Home / Berita / Analisa / Pilkada Turki: Isu Korupsi dan Parallel State

Pilkada Turki: Isu Korupsi dan Parallel State

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Erdogan tunjukkan salam R4BIA usai diumumkan kemenangan AK-Parti dalam pemilukada Ahad kemarin (sofia-press.com)
Erdogan tunjukkan salam R4BIA usai diumumkan kemenangan AK-Parti dalam pemilukada Ahad kemarin (sofia-press.com)

dakwatuna.com Kampanye partai lainnya terlihat normal, namun AK Parti terlihat spesial. Di luar itu, ada pemain politik baru yang sebenarnya bukan politikus namun lebih aktif dari para politikus. Mereka adalah kelompok Gulen. Tema kampanye kali ini juga berbeda. Kampanye kali ini diwarnai perang isu korupsi yang ditodongkan kepada elit pemerintahan Erdogan, isu kudeta berbaju sipil yang ditodongkan kepada kelompok Gulen dan kritikan atas sikap politik partai oposisi yang terlihat bekerjasama. Seolah pemain inti pertarungan adalah pihak Erdogan dan Gulen, partai politik lainnya hanyalah penyemarak. Masyarakat pula dengan sangat antusias aktif menyuarakan pendapat dan dukungannya.

Pilkada 2014 dan Pergeseran Signifikansinya

Pilkada kali ini cukup berbeda. Setelah meletusnya operasi 17 Desember yang hadir dengan berbagai kepincangan prosedural, Erdogan menyebutnya sebagai usaha kudeta berbaju sipil demi kepentingan pihak-pihak tertentu. Erdogan pun menyebut perlawanannya sebagai perjuangan kemerdekaan, antara tunduk kepada keinginan kekuatan global, atau memegang teguh kepentingan bangsa. Dengan demikian, pemilihan kali ini mengalami pergeseran makna, dari sekedar pemilihan kepala daerah menjadi pengukuhan kehendak politik bangsa. Masyarakat pun memberikan jawaban. Di satu sisi, lewat koalisi dengan gerakan Gulen, terlihat ada ambisi kuat dari partai oposisi untuk menjatuhkan atau paling tidak memberi pelajaran kepada pemerintahan AK Parti apa pun harganya. Di sisi lain, masyarakat yang antusias memberikan dukungan kepada AK parti yang bisa dilihat dari pernyataan-pernyataan berbagai tokoh dan organisasi, di tambah perhelatan kampanye AK Parti yang terus menjadi fenomena. Yang terakhir kampanye Erdogan di Istanbul telah menjadi rekor bagi AK Parti dengan angka peserta di atas dua juta.

Pemilihan kepala daerah biasanya memiliki dinamika berbeda dari pemilihan umum. Ada tiga alasan pemilih yang cukup determinan: Ada pemilih ideologis, yang memberi suara atas dasar polarisasi. Dalam hal ini, simpatisan AK Parti tidak percaya sama sekali keabsahan tuduhan-tuduhan korupsi, kalangan oposisi pula mempercayai keseluruhan isi tuduhan tersebut. Kedua, pemilih yang menentukan pilihannya berdasarkan realita kehidupan sehari-hari, dari program nyata penyejahteraan dan pelayanan yang ia dapatkan. Ketiga, pemilih yang melihat kapabilitas calon atau pun melihat track record calon secara khusus. Menurut pemantauan lapangan oleh beberapa lembaga, operasi 17 Desember yang mengatasnamakan operasi korupsi tidak banyak merubah pilihan politik masyarakat, yang ada hanya membuat polarisasi yang semakin kontras.

Koalisi Oposisi

Yang sangat menarik dalam pilkada kali ini adalah kehadiran aktor non politisi, namun menjadi pemain utama dan cukup menentukan. Mereka adalah struktur paralel yang dituduh pemerintah sebagai boneka, dan merujuk kepada unsur organik dalam piramida gerakan Gulen yang sudah infiltrasi ke dalam pemerintahan dan memiliki infra stuktur sosial ekonomi yang kuat di tengah masyarakat. Aktor ini juga akrab disebut dengan Jemaah.

Dalam kesempatan ini Jemaah telah mengambil keputusan politik yang cukup ekstrim. Politik reaktif dengan formula ‘Beri AK Parti pelajaran tidak penting siapa yang akan memimpin’. Politik tanpa haluan ini terlihat bukan langkah konstuktif untuk memberikan kontribusi positif, tapi politik emosi menjatuhkan dan asal beda. Strateginya adalah dengan memberikan suara kepada partai mana saja yang kuat setelah AK Parti di daerah pemilihan yang terlihat AK Parti kuat. Jika di satu daerah, setelah AK Parti yang terkuat adalah Partai A, maka suara untuk partai A. Di daerah berbeda, setelah AK Parti yang terkuat adalah partai C, mereka suara ke partai C. (ensonhaber, 26.03.2014). List partai terkuat selain AK Parti untuk setiap daerah pemilihan pun sudah dipersiapkan dan disebarkan kepada para simpatisan. (yeniakit,13.03.2014)

Strategi ini didukung dengan propaganda (black campaign) demi menjatuhkan citra AK Parti dalam setiap kesempatan, disamping adanya politik aktif dalam mengkampanyekan partai tandingan AK Parti yang terkuat. Opini atau seruan untuk memberikan suara kepada partai CHP atau MHP merupakan mainstream media resmi jemaah Gulen seperti Koran Zaman, Bugun dan TV Samanyolu (sahin Alpay, zaman, 08.03.14; Ihsan Dagı, zaman, 14.02.2014 dan 08.03. 2014). Wajah ketua partai oposisi pun terus menghiasi media ini, baik itu dalam bentuk pemberitaan pidato-pidatonya yang menyerang AK Parti maupun dalam bentuk iklan kampanye partai. Usaha ini juga diperkuat lewat propaganda di berbagai kesempatan pengajian rumah, kunjungan ke rumah-rumah warga (genelgundem, 14.03.2014), penyebaran brosur, wejangan politik di pusat-pusat bimbingan belajar dan juga asrama-asrama yang dikelola pihak Jemaah. Tidak sampai disitu, juga terdapat tekanan dan intimidasi bagi simpatisan yang menyalahi atau pun tidak tunduk pada kebijakan ini. (aksam, 04.03.2014; yirmidorthaber, 10.03.2014; ahaber, 13.03.2014)

Koalisi tidak resmi yang sering disebut nikah mut’ah ini juga dikuatkan oleh seorang kolumnis berhaluan sekuler, Emin Colasan, lewat tulisannya di kolom Sozcu bertanggal 28.03.2014. Setelah memastikan bahwa Jemaah akan memberikan suara kepada partai terkuat tandingan AK Parti, Emin juga menyeru partisipan kedua partai CHP dan MHP untuk turut dalam koalisi ini, mengalah dan memberikan suara kepada partai sebelah yang dilihat kuat setelah AK parti, berdasarkan kondisi setiap daerah pemilihan. (Sozcu, 28.03.2014)

Efek Boomerang

Koalisi tidak resmi ini bisa memungkinkan efek boomerang bagi kedua partai ini. Di kota Siirt, calon walikota dari partai CHP, Abdulvehap Galip Cakmak telah menyatakan pengunduran diri dengan alasan ketiadaan wibawa partai sembari mempertanyakan untuk siapa partainya bekerja. Seminggu berselang, pada tanggal 26 Maret calon dari partai MHP pula mengundurkan diri dengan alasan bahwa partainya telah menjadi mainan Negara paralel.

Kerjasama yang dibangun CHP demi mendapat suara simpatisan Jemaah, di saat yang sama potensial untuk menggeser suara pendukungnya sendiri. Karena secara mendasar, simpatsan CHP tidak menyambut hangat kehadiran Jemaah. Mustafa Sen, Direktur lembaga survey GENAR menyatakan bahwa pendekatan pragmatis partai mana pun terhadap koalisi semacam ini, bisa berimbas negatif terhadap partai mereka sendiri. Dengan demikian, koalisi ini bisa jadi boomerang yang akan merugikan partai sendiri dan menjadi kesempatan ledakan suara bagi AK Parti (yeniakit, 13.03.2014).

Signifikasi Suara Kelompok Gulen

Latif Erdogan, seorang pembesar gerakan Gulen yang disebut sebagai sosok potensial menjadi pengganti Gulen, namun belakangan memisahkan diri sebab ketidak-sepahaman dengan Gulen, mengatakan bahwa mayoritas simpatisan gerakan Gulen merupakan pendukung AK Parti dan mereka tidak akan merubah pilihannya. Simpatisan yang merupakan anggota organik atau kader inti yang menempati posisi dalam organisasi gerakan atau di lembaga sosial-ekonomi milik jemaah, dan oleh sebab itu akan menaati seluruh instruksi dari atasan, hanya berjumlah sedikit tidak akan berpengaruh signifikan dalam pemilihan mana pun, tegasnya. (yeniakit, 21.01.14) Diperkirakan, suara ini berkisar 1.5 hingga 2 %.

Di sisi lain pula, serangan yang dilancarkan terhadap pemerintah mengatasnamakan operasi korupsi tidak banyak mempengaruhi opini masyarakat, yang ada hanya efek polarisasi yang semakin kontras. Salah seorang teman diskusi saya, seorang yang lebih dekat dengan pendekatan salafi, mengaku bahwa selama ini dia berhaluan golput karena melihat pemerintahan tidak seperti idealismenya. Namun untuk kali ini, saya akan memilih dan memberikan suara untuk ak parti, tegasnya. Saya yakin ada banyak orang yang berfikiran seperti beliau. Abdulkadir Selvi, dalam kolomnya di yenisafak memperkirakan bahwa akan ada ledakan suara sekitar 2.3 point untuk AK Parti akibat efek boomerang dan polarisasi ini. (yenisafak, 20.01.2014).

Jemaah-Jemaah Islam dan Kecenderungan Politiknya

Ketua redaksi situs timeturk, Nevzat Çiçek dalam sebuah seminarnya menyebutkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir ada dua peristiwa yang memperlihatkan pergeseran pandangan politik masyarakat Muslim Turki. Pertama, demo menentang Iran dan Hizbullah dan yang kedua pernyataan bersama hampir 97 NGO mendukung pemerintah Turki atas gerakan Gulen. Mengomentari fenomena kedua ini, kolumnis koran yenisafak, Ergun Yildirim menulis, organisasi yang mengeluarkan pernyataan ini hampir-hampir merupakan representasi seluruh kaum agamis Turki. Di dalamnya tergabung aliran klasik dan modern. Disamping institusi otentik seperti Menzil, Erenkoy, Risalah Nur, Suleyman Efendi dan Ismail Aga, juga terdapat kaum Islamis dan Milli Gorus yang melembaga dalam wadah institusi wakaf dan ormas. Dengan demikian, pernyataan ini bisa disebut sebagai pakta gerakan islam yang cukup luas dan koalisi kaum agamis (yenisafak, 12.01.2014).

Dukungan terhadap Erdogan secara terang-terangan terus berdatangan dari berbagai tokoh masyarakat. Mehmet Kırkıncı yang merupakan murid Said Nursi sekaligus guru Fethullah Gulen di situs pribadinya menyatakan dukungannya kepada Erdogan dan AK Parti dan melandaskannya pada pandangan politik Said Nursi terhadap partai demokrat di akhir masa hidupnya (mehmetkirkinci.com, 28.03.2014). Demikian juga kelompok Risalah Nur yang lain, telah mengeluarkan kecaman terhadap praktek-praktek yang mengancam stabilitas nasional, mengingatkan gerakan Gulen untuk tidak menyeret agama dan Risalah Nur dalam konflik politiknya serta menyatakan dukungannya kepada pemerintahan Erdogan (anadoluajansı, 31.12.13; 25.03.14). Kelompok Gulen yang menyatakan diri sebagai jemaah agama telah teralienasi dan terasing dari jemaah-jemaah Islam Turki, bahkan di kalangan komunitas Risalah Nur sendiri.

Dukungan dari jemaah Ismail Aga pula datang berupa qiyamullail yang dilanjutkan dengan panjatan doa untuk Erdogan (yeniakit, 29.03.14).

Angket Terakhir Menjelang Pilkada

Dalam dua angket terakhir yang masing-masing dirilis oleh lembaga Pollmark dan AG, terlihat suara AK Parti tetap di atas angka 45 seperti yang dinyatakan oleh AK Parti sendiri. Hasil ini lebih mendekati hasil pemilihan umum 2011 ketimbang pemilihan kepala daerah pada 2009.

Pemilihan umum 2011 menunjukkan hasil: AK Parti 49.9 %, CHP 25.9 %, MHP 12.9 %, Independen 6.58 %, SP 1.25 %, HAS 0.76 % dan BBP 0.74 %. Sedangkan pemilihan kepada daerah 2009 menunjukkan hasil: AK Parti 38.8 %, CHP 23.1 %, MHP 16.1 %, DTP 5.7 %, SP 5.2 %, DP 3.7 % dan DSP 2.8 %.

Angket yang dirilis Lembaga Pollmark pada 16 maret 2014 memperlihatkan bahwa untuk kota besar: AK Parti 49.4 %, CHP 28.3 %, MHP 13.2 %, BDP 6.2 % dan Lain-lain 2.9 %. Sedangkan untuk daerah pemilihan bukan kota besar: 49 % AK Parti, 14.9 % CHP, 22.6 % MHP, 2 % BDP dan 11.7 % lain-lain.

Pemilik lembaga survey AG, Adil Gür yang dikenal sebagai penebak jitu angka pemilihan, dalam survey yang dilakukannya lewat wawancara bertatap muka dengan peserta 6.076 orang di 49 provinsi, 518 kota dan pedesaan antara 22-23 Maret, memperlihatkan hasil sebagai berikut: AK Parti 40.9 %, CHP 22.9 %, MHP 15.6 %, BDP-HDP 6.8 %, SP 1.6 %, lain-lain 2.4 % dan abstain 9.8 %. Setelah suara abstain dikeluarkan maka hasilnya: AK Parti: 45.3 %, CHP 25.4 %, MHP 17.3 %, BDP-HDP 7.5 %, SP 1.8 %, dan lain-lain: 2.7 %.

Pilkada kali ini cukup berbeda. Semua pihak menanti hasilnya dengan berdebar. Erdogan melihatnya sebagai barometer kepercayaan rakyat, sedangkan bagi kelompok yang ia sebut sebagai negara paralel, ini menjadi penentuan keberadaannya. (msa/dakwatuna)

*Analisis ini ditulis sebelum pemilu lokal dilaksanakan.

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Andika Rahman Nasution
Mahasiswa di Turki, asal Labuhan Batu (Sumut). Kuliah S1 di International University of Africa, Khartoum-Sudan. Kuliah S2 di Marmara University, Istanbul-Turki.
  • Ahmad N Firdaus

    Alhamdulillah, pemimpin pembela islam satu2nya di dunia ini terpilih lagi #sujud syukur

Lihat Juga

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. (Islammemo.cc)

Erdogan Buktikan Eropa Mendukung Teroris