Home / Berita / Internasional / Asia / Rahasia di Balik Pemecatan Kepala Intelijen Arab Saudi

Rahasia di Balik Pemecatan Kepala Intelijen Arab Saudi

Pangeran Bandar bin Sultan bin Abdul Aziz, mantan Kepala Badan Intelijen Arab Saudi (5ymah)
Pangeran Bandar bin Sultan bin Abdul Aziz, mantan Kepala Badan Intelijen Arab Saudi (5ymah)

dakwatuna.com – Arab Saudi. Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdul Aziz, telah membebas-tugaskan (memecat) Pangeran Bandar bin Sultan bin Abdul Aziz dari jabatannya sebagai Kepala Badan Intelijen Arab Saudi dan menunjuk Mayjen Yusuf Al-Idrisiy sebagai penggantinya (15/4).

Dalam keputusannya, Raja Abdullah bin Abdul Aziz menyebutkan bahwa langkah (pemecatan) tersebut berdasarkan ‘permintaan’ dari Pangeran Bandar sendiri.

Menyoroti langkah strategis yang terkesan tiba-tiba tersebut, banyak pihak menduga bahwa pengunduran diri (pemecatan) Pangeran Bandar dilatarbelakangi oleh pengalihan penanganan isu Suriah dan Iran dari tangannya ke anak pamannya, Pangeran Muhammad bin Nayef (Menteri Dalam Negeri Arab Saudi).

Pangeran Bandar termasuk pejabat Arab Saudi yang bersikap sangat keras terhadap Iran dan Suriah, bahkan pernah diisukan sebagai koordinator pendanaan dan mempersenjatai kelompok-kelompok gerakan Islam anti Syiah.

Pangeran Bandar juga dikenal sangat membenci Presiden Bashar Al-Asad dan Sekjen Hizbullah Libanon, Hassan Nasrullah, serta pernah mengakui sebagai dalang upaya pembunuhan ulama Syiah, Hussein Fadhlullah.

Tidak terima dan marah terhadap pengalihan tugas tersebut, Pangeran Bandar memilih pergi dan menetap di villa pribadinya di Maroko dan tidak kembali ke Arab Saudi.

Keberadaan Pangeran Bandar mendapat sorotan publik ketika tidak hadir mendampingi Raja Abdullah dalam menyambut kunjungan Presiden Barack Obama beberapa waktu lalu ke Arab Saudi. Padahal sebelumnya Pangeran Bandar selalu mendampingi Raja Arab Saudi setiap menyambut kunjungan Presiden AS ke Arab Saudi dari zaman Presiden George Bush.

Di sisi lain, banyak pihak juga menilai bahwa sebenarnya hubungan Pangeran Bandar dengan Raja Abdullah tidaklah begitu ‘baik,’ dan pengangkatan dirinya menjadi Kepala Intelijen Arab Saudi disebabkan karena tekanan AS dan Barat yang mengkritik lemahnya peran lembaga vital Arab Saudi ini sebelumnya di bawah kepemimpinan Pangeran Turky Al-Faishal. (islammemo/rem/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: Rio Erismen

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Rio Erismen
Alumnus Universitas Al-Azhar Cairo dan Institut Riset dan Studi Arab Cairo.
Organization