Home / Berita / Internasional / Asia / “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh” Sapa Pembaca di Hongkong

“Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh” Sapa Pembaca di Hongkong

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Pembaca novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh” dengan objek sejumlah lokasi di ‘negara beton’ Hongkong.  (ist/fam)
Pembaca novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh” dengan objek sejumlah lokasi di ‘negara beton’ Hongkong. (ist/fam)

dakwatuna.com – Kediri – Novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh” (LCBKG) karya Aliya Nurlela menyapa pembaca di ‘negara beton’ Hongkong. Novel itu menjadi bacaan pecinta buku dari kalangan Buruh Migran Indonesia (BMI) yang bekerja di Hongkong.

“Alhamdulillah, akhirnya novel ini dapat dinikmati oleh pembaca di Hongkong,” ujar Aliya Nurlela, pengarang novel itu, Kamis (19/6).

Dia menyebutkan, sejak terbit Mei 2014 lalu, LCBKG telah dipesan sejumlah pihak terutama oleh agen-agen buku di Hongkong yang memasarkannya ke kalangan BMI di Hongkong.

Salah seorang agen buku di Hongkong, Laraswati, yang mengedarkan novel LCBKG mengatakan, sejak novel ini terbit dan promonya beredar di jejaring sosial, dia tertarik untuk mencari tahu novel tersebut.

“Ternyata benar, pesona novel itu merebut hati pecinta buku di negeri beton ini. Terbukti, dari buku-buku yang saya bawa langsung menjadi rebutan teman-teman di sini,” katanya.

Salah seorang pembaca LCBKG di Hongkong, Dinda Sailut mengatakan, LCBKG menemani perjalanannya dari Sheung Shui tempat ia mengadu nasib di Yau Tong Station sembari menunggu kereta api.

“Novel ini telah memotivasi dan menginspirasi saya untuk terus berkarya dan bangkit menuju kesuksesan tanpa ada rasa takut dan ragu lagi,” ujarnya.

Rekan Dinda Sailut yang juga membaca novel itu, Terenia Puspita, mengungkapkan, novel LCBKG memiliki makna yang dalam bagi dirinya. “Novel ini mengguncangkan hati saya supaya bangkit dan membuang rasa ego yang ada dalam diri. Novel ini benar-benar luar biasa,” testimoninya.

Pembaca lainnya di Hongkong, Ocuz Wati, Enda Supir Indarwati dan Rene Zetya, menambahkan, membaca novel LCBKG memotivasi diri mereka untuk istiqamah dalam dunia tulis-menulis.

“Harapan kami, semoga Mbak Aliya Nurlela terus berkarya dan berbagi kisah-kisah inspiratif lainnya lewat novel-novel berikutnya,” kata mereka.

Pesona Kota Galuh

Novel LCBKG bercerita tentang pesona keindahan Kota Galuh (Ciamis). Kota itu menjadi saksi perjalanan hidup seorang wanita yang cengeng, manja dan penakut menjadi pribadi yang sebaliknya; tegar, mandiri dan pemberani. Seorang penulis bernama Zahda Amir yang memiliki sifat bertolak belakang dengan dirinya, tiba-tiba hadir menyelamatkannya dari penculikan, menjadi seorang pahlawan, motivator, dan sahabat yang bersama-sama menghadapi pahit dan manisnya hidup.

Namun, sebuah takdir seakan “memaksanya” menerima kenyataan baru yang sangat pahit, menciptakan telaga air mata, melemahkan sendi-sendi, dan merenggut semangat hidupnya. Pahitnya kenyataan itu menciptakan kekecewaan, prasangka buruk, amarah dan keputusan berani yang menyeretnya pada perjalanan hidup yang tidak pernah diduganya.

“Aliya Nurlela, sang penulis novel, begitu piawai membingkai kisah Amila, si tokoh utama yang rancak, cantik, tinggi semampai, rambut panjang tergerai, cerdas, suka membaca, dan banyak prestasi di bidang seni dan menulis, namun soleha dan religius. Seru, asyik, dan menegangkan,” ujar Yurnaldi, wartawan utama, sastrawan, konsultan media, mentor jurnalistik dan Penulis buku Jurnalisme Kompas yang membubuhkan testimoninya untuk novel itu. (rel/fam/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Bedah novel "Rumah di Tengah Sawah" karya Muhammad Subhan, Ahad (6/9) di aula SMP Negeri 2 Padangpanjang. (IST/FAM)

Potret Orang-Orang Susah di Tengah Ancaman Paceklik Sosial