Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menyoal Pilih Memilih Pemimpin, Masih Adakah Harapan?

Menyoal Pilih Memilih Pemimpin, Masih Adakah Harapan?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (123rf.com)
Ilustrasi. (123rf.com)

dakwatuna.comDalam suatu perjalanan menuju Ibu Kota, di dalam sebuah bis ekonomi AC antar provinsi, dengan beragam penumpang di dalamnya, mulai dari bapak-bapak yang berpenampilan sederhana dengan tas gendong buruh khasnya, sampai pada mbak-mbak modis dengan tas mewahnya, dan pemuda-pemudi dengan ransel khas akademisinya cukup melengkapi heterogenitas mini di bis ini. Ada hal yang cukup menarik perhatian saya sepanjang perjalanan, hmm.. ya, bendera partai dilengkapi dengan foto-foto para calon anggota dewan legislatif yang akan beradu suara pada tanggal 9 April 2014 mendatang. Sepanjang perjalanan, pemandangan saya — dan mungkin kami semua — dipenuhi dengan poster, baliho, spanduk, dan bendera berisi slogan-slogan, visi, dan misi para calon.

Rupanya memang benar, aku tak sendiri, seorang bapak berpenampilan seperti buruh pabrik yang duduk tepat di depanku, sepertinya juga turut menjadi pengamat deretan media-media kampanye para caleg dari beragam parpol. Si Bapak itu berbicara pada dirinya sendiri (yang sebenarnya menurut analisis saya, si Bapak berharap teman sebangkunya merespon), “hmm..mubadzir sekali ya duit-duitnya, berapa duit nih mereka bikin gambar-gambar gituan? coba kalo disumbangin buat sekolah anak-anak miskin, lumayan tuh manfaatnya.”

 Benar saja, teman sebangku si Bapak, yang berpenampilan seorang akademisi, menanggapi hanya dengan senyuman santun. Si Bapak melanjutkan, “kalau saya sih Mas sudah muak sama yang kayak beginian. Gambarnya doang yang bisa turun tangan ke rakyat kecil, tapi jasadnya ongkang-ongkang di singgasana, yang seharusnya milik rakyat.”

Wuih, dalam hati ‘dalem juga nih kritik si Bapak.’ Perhatian saya mulai tertarik pada obrolan si Bapak dan si Pemuda dan penasaran juga nih si Pemuda akan menanggapi apa. Rupanya si Pemuda masih tetap lapang dadanya mendengarkan keluh kesah si Bapak, lagi-lagi hanya senyuman santun yang ia suguhkan. Lanjut si Bapak, “Coba Mas gimana gak muak, liat kelakuan para pembesar-pembesar negeri ini yang seharusnya melayani tapi malah sebaliknya, menodai peran sucinya sebagi pemimpin”

Hmm.. semakin seru. “Sekarang ini, saya jarang sekali, bahkan mungkin tidak pernah, melihat sosok pemimpin yang benar-benar tulus memperjuangkan kepentingan rakyat. Walaupun ada, mungkin sedikit sekali jumlahnya, seperti Bu Risma itu yang jadi Walikota Surabaya denger-denger kabarnya. Tapi ya sosok yang begitu sulitnya minta apapun ditemui. Lagi-lagi kasus korupsi, denger lagi di TV ngomongin korupsi, si Anu korupsi, si Itu Korupsi, begitu saja beritanya. Ya, percaya gak percaya sih sama para calon pemimpin di zaman sekarang, semuanya ngumbar janji doang. Partai yang benar-benar bersih dari korupsi di zaman sekarang, sepertinya cuma mimpi”

Si Pemuda mulai berkomentar perlahan, “Bapak benar, bahwa memang sulit sekali mencari sosok pemimpin yang baik. Tapi ya sebenarnya pasti ada,pak, para calon yang benar-benar ingin memperjuangkan kepentingan rakyat. Tinggal dari kitanya saja pak yang harus cerdas-cerdas memilih. Untuk itu, kalau menurut saya, kita pun memiliki peran penting pak untuk menentukan siapakah pemimpin kita nanti. Ya jangan sampai kita kehilangan hak kita untuk menentukan kebaikan masa depan negeri ini”.

Hehehe, gaya bicaranya khas akademisi banget. Si Bapak menanggapi, “benar, Mas. Tapi ya sedikit juga pemilih yang ‘bener-bener’ milih.”

Pemuda menjawab lagi singkat, “setidaknya dimulai dari diri sendiri, pak. Lebih bagus lagi bisa ngajak anak istri untuk ‘bener-bener’ milih.”

Si Bapak menjawab, “benar-benar, Mas. Oiya kenalkan saya Budiman”.

Pemuda menyambut tangan si Bapak, “Oiya pak, saya Irfan” hingga akhirnya mereka bisa mencairkan suasana satu sama lain dengan obrolan yang lebih hangat, dan sempat juga terdengar dari obrolan lanjutan mereka mengenai indeks partai terkorup di negeri ini dan nama-nama oknum pejabat yang terseret kasus korupsi.

Ya, begitulah suatu obrolan menyoal pilih memilih pemimpin di dalam bis yang saya tumpangi menuju Ibu Kota. Hemm, cukup menarik, sederhana tapi cukup membuat bahagia karena masih ada loh masyarakat yang perhatian menyoal pilih memilih pemimpin ini. Obrolan singkat tersebut menjadi bukti bahwa semangat perubahan itu masih membara di tubuh rakyat Indonesia. Memang benar menurut mas-mas akademisi itu bahwa salah satu cara untuk mengawali perubahan adalah dengan memulai dari diri sendiri (ibda’ bi nafsik). Berharap kebaikan itu penting bagi setiap orang. Begitu pentingnya, Allah SWT memfirmankannya dalam Al-Quran surat Yusuf ayat 12:

“….dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.”

Begitulah Allah SWT menenangkan kita semua, bahwa harapan itu masih ada, harapan untuk memiliki pemimpin yang benar-benar menjadi pelayan. Sebagaimana Umar bin Khattab saat menjadi Amirul Mu’minin meneruskan semangat juang Abu Bakar As-Sidq. Ialah pemimpin yang menolak dinaikkan gajinya, apalagi korupsi, walaupun dengan tanggung jawab wilayah kekuasaan yang lebih luas dibandingkan sebelumnya. Ialah pemimpin yang  tidak ingin anak-anaknya hidup berfoya-foya dengan alasan harta yang dimilikinya adalah milik rakyat, tapi coba lihat fenomena saat ini di mana anak-anak pejabat hidup bermewah-mewahan dengan harta milik rakyat. Umarlah seorang pemimpin yang mau mengakui kesalahannya saat bersalah dan meminta maaf. Umarlah seorang pemimpin yang meninjau langsung kehidupan rakyatnya dari satu rumah ke rumah yang lain. Umarlah seorang pemimpin yang memanggulkan gandum dengan bahunya sendiri untuk keluarga yang kelaparan di tengah malam buta. Dan begitulah Umar bin Khattab sebagai seorang pemimpin yang kita harapkan saat ini bukan? Lalu masih adakah? Pemimpin seperti Umar mungkin jarang sekali atau bahkan belum/tidak bisa ditemui di zaman ini, tapi berharap masih ada sosok-sosok calon pemimpin yang setidaknya mirip seperti Umar bin Khattab. Untuk itu, menyoal pilih memilih pemimpin dalam pesta demokrasi, mari cerdas dan cermat mengenal dan menentukan pilihan. Harapan itu masih ada..

Wallahu ‘alam..

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 8,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Mindyarina
Mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan, UI, Angkatan 2010 |Ketua Majelis Pertimbangan FPPI FIK UI 2013 | Koordinator Bidang Keakhwatan, Kaderisasi Salam UI 17 (2014) | President Director @Heritage_ID (Bisnis Fashion Muslimah)
  • agus supriyanto

    adakah pimpinan dari parpol islam yang blusukan mencari tahu kondisi ummatnya di dapilnya minimal melihat para kader yang ada dilapangan, lihat lah kondisi mereka rata2 secara ekonomi sulit tapi tangguh luar biasa namun mereka tak berdaya tuk membangkitkan ummat karena tak ada uluran dari tangan diatasnya

Lihat Juga

Ilustrasi. (twitter)

Ada Apa dengan Surat Al-Maidah?