Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menjemput Kemenangan Dakwah

Menjemput Kemenangan Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ratusan Ribu Massa memadati Gelora Bung Karno saat kampanye Akbar PKS, Ahad (16/3/2014). (Foto: depoknews.com)
Ratusan Ribu Massa memadati Gelora Bung Karno saat kampanye Akbar PKS, Ahad (16/3/2014). (Foto: depoknews.com)

dakwatuna.com Tidak ada dakwah yang besar tanpa tantangan besar. Itu momentum yang disediakan Allah untuk membesarkan dakwah. Itu syarat kemenangan. ( Anis Matta)

Dakwah tidak akan pernah hidup, kecuali dengan jihad. Ketinggian dan luasnya cakrawala dakwah menjadi tolak ukur bagi keagungan jihad di jalan-Nya, besarnya harga yang harus dibayar untuk mendukungnya dan banyaknya pahala yang disediakan untuk para aktivisnya.

Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenarbenarnya. (Al-Hajj [22] :  78)

Dalam menjemput kemenangan dakwah ini kita mesti bekerja dengan sungguh-sungguh sehingga Allah-lah yang akan memberikannya pada kita, bahwa kita pantas untuk mendapatkannya.

Kemenangan Itu Karunia Allah

Kemenangan adalah karunia Allah. Maka kita perlu menjemput kemenangan ini, bagaimanakah caranya? Kemenangan tidak akan pernah sampai atau diberikan kecuali kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjihad), melakukannnya dengan optimal, karena Allah ingin melihat sejauh mana kita bersungguh-sungguh untuk mendapatkan kemenangan itu.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al-Baqarah[2]: 214).

Bisa jadi, kemenangan tertunda agar umat Islam mengerahkan kekuatan terakhir yang dimilikinya dan persediaan terakhir yang dimilikinya. Sehingga tidak tersisa yang istimewa maupun yang mahal, kecuali dikeluarkan dengan mudah dan murah di jalan Allah. Terkadang, kemenangan tertunda sampai umat merasakan akhir kekuatannya, hingga ia memahami bahwa kekuatan tanpa bantuan Allah, tidak menjamin kemenangan. Kemenangan itu dari dari Allah: ketika umat mengerahkan kekuatan pamungkasnya, kemudian bertawakkal kepada Allah.

Seperti dikisahkan pada zaman Nabi Musa bahwasanya Allah akan memberikan kemenangan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam memerangi musuh-musuh Allah.

Musa menjawab, “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. (QS. Asy-Syu’araa: 62)

Kemudiaan bisa diambil juga ibrah dari kisah Rasulullah saw sebagaimana terabadikan dalam surat At-Taubah [9] ayat 40,

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (At-Taubah[9]: 40).

Hikmah dari Kisah Nabi Yusuf

Sungguh, betapa beratnya tanggungjawab ini dan betapa luhurnya tugas ini. Orang lain melihatnya sebagai utopia, sedangkan kader dakwah melihatnya sebagai kenyataan. Kita tidak akan pernah berputus asa, dan kita memiliki harapan besar kepada Allah swt.

Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. (Yusuf [12]: 21)

Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. ( Ash-Shaff[61]: 13)

Perang Riddah

Abu Bakar telah mewakafkan hidupnya untuk Islam. Memang tak dapat diragukan lagi, ketika perang yang dipimpinya itu sangat menentukan sejarah Islam. Jika perang itu tidak dimenangkan oleh muslimin, pasti akan mendapatkan ancaman yaitu kembalinya orang-orang Arab ke dalam kehidupan jahiliah yang pertama. Namun, Allah swt  menghendaki agama-Nya mengalahkan semua agama, dan Abu Bakar ketika itulah menjadi bukti bahwasanya dengan kekuatan iman yang kuat akhirnya kemenangan dapat diraih sehingga tersebarlah Islam di Timur dan Barat yang kita lihat hingga saat ini.

Semoga kita bisa mengambil ibroh dari peristiwa-peristiwa di atas untuk memenangkan dakwah ini. Saudaraku, jika kita ingin menjemput kemenangan dakwah ini ada 3 hal yang harus kita ingat baik-baik:

1)      Kemenangan dakwah lebih dekat kepada yg bekerja optimal

2)      Kemenangan dakwah lebih dekat kepada kebersamaan (Amal Jama’i)

3      Kemenangan dakwah lebih dekat kepada orang-orang yang dekat pada pemiliknya yakni Allah swt.

Sehingga kita tetap bersemangat untuk memenangkan dakwah ini dengan terus beramal, bekerja keras dengan penuh cinta, dan Allah pasti akan melihat kesungguhan kita.

Salam Sepenuh Cinta dan #KobarkanSemangatIndonesia

*Ditulis ulang secara bebas dari Kajian DPC PKS Dramaga Bogor

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Alzena Valdis Rahayu
Alzena Valdis Rahayu, bernama asli Ririn Rahayu. Lahir di kota Serang 5 September 1988. Selama di kampus dulu ia aktif di berbagai organisasi internal dan eksternal salah satunya UKM TRAS (Tirtayasa Research Academic and Society), LDK Baabussalam, Himagron, Bem Faperta, KAMMI Untirta, dan FLP Serang. Selain itu juga penulis hobinya menulis, membaca, diskusi, dan travelling. Alumni Agroekoteknologi UNTIRTA. Aktivitas sekarang penulis sedang menempuh S2 Alhamdulillah penulis mendapatkan Beasiswa Unggulan Kemdiknas 2011 di Departemen Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi IPB. Motto hidupnya Selalu Belajar Sungguh-sungguh dan Berdoa.

Lihat Juga

Pesan PKS kepada Peserta Aksi: Jaga Kebersihan dan Keindahan Taman Kota