Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Usman Harun, Antara Aku dan Negeriku

Usman Harun, Antara Aku dan Negeriku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: quehaydebajodeldisfraz.blogspot.com)
Ilustrasi. (Foto: quehaydebajodeldisfraz.blogspot.com)

dakwatuna.com – Sekian lama aku terinjak-injak dan terhinakan, engkau pun leluasa melakukannya. Seiring pedih yang bertubi-tubi menghantam kesabaranku, berupaya memisahkanku dengannya, hanya satu yang membuat aku masih kuat, bertahan di atas titian kesabaran ini, sepedih-pedih kesewenang-wenangan yang aku terima, aku tak bisa membayangkan rasanya andai akulah yang melakukan kesewenang-wenangan itu. Hanya ini, ia setia menjadi pelipur saat aku hampir bergegas meninggalkannya, sepedih-pedihnya aku terzhalimi lebih ringan kujalani, daripada aku yang menebar kezhaliman itu.

Sahabat, aku tak ingin kezhaliman yang kau timpakan menjadi pembenar untukku melakukan kezhaliman serupa. Melakukan pembalasan itu indah, tapi semestinya aku tahu diri bahwa aku tak mampu melakukannya, tak kan sebanding dengan apa yang kau timpakan. Aku tak ingin menikmati pelampiasan jika manisnya tak sedikit pun menambah kemuliaanku.

Jujur aku ingin membalas, tapi aku sadar ini takkan seberapa mengobati pedihku. Mungkin hanya ini yang bisa kulakukan, sementara engkau malah menertawakannya, mencaci ketidakberdayaanku. Namun aku bersyukur jika aku masih memiliki keteguhan untuk tak tergiur dengan kedudukanmu, aku tak memiliki cita untuk bisa melakukan apa yang kau perbuat. Sekedar agar engkau mengerti apa yang kurasakan. Meski aku tak tahu bagaimana cara membuka hatimu, kezhaliman yang menimpaku menjadi sandaranku untuk berkeluh kesah kepadaNya, menutup kekuranganku dan menjadi jalan bagi kemuliaanku.

Sahabat, aku tak tahu berapa lama lagi masih mampu untuk mengalah. Saat-saat aku masih bisa menikmati pedih ini, aku ragu apakah kesabaran ini sebenarnya hanyalah egoku semata. Egoku membiarkanmu terjerumus, terus menebar kesewenang-wenangan. Jika aku bersikukuh menikmati kepedihan ini, aku mungkin salah membuatmu terus menikmati kezhaliman yang kau perbuat. Berat bagiku untuk bisa menyisihkan kepedulianku padamu, mengentaskanmu dari kezhaliman yang kau lakukan.

***

Sulit bagiku untuk menerima kenyataan. Sejarah yang terbangun ini, tersusun juga oleh noda dan khilaf. Aku muak dan jijik, aku ingin mengenyahkannya. Tapi dari lubuk hatiku, aku sadar bahwa itu tak mungkin. Masa tak akan mungkin untuk terulang. Tentang sebuah cita mulia, aku menerima apa adanya, termasuk kekurangannya. Karena aku berkaca pada diriku, pada kekuranganku. Aku tak ingin dituntut memberikan kesempurnaan serupa.

Aku tak menuntutnya untuk sempurna, aku tak ingin noda itu memporak-porandakan segalanya. Tetapi aku juga tak ingin memelihara noda itu, mengotori cita ini, apalagi berlindung di baliknya! Kekurangan dan kelebihannya, kebaikan dan keburukannya, biarlah ia menjadi harap dan cemas bersama langkahku, membuatku tak mudah tergelincir meski bebannya memberatkan kakiku melangkah.

Sahabat, bukan hanya aku. Engkau pun harus tahu bahwa cita kita pada awalnya sama-sama mulia. Setelah mengalir melalui berbagai ujian pelik, hingga sempat ia berwujud dalam bentuk ucapan bunuh dan ganyang. Cita ini terlalu sayang untuk dikubur bersama hitam putihnya, namun lebih sayang untuk menjadi pembuka luka lama. Aku bisa berkata tidak. Mulutku bisa berdusta, tetapi hatiku tidak. Mulutku bisa menyangkal, tetapi hatiku tetap mengakui.

Engkau pun masih bisa menghinaku. Aku hanya bisa berharap engkau bisa merasakan keindahannya, tanpa harus menunggu menjadi hina. Agar keindahan ini bisa kita nikmati bersama.

***

Potret-potret diri menyusun potret negeri. Terlalu mudah untuk berbicara hak dengan fasih. Tetapi gagap ketika harus bicara tentang kewajiban. Ketika kemuliaan dicari dengan merendahkan. Lebih mudah untuk menuntut daripada memenuhi, lebih mudah untuk menuduh daripada mengakui. Memulai dari diri memang paling mungkin, namun tak selamanya lebih mudah.

Aku tak ingin merendahkan cita. Meski sulit menerimanya bersama hitam putihnya. Hanya saja, kesalahan menerjemahkan cita di antara hamba semestinya makin mengingatkan tentang kesempurnaan Sang Pencipta.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Kepala Batu