Home / Narasi Islam / Politik / Mengamankan Suara Pemilu ala Perang Uhud

Mengamankan Suara Pemilu ala Perang Uhud

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Pemilu 2014, 9 April 2014. (Foto: ppktanahgrogot.blogspot.com)
Ilustrasi – Pemilu 2014, 9 April 2014. (Foto: ppktanahgrogot.blogspot.com)

dakwatuna.comMengawal dan mengamankan suara Pemilu hingga KPU Pusat ataupun Daerah adalah bagian yang tidak boleh dianggap sebelah mata oleh umat Islam. Bahkan ini termasuk proses finishing terpenting yang menjadi tolok ukur kemenangan dakwah, pada episode tersebut. Dengan demikian, mengamankan suara Pemilu merupakan episode finishing jihad siyasi, yang sesungguhnya merupakan bagian dari jihad siyasi itu sendiri. Oleh karenanya, apabila para pengusung dakwah tidak ada yang mengawal suara hingga finish, maka mereka dapat terkena dosa akibat menyepelekan hal ini, dan membiarkannya hilang dan jatuh di tangan orang-orang yang lebih tidak diridhai oleh Allah ta’ala untuk memimpin negeri ini.

Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, pada umumnya ketika peperangan telah usai, tidak menyisakan lagi PR tambahan setelah itu. Namun ada kasus tertentu di mana jihad siyasi masih menyisakan PR tambahan, walaupun sepertinya menurut persepsi umum, perang telah usai.

Banyak orang setelah melihat hasil quickcount di TV merasa bahwa Pemilu ini telah usai, dan dimenangkan oleh A, lalu disusul B, C dan seterusnya. Padahal quickcount bisa jadi bagian dari proses menjatuhkan mental para pengusung dakwah di tengah-tengah pertempuran, sebagaimana hal itu pernah terjadi pada masa perang Uhud.

Bermula dari pertempuran sengit yang dilancarkan orang-orang kafir Quraisy terhadap Mush’ab bin ‘Umair yang melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sampai pada akhirnya Ibnu Qami’ah -salah seorang musyrikin- berhasil membunuh Mush’ab bin Umair. Namun Ibnu Qami’ah mengira bahwa yang dibunuhnya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena kemiripan Mush’ab dengan beliau. Kemudian Ibnu Qami’ah menyebarkan isu kemenangan tersebut di kalangan kaum musyrikin bahwa ia telah membunuh Muhammad.

Isu itulah yang kemudian menjatuhkan mental umat Islam yang berada di tengah-tengah perang. Ma’nawiyah mereka tercabik-cabik, hati mereka terguncang mendengar isu tersebut. Namun sebaliknya, akibat adanya isu tersebut, kaum musyrikin menjadi tidak keras-keras amat dalam melanjutkan peperangan. Mereka beranggapan bahwa dengan membunuh Muhammad, berarti kemenangan sudah di ambang pintu. Efek dari isu tersebut menjadikan umat Islam memperoleh celah untuk menyusun kekuatan di tengah-tengah berkecamuknya perang.

Di tengah-tengah menyebarnya isu terbunuhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan jatuhnya mental umat Islam, Ka’b bin Malik adalah sahabat pertama yang melihat  bahwa ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih belum wafat. Lalu ia berteriak keras memberitahu para sahabat lain, bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup. Rasulpun shallallahu ‘alaihi wasallam  lalu memberi isyarat padanya, agar ia diam dan tidak menyebarkan isu tersebut, karena khawatir kaum musyrikin akan menyerbu ke arah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Isu terbunuhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut mirip dengan isu negatifnya opini publik terhadap suara partai dakwah, akibat quickcount. Padahal jihad siyasi belum selesai dan menurut hitungan internal jamaah dakwah, seharusnya suara yang masuk bisa bertambah sekitar 3 % lagi. Isu quickcount ini di satu sisi melemahkan ma’nawiyah para pengusung dakwah, namun di sisi lainnya dapat membuat pihak lain lebih berkonsentrasi pada hal-hal lain, termasuk koalisi Pilpres dan sebagainya. Sehingga ini adalah kesempatan emas bagi para pengusung dakwah untuk memaksimalkan pengawalan suara, sebagai bentuk finishing jihad siyasi pada level ini.

Akhirnya, perang Uhud pun ditutup dengan kisah pengutusan Ali bin Abi Thalib sebagai delegasi Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, untuk memastikan bahwa gerak-gerik musuh, sudah tidak membahayakan lagi bagi jamaah dakwah. Inilah bentuk finishing perang sesungguhnya, di saat banyak orang mengira perang sudah berakhir setelah kontak fisik selesai. Kata Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Ali:

اُخْرُجْ فِي آثَارِ الْقَوْمِ ، فَانْظُرْ مَاذَا يَصْنَعُونَ وَمَا يُرِيدُونَ فَإِنْ كَانُوا قَدْ جَنّبُوا الْخَيْلَ وَامْتَطَوْا الْإِبِلَ فَإِنّهُمْ يُرِيدُونَ مَكّةَ ، وَإِنْ رَكِبُوا الْخَيْلَ وَسَاقُوا الْإِبِلَ فَإِنّهُمْ يُرِيدُونَ الْمَدِينَةَ ، وَاَلّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَئِنْ أَرَادُوهَا لَأَسِيرَنّ إلَيْهِمْ فِيهَا ، ثُمّ لَأُنَاجِزَنّهُمْز

Artinya:

“Keluarlah untuk membuntuti kaum (musyrikin Quraisy), lihatlah apa yang mereka kerjakan dan apa yang mereka kehendaki. Jika mereka menjauhi kuda dan menunggang unta, berarti mereka hendak menuju Makkah. Sedangkan jika mereka menunggang kuda dan menggiring unta, berarti mereka hendak menuju Madinah. Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh seandainya mereka hendak ke Madinah, aku akan berjalan menuju mereka dan sungguh akan kuperangi mereka.”

Demikian pula halnya dengan jihad siyasi saat ini pasca penghitungan suara di TPS-TPS yang kemudian dibawa ke KPU Pusat maupun Daerah. Kami katakan kepada seluruh kader dakwah di manapun kalian berada:

“Keluarlah kalian membuntuti setiap aksi orang-orang yang tidak menyukai dakwah ini ke TPS-TPS hingga KPU/KPUD, lihatlah apa yang mereka kehendaki. Jika mereka jujur dalam penghitungan suara, maka biarkanlah mereka. Namun jika mereka kelihatan ada gelagat tidak amanah, melalui penggelembungan suara, manipulasi data dan sebagainya, maka lawanlah mereka dengan keras, sebagai bentuk finishing jihad siyasi.”

Wallahul musta’an.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 8,14 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ahmad Mifdlol Muthohar
Ahmad Mifdlol Muthohar mulai ikut dalam jamaah dakwah semenjak di Kairo, tahun 2000. Saat ini berstatus sebagai dosen tetap STAIN Salatiga, sejak tahun 2008, sambill ikut mengasuh di Pondok Pesantren Islam Terpadu Al-Hikmah, Karanggede, lihat http://ponpes-alhikmah.org/
  • Sejuki

    Gimana cara memantau dan mengawasinya boss, wong kartu C1 saja banyak yg gak terima?

    • Yang sudah terlanjur berarti anggap itu pelajaran buat mendatang, Rasul
      shallallahu ‘alaihi wasallam juga patah gigi beliau ketika perang Uhud,
      banyak korban juga dari kaum muslimin, termasuk sahabat senior, Hamzah
      dan Mush’ab bin ‘Umair, dan lain yang lainnya. Mendatang insyaAllah
      lebih baik lagi… Adapun jika masih bisa diproses untuk meminimalisir
      kekalahan, lakukanlah semaksimal mungkin. Hanya kepada Allah ta’ala kita
      berserah diri… Semua insyaAllah ada catatan pahalanya di akhirat
      kelak… :)

  • Muhammad Iqbal Matondang

    Ternyata banyak sekali yg iri dengan banyaknya suara PKS. malah sampai form c-1 ada yg disunat suara PKS. suara banteng malah di mark-up.. Mereka tidak tahu bahwa ALLAH SWT mengawasi mereka.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Pa Moyo)

Saat Eskalasi Perang Suriah Menjadi Perang Dunia