Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Refleksi Hari Kebangkitan (Umat)

Refleksi Hari Kebangkitan (Umat)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi. (Foto: inet)
Ilustrasi. (Foto: inet)

dakwatuna.comRasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab,Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud)

Hari ini kita menyaksikan gelombang tsunami yang mencabik-cabik negeri. Tsunami korupsi, kemiskinan, tawuran yang telah membudaya, dan yang paling parah adalah ketidakberdayaan menghadapi semua masalah ini. Padahal di negeri ini, usia produktif adalah presentase yang tertinggi di dunia. Dan betapa menakjubkan sekaligus membuat miris hati sebab dari usia tersebut sebagian besar beragama Islam. Sebagaimana  hadits di atas, umat ini seperti apa yang telah digambarkan Rasulullah belasan abad silam. Jumlahnya banyak, tapi seperti buih di lautan.

Apa yang terjadi saat Majelis Ulama Indonesia (MUI) memfatwakan bahwa bunga bank termasuk riba dan hukumnya menjadi haram? Sama sekali tidak terjadi rush dan penarikan uang besar-besaran dari bank-bank konvensional. Geliat bank-bank syariah masih tertinggal jauh dari negara-negara tetangga.

Apa yang dipahami dari umat Islam Indonesia tentang wakaf? Tidak lebih dari kuburan, masjid, pesantren. Tidak ada yang salah tentu saja. Hanya kalau kita tengok negara-negara Muslim lainnya, hampir sebagian (besar bahkan) pendapatan mereka didapat dari hasil wakaf. Bagaimana bisa? Tentu tidak terlepas dari pemahaman bahwa Islam adalah solusi. Dan wakaf bisa menjadi solusi bagi multi-masalah dunia seperti kemiskinan, kelaparan dan pengangguran. Maka wakaf tidak sekedar shighat antara wakif dengan nazir. Tapi juga meliputi pengelolaan secara profesional dan produktif.

Sebagaimana kita tahu kisah heroik seorang pemimpin Islam di masa jayanya, Khalifah Umar bin Abdul Aziz tentang melimpahnya dana zakat di Baitulmaal karena sudah tidak ada lagi orang yang mau menerima zakat. Satu kondisi yang berbeda dengan negeri kita dimana orang berebut hanya untuk menerima zakat, meski nyawa menjadi taruhan.  Sama sekali tidak tampak izzah -harga diri Islam yang tinggi.

Bisakah kita membayangkan, jika ‎‎100 juta saja dari umat Islam Indonesia mau mengumpulkan zakat senilai Rp 20.000,00. Maka negeri ini diamanahkan untuk mengelola dua triliyun rupiah dan itu baru dari zakat fitrah, belum ditambah zakat maal, dan pekerjaan. Jika 100 juta orang itu juga ‎berwakaf tunai senilai Rp 100 ribu setiap bulan, ‎maka dana yang terkumpul berjumlah sepuluh triliyun rupiah setiap tahun. Sungguh suatu ‎potensi yang luar biasa. Apabila seluruh instrumen sosial dalam Islam berhasil dikelola.

Kita telah melihat kelemahan-kelemahan umat Islam dan berbagai keterpurukannya. Tiada jalan lain kecuali harus bangkit dan memperkuat barisan. Sebab tantangan dan ancaman sudah terpampang di depan mata. Kita tidak boleh menghadapi semua itu dengan kesedihan dan kehilangan kepercayaan diri. Allah Swt menyatakan dalam al-Qur’an bahwa semua umat Islam dilarang bersedih hati dan kehilangan kepercayaan diri. Karena sungguh, kita adalah umat pilihan yang memiliki kekuatan dan kelebihan jika kita semua menjadi orang-orang yang beriman.

Yang paling perlu diingat adalah, tidak ada kemajuan tanpa perubahan, dan tidak ada perubahan tanpa usaha. Kitalah —umat Islam- determinan pokok maju-mundurnya peradaban Islam. Tidak ada kata tidak mungkin untuk membangkitkan peradaban Islam. Jadilah kita umat yang terbaik di muka bumi seperti yang Allah janjikan.

“Betapa inginnya kami agar umat ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai dari diri kami sendiri. 
Kami bangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka,
jika memang tebusan itu yang diperlukan,
menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan dan terwujudnya cita-cita mereka,
jika memang itu harga yang harus dibayar.
Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini selain cinta yang telah mengharu biru di hati kami,
menguasai perasaan kami,
memeras habis air mata kami,
dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami.
Betapa berat rasa di hati kami ketika menyaksikan bencana yang mencabik-cabik umat ini,
sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan.”

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Indonesia program peminatan Hukum Tata Negara angkatan 2012, menyukai segala karya seni dan segala bidang ilmu, identik dengan musik, buku, dan desain grafis. Saat ini, saya aktif berorganisasi dalam unit kegiatan mahasiwa bidang penalaran Kelompok Studi Mahasiswa Eka Prasetya UI, Lembaga Dakwah Fakultas SERAMBI Fakultas Hukum UI, dan Lembaga Kajian Keilmuan Fakultas Hukum UI.

Lihat Juga

Implementasi Perkembangan Praktik Audit Syariah di Bank Islam Malaysia