Home / Berita / Daerah / Dukung Surabaya Kota Literasi, “Arek Suroboyo Berpuisi” di SMK PAL Surabaya

Dukung Surabaya Kota Literasi, “Arek Suroboyo Berpuisi” di SMK PAL Surabaya

Peserta Arek Suroboyo Berpuisi berfoto bersama usai acara.  (ist/FAM)
Peserta Arek Suroboyo Berpuisi berfoto bersama usai acara. (ist/FAM)

dakwatuna.com – Surabaya. Suasana sepi yang biasanya menyelimuti SMK Teknik PAL Surabaya di hari libur mendadak sirna. Sekolah itu menjadi semarak. Penyebabnya, Ahad (8/6), sekitar 40-an aktivis literasi berpuisi dalam rangka ikut memeriahkan HUT ke-721 Kota Surabaya.

Acara yang ditaja Tim Event Organizer Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia yang dikoordinatori Yudha Prima itu, bertajuk “Arek Suruboyo Berpuisi” bekerjasama dengan SMK PAL Surabaya dan didukung Lembaga Bimbingan Belajar Primagama.

Acara dibuka dengan penampilan musikalisasi puisi oleh Fileski yang membacakan puisi berjudul “Kota Kenangan yang Terbakar”. Puisi itu semakin terasa indah ketika seniman otodidak ini membawakannya dengan diiringi biola yang mengalun syahdu.

Selain Fileski, ikut membaca puisi Ardi Susanti, penyair perempuan asal Tulungagung yang membacakan puisinya berjudul “Bicaralah, Nak”. Baik Fileski dan Ardi Susanti, membaca puisi-puisi yang tercantum dalam buku puisi “Menjadi Indonesia” yang penerbitannya digagas FAM Cabang Surabaya dan diluncurkan di hari itu.

Pada kesempatan tersebut juga dibedah buku puisi “Rumah Kartu” karya Eko Prasetyo yang dibahas oleh Muhammad Subhan, pegiat FAM Indonesia yang juga seorang jurnalis dan penulis. Diskusi dipandu moderator Evie Suryani, penulis Surabaya yang juga pengurus Badan Perpustakaan Kota Surabaya.

Dalam makalahnya berjudul “Memahami Puisi-puisi Cinta Eko Prasetyo” Muhammad Subhan mengatakan, meski buku puisi “Rumah Kartu” cenderung bersifat personal yang ditujukan kepada Jeng Ratih-ku sayang, namun bukan berarti Eko Prasetyo tidak jeli menyikapi persoalan yang sedang terjadi di sekitarnya.

“Ia dengan cerdas menjadikan Jeng Ratih-ku sayang yang tak lain adalah istrinya sendiri sebagai tumpahan luapan emosionalnya lewat puisi namun ditulis dengan begitu mesra terhadap berbagai anomali yang terjadi, atau terhadap persoalan-persoalan yang sedang hangat diperbincangkan di tengah masyarakat,” kata Muhammad Subhan.

Sebagai bentuk apresiasi kepada penulis buku puisi “Rumah Kartu”, mahasiswa FIB Universitas Airlangga (Unair) Wildan Taufiqurrahman dan petugas Taman Bacaan Dukuh Kupang, Cak Ndog, membacakan empat puisi karya Eko Prasetyo itu serta mendapat testimoni dari Reffi Dhinar, peserta yang juga anggota FAM Cabang Surabaya.

Koordinator EO FAM Indonesia, Yudha Prima, pada kesempatan itu mengatakan, acara tersebut diangkat FAM Indonesia sebagai rangkaian kegiatan Milad ke-2 FAM Indonesia yang akan dilanjutkan dengan Workshop Menulis Novel serta peluncuran Novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh” yang kegiatannya dihelat di Pare, Kediri, pada Selasa (10/6).

“Selain itu, kegiatan ini juga untuk mendukung Kota Surabaya sebagai kota literasi yang telah dicanangkan Walikota dengan gerakan membaca dan menulis,” katanya.

Sementara itu, Wakil Kepala SMK Teknik PAL Surabaya, Eko Agus Triswanto, pada kesempatan tersebut menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan yang digelar FAM Indonesia. Secara khusus ia mengatakan bahwa acara tersebut sangat bermanfaat terutama bagi siswa-siswanya. (rel/fam/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Bingkai Puisi Cinta