Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Belajar dari Tikus, Ayam, Kambing, dan Sapi

Belajar dari Tikus, Ayam, Kambing, dan Sapi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comAda kisah seekor tikus yang tinggal di suatu rumah bersama beberapa hewan lainnya. Si Tikus berperilaku baik selama di rumah, bahkan sering membantu pekerjaan tuan rumah. Beberapa hari selanjutnya, saat Si Ibu pulang dari pasar, ternyata Ibu tersebut membawa pulang beberapa perangkap tikus. Rupanya Si Ibu tidak suka dengan keberadaan seekor tikus di rumahnya.

Mengetahui ada banyak perangkap tikus yang dibawa oleh Si Ibu, Si tikus pun galau. Perjuangan yang dilakukan selama ini di rumah tersebut tak ternilai sama sekali. Karena, perangkap tikus ini merupakan  akhir dari kehidupan SI tikus. Ini merupakan akhir dari perjuangannya di rumah tersebut.

Kegalauan Si tikus kemudian disampaikan kepada sahabatnya, Si ayam. “Yam, tolong bantu aku, Si Ibu sudah membawa perangkap tikus untukku. Ini akan menjadi akhir dari hidupku.” Curhatan si Tikus ke Si Ayam ternyata tidak membuahkan hasil. Tak disangka, Si Ayam justru menjawabnya dengan ketus. Kata Si Ayam, “perangkap tikus itu kan urusan tikus, tidak ada hubungannya dengan Ayam.” Kemudian Si Tikus pun semakin sedih karena tidak mendapat dukungan dari sahabatnya, Si Ayam.

Keesokan harinya, Si tikus pun menemui sahabatnya, Si Kambing. Bertemu dengan Si Kambing, Si Tikus pun curhat yang sama, “Mbing, tolong bantu aku, Si Ibu membawakan perangkap tikus untukku. Ini akan menjadi akhir dari hidupku. Bantulah aku Mbing!” Si Kambing pun menjawab sama seperti ayam, “perangkap tikus itu bukan urusanku, itu kan masalahmu.” Si Tikus pun kembali sedih dengan mendengar jawaban dari Si Kambing sahabatnya.

Kemudian dia ingat, masih ada satu lagi sahabatnya, Si Sapi. Menemui Si Sapi, tikus pun kembali meminta bantuan yang sama. Lagi-lagi, SI Tikus mendapat jawaban yang menyedihkan, “perangkap tikus itu bukan urusanku, itu urusanmu. Tidak ada hubungannya denganku.” Tidak ada lagi tempat mengadu. Si Tikuspun hanya bisa pasrah. Sahabat-sahabatnya justru tidak mau membantunya.

Berjalannya waktu, perangkap tikuspun dipasang oleh Si Ibu. Tak disangka, ternyata perangkap tikus itu justru mengenai ekor Si Ular yang sedang berkeliaran di dalam rumah. Si Ular merasa kesakitan. Ketika si Ibu melewati perangkap tikus tersebut, Si Ular pun langsung mematok kaki Si Ibu dan menularkan bisanya yang beracun. Si Ibu langsung pingsan. Si Ayah  panik melihat istrinya terbaring tidak menyadarkan diri.

Si Ayah berpikir, apa yang harus diberikan kepada istrinya yang sedang kesakitan tersebut? Setelah mendapat saran dari tetangga, akhirnya Si Ayah membuatkan Sop Ayam hangat kepada istrinya. Ayam pun dipotong untuk dibuatkan sop. Si Ibu kemudian menikmati Sop Ayam hangat buatan suaminya.

Esoknya, Si Ibu pun tidak kunjung sembuh. Tetangga di sekitar rumahnya berdatangan untuk menjenguk Si Ibu. Si Ayah kembali panik, tetangga akan diberikan jamuan apa? Kemudian Si Ayah menyembelih kambingnya dan dibuatkan gulai kambing untuk diberikan kepada tetangga yang datang menjenguk istrinya.

Si Ibu tak kunjung sembuh juga. Hingga pada akhirnya SI Ibu tersebut meninggal dunia karena patokan ular berbisa tersebut. Satu kampung pun berdatangan untuk takziah ke rumah mereka. Ayah pun akhirnya memotong sapi miliknya untuk menjadi makanan para tamu yang datang takziah. Akhir cerita, tikus tetap selamat. Perangkap tikus yang dibeli ibu tidak berdampak apapun terhadap tikus. Justru perangkap tikus tersebut menjadi akhir dari kehidupan Si Ayam, Si Kambing, dan Si Sapi.

Belajar dari kisah di atas, saat Si Ayam, Si Kambing, dan Si Sapi menganggap bahwa perangkap tikus bukanlah urusannya, ternyata justru perangkap tikus itulah yang menjadi akhir hidupnya. Saat kita memutuskan untuk tidak mau peduli dengan urusan kecil orang lain, maka kita tidak pernah tahu, kelak urusan kecil tersebut justru akan menjadi urusan besar bagi kita. Yang perlu kita lakukan adalah membuka hati kita untuk mau peduli dengan urusan orang-orang di sekitar kita.

Mungkin saat ini kita merasa, pemilu yang akan berlangsung dalam waktu dekat ini tidaklah berpengaruh pada kesejahteraan kita. Lebih baik golput dari pada ikut memilih tapi tidak ada dampaknya bagi kita. Ada yang berkata, “satu suara saja gak berdampak kok buat pemilu.” Ada juga yang berpikir, “Ah, tidak ada orang yang pantas dipilih untuk menjadi wakil rakyat.” Berbagai macam alasan bisa diajukan untuk mewakili ketidakpeduliannya dalam pemilu.

Saat ini mungkin belum menjadi urusan kita, tapi kelak, ketika orang syiah sudah mendominasi parlemen dan bahkan memimpin negeri ini, apakah kita semua siap juga menjadi bagian dari masyarakat muslim yang dibantai Syiah seperti yang terjadi di Suriah? Ketika kelak, legislatif membuat undang-undang untuk melarang masyarakat Indonesia untuk berjilbab, apakah kita semua sudah siap? Ketika umat Islam saat ini lebih memilih untuk golput, apakah semua siap dipimpin oleh seorang non muslim? Siapkah kita semua kelak menanggung akibat dari ketidakpedulian kita saat ini?

Berbagai kalangan terlibat dalam pemilu kali ini, semua mengusung kepentingan yang berbeda. Masyarakat Islam harus bersatu untuk terlibat secara langsung dalam memenangkan pemilu ini. Jika anda saat ini merasa ini bukan urusan anda, dan lebih memilih untuk Golput, maka jangan pernah salahkan siapa-siapa ketika nanti anda pun akan menerima dampak buruk dari buruknya pemimpin negeri ini yang terpilih. Percayalah, masih ada banyak orang baik di negeri ini yang dengan tulus memperjuangkan kesejahteraan kita. Terlibatlah. Gunakan hak suara anda dalam pemilu mendatang. Salam Cinta, Kerja, dan Harmoni.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Irwan Rizadi
Alumni statistika UGM. Saat ini aktif di dunia pendidikan sebagai pendamping sekolah Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Sudah menikah dan memiliki 1 orang putra. Terlibat dalam aktivitas tarbiyah sejak 2009. Saat ini berdomisili di kota kelahirannya, Sumbawa Besar.
  • Fatahillah

    makanya jangan golput ya?…..

Lihat Juga

Belajar dari Para Petani