Nikmatnya Shalat Maghrib Berjamaah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (attaqwamasjid.wordpress.com)
Ilustrasi. (attaqwamasjid.wordpress.com)

dakwatuna.com Hidup di Jabodetabek memang harus banyak-banyak bersyukur dan bersabar, terlebih lagi dengan padatnya aktivitas serta lalu lintas jalan, sehingga menimbulkan kemacetan dimana-mana. Di samping itu tuntutan pekerjaan dan aktivitas warga kota ini semakin membuat kening berkerut, baik itu pekerja, mahasiswa, maupun pelajar, rata-rata hidup mereka sebagian besar habis di jalan, sungguh! di jalan!

Sebagai seorang mahasiswa yang berasal dari Jabodetabek, Bekasi tepatnya, sebuah kota kedua (menurut saya) yang terpadat setelah Jakarta, dan sekarang sedang merantau, menuntut ilmu di kota lain. Ketika liburan dan pulang ke kampung halaman, terasa sekali padatnya aktivitas yang membuat gerah diri. Rangkaian aktivitas dari pagi-pagi buta hingga tengah malam masih saja selalu ramai. Padat!

Sewaktu shalat maghrib berjamaah di masjid komplek rumah, saat momentum dzikir, saya termenung, menaikkan kepala sedikit lebih tinggi kepala, menengok ke samping, “..rupanya shafnya terisi penuh”. Melihat beberapa jamaah yang berisi pemuda, bapak-bapak, pelajar, anak kecil, dll, membuat saya mengulang memori tiga tahun silam, ketika saya masih berstatus sebagai pelajar SMA.

Ketika itu menjelang akhir sekolah dan persiapan ujian akhir, aktivitas benar-benar sangat padat. Bagaimana tidak, mulai dari pagi buta sudah harus siap-siap berangkat ke sekolah, sampai siang menjelang sore baru pulang ke rumah, dan sampai di rumah tepat sebelum masuk adzan maghrib. Kadang harus ada les tambahan sampai malam yang membuat kita tidak sempat pulang. Tetapi les itu tidak setiap hari.
Tetapi saya bersyukur, ada satu hal yang ingin saya kenang di renungan dzikir ba’da shalat maghrib tersebut, seusai menunaikan aktivitas hari tersebut, Allah masih memberikan kesempatan untuk bebersih diri, di rumah khususnya, (setelah saya merasakan tidak terlalu nyamannya bebersih diri sewaktu awal-awal kost kuliah). Setelah mandi dan bebersih diri, tubuh menjadi segar dan fresh, segala kepenatan yang sempat melekat mulai pudar di guyur air dingin pancuran. Dan saya siap untuk berangkat shalat maghrib berjamaah.

Waktu maghrib, adalah waktu yang benar-benar syahdu, menurut saya waktu tersebut adalah waktu yang paling menenangkan. Di mana pada waktu tersebut adalah pergantian dari siang hari menjadi malam hari. Satu hal, setelah beraktivitas padat di pagi tersebut, lalu bebersih diri, dan melaksanakan shalat maghrib berjamaah di masjid adalah sebuah kenikmatan yang besar. Tiap-tiap langkah pergi dan pulangnya membuat hati tenteram, shaf-shaf yang tersusun rapi, anak-anak kecil yang ikut shalat, badan yang segar, serta pakaian yang baik untuk dikenakan.

Saya tersadar dari lamunan tersebut, kemudian berpikir, bahwa saya bersyukur dapat merasakan hal tersebut kembali, menikmati shalat maghrib berjamaah di masjid kampung halaman, masjid Daarul Uluum, Jati Kramat Indah 2, Bekasi.

Ya Allah, semoga Engkau jadikan keberkahan dari setiap amal-amal kami, engkau sejukkan jalan-jalan menuju ibadah-Mu, serta tanamkan rasa syukur di hati-hati kami. Aamiin.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 2,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Elmo Juanara
Mahasiswa semester awal, sedang mempelajari disiplin ilmu teknik industri disalah satu perguruan tinggi negeri di kota Malang. Aktif di LDK, UKM, dan di kampus.

Lihat Juga

Karpet Merah “Asma Nadia”: Dunia yang Datar dan Asma yang Tak Lagi Nadia?