Home / Berita / Nasional / Harlah NU ke-88, ‘Setia Menjaga NKRI’

Harlah NU ke-88, ‘Setia Menjaga NKRI’

Logo Nahdlatul Ulama (NU) - Foto: uninus.ac.id
Logo Nahdlatul Ulama (NU) – Foto: uninus.ac.id

dakwatuna.com – Jakarta. Pada 31 Januari, 88 tahun lalu, tepatnya 1926, Nahdlatul Ulama (NU) berdiri. KH Hasyim Asyari di daulat sebagai rais akbar organisasi yang berbasis massa kalangan santri tersebut.

Organisasi ini tumbuh dan berkembang sebagai salah satu kekuatan masyarakat sipil civil society yang banyak berkontribusi bagi bangsa dan negara. Tidak hanya di bidang agama, juga ekonomi, pendidikan, dan lain sebagainya.

Maka, gairah mengabdi kepada agama dan bangsa inilah yang menjadi semangat dan ruh utama peringatan hari ulang tahun (harlah) ke-88 NU pada Jumat (31/1).

Acara yang digelar sederhana itu berlangsung hikmat dan bermakna. Sejumlah tokoh nasional dan segenap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hadir dalam acara yang mengangkat tema Setia Menjaga NKRI tersebut.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj menegaskan, NU berjanji akan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Keutuhan NKRI harus tetap dijaga, tidak hanya secara geografis, tapi secara politik, ekonomi, dan budaya. Indonesia kembali menjadi negara yang berdaulat, kata dia.

Dia menerangkan, NU awalnya lahir dari budaya Islam nusantara dan berkembang dalam budaya nusantara dengan segala gelombang yang terjadi di atasnya.

Bahkan, ketika nusantara dalam penjajahan, NU dengan gigih mempertahankan identitas kenusantaraan dan berjuang penuh melawan penjajah yang ingin melenyapkan kenusantaraan.

Hadirnya reformasi dengan semangat liberalisme yang tanpa batas, lanjutnya, menjadikan upaya merombak NKRI serta mengganti atau merevisi Pancasila terus berjalan.

Kiai Said menambahkan, dilihat dari sudut pertahanan (militer), integritas NKRI sudah mulai mengendor, terbukti dengan terjadinya pelanggaran wilayah oleh pasukan asing.

Di segi ekonomi, sejak diberlakukannya liberalisasi perdagangan dengan dibebaskannya investasi asing masuk ke seluruh sektor strategis maka bisa dilihat bahwa saat ini ekonomi nasional tidak lagi di bawah kendali bangsa sendiri, melainkan telah dikuasai asing.

Di sektor kebudayaan, pengaruh asing mulai menerobos hingga ke sektor privat dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Sementara, informasi dari dunia internasional yang dikendalikan kapitalis global yang berpandangan hidup liberal tetaplah begitu jauh memengaruhi cara berpikir, sikap, dan tindakan masyarakat di negeri ini, jelas Kiai Said.

Lebih jauh, Said berkomitmen untuk menjaga keutuhan NKRI ini. Sarana yang paling tepat adalah Pancasila. Pasalnya, Pancasila dengan falsafah Bhinneka Tunggal Ika merupakan tali pengikat keragaman bangsa ini.

Bagi NU membela NKRI dan Pancasila merupakan keharusan politik untuk menjaga kesatuan dan kedamaian negeri ini dan sekaligus merupakan kewajiban syari membela negara wajib hukumnya.

Komitmen ini akan tetap dipertahankan, bahkan hingga genap berusia satu abad kelak. “Kesetiaan ini perlu ditegaskan,” ungkap dia. (rol/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Ketua Umum (Ketum) Pengurus Pusat (PP) Ikatan Persaudaraan Imam Masjid (IPIM), Prof. Dr. KH. Ali Musthofa Ya'qub - (Foto: kaskus.co.id)

KH Ali Musthofa Ya’qub Dinilai Sebagai Ulama yang Berani

Organization