Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mana Amplopnya?

Mana Amplopnya?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi. (Foto: chietitoday.it)
Ilustrasi. (Foto: chietitoday.it)

dakwatuna.com Hari itu aku datang untuk memenuhi undangan untuk memberi sedikit taushiyah tentang “sosok wanita teladan” di acara pengajian kumpulan ibu-ibu.  Tadinya aku berasumsi ini adalah kajian rutin ibu-ibu rumah tangga biasa yang memang dimiliki tiap desa di kotaku tercinta ini.

“Bu Dokter, mengingatkan lagi, bahwa hari ini pukul 15.30 Ibu akan mengisi pengajian kami di jalan Teuku Umar.  Mohon hadir tepat waktu dan jangan lupa ya Bu?”

Itu bunyi short-message-service (SMS) yang ke-5 dengan nada yang kurang lebih sama dari SMS pertama, dalam 2 hari terakhir.  Sepertinya sang pengundang sangat mengharapkan kehadiranku.  Aku tertegun, makin gelisah.  Jangan-jangan ada orang penting di kajian tersebut sehingga si pengundang ini sangat ingin sang penceramah datang tepat waktu.  “Kira-kira siapa ya?” batinku.

Aku pernah menanyakannya pada sang pengundang, kira-kira siapa yang akan menjadi audiensku nanti?  Beliau menginformasikan bahwa kajian tersebut semacam arisan bulanan para alumni SMP negeri 1 Banda Aceh lulusan tahun 87.  Info ini membuatku lebih tenang, paling tidak suasana kajian tersebut mungkin akan jadi lebih informal dan relaks daripada kajian-kajian di kantor-kantor dinas.  Mungkin.

Tapi…hatiku masih menggalau.  OK deh, aku akan mempersiapkan materi sebaik-baiknya, dengan bahasa se-umum yang kubisa.   Namun masih ada dag-dig-dug, karena belum pernah mengenal mereka.  Bahkan pengundangnya pun aku tidak terlalu ingat rupa dan parasnya.  Hanya pernah sekali bertemu pada sebuah acara di kampus.  Apakah materi ini sesuai dengan keinginan mereka? Apakah bahasaku akan jadi terlalu akademis ataukah terlalu sulit untuk dipahami? Apakah dandananku akan membuat jarak di antara kami makin lebar? Mampukah aku menyentuh relung hati para audiens dan mendorong mereka untuk berubah?

Berpuluh pertanyaan menyerbuku, membuatku makin gundah.  Betapa lemahnya kemampuanku untuk berdakwah.  Acara seperti ini saja sudah cukup membuatku gelisah.  Maka kusadari, it’s time to ask my source of energy, Allah SWT, Yang Maha Kuat dan Maha Hebat, untuk melancarkan tugasku kali ini.

Jurus doa dari Nabi Musa AS menjadi senjataku.  Kuyakini, doa adalah senjata orang beriman.  Aku berbisik penuh harap: “Rabbisy rahliy Shadriy, wa yassirliy amriy, wahlul ‘uqdatan min lisaniy, yafqahuu qawliy.  Ya Allah Penciptaku, mohon lapangkan dadaku, mudahkan urusanku, lepaskan ikatan di lidahku sehingga mereka memahami perkataanku.  Aamiin, Ya Rabb.  Ku mohon perkenankanlah”.

Siang itu aku sibuk mempersiapkan diri semaksimal mungkin. Shalat Dhuha. Tilawah sejuz terlebih dahulu.  Pakaian terbaik, presentasi terbaik, datang tepat waktu.  Dengan hati berdebar aku masuk ke gedung yang dituju, sesuai alamat, namun tiada seorang pun yang menyambut.  Aku clingak-clinguk, tak ada orang yang dapat ditanyai apakah ini alamat yang tepat.  Tapi ada tangga yang menuju ke atas.  Tiba-tiba dari tangga tersebut turun seorang pemuda berpakaian pekerja catering,

“Maaf Dik, apakah ada pengajian ibu-ibu di gedung ini?” tanyaku ragu-ragu.

“Oh Iya, Bu.  Benar.  Ada di lantai 2.  Silakan ibu naik saja, sudah ramai ibu-ibu yang datang dan menunggu ibu Ustadzah”, jawabnya.

Ha? Tiba-tiba aku jadi panik.  Apakah arlojiku salah? Bukankah aku datang 5 menit lebih awal? Apakah aku salah membaca SMS? Di sana tertulis acara akan diadakan pukul 15.30.  Kulihat arlojiku, sekarang baru pukul 15.25.  Dengan adrenalin yang makin memuncak aku menaiki tangga ke lantai dua.  Lebih parah lagi, rasa ingin buang air kecil karena nervous makin meningkatkan siksaan ini pada level berikutnya.  Kepalaku ikut berdenyut, perut terasa agak mulas.  Tapi aku harus terus maju.

Ruangan itu cukup luas dan tertata apik. Udara sejuk berhembus dari pendingin ruangan yang menebar bau harum ke seluruh penjurunya.   Ada permadani tebal yang menutupi hampir seluruh lantai.  Ada sebuah meja antik di pojoknya yang telah penuh terisi dengan hidangan dalam mangkuk-mangkuk yang indah.

Penampilan para peserta kajian pun tak kalah apik.  Mereka tampil cantik dalam balutan busana eksklusif namun tetap menutup aurat.  Tampaklah bahwa pengajian kali ini dihadiri orang-orang berkelas.

“Mari silakan, Bu Ustadzah.  Kami sengaja meminta teman-teman datang lebih awal, mengingat kebiasaan jam karet bangsa kita. Hihihi.  Tapi ustadzah tidak terlambat, kok.  Malah ini lebih cepat lima menit dari undangan.  Jangan kaget karena sudah ramai yang datang ya Bu…” kata Bu Ike menyambutku.

Kecanggunganku terpecahkan oleh sambutan sang pengundang, Bu Ike, yang kemudian memperkenalkan aku pada audiens.  Tanpa banyak basa-basi Beliau mempersilakan aku untuk membuka dan memulai kajian hari itu.

Alhamdulillah, setelah beberapa menit dimulai dengan perkenalan dan materi ringan, suasana yang tadinya terasa agak canggung mulai mencair.  Apalagi setelah beberapa orang mulai memberikan komentar-komentar lucu terhadap ceramahku, jarak yang tadinya jauh kini mulai mendekat.  Mereka bahkan mau interupsi untuk bertanya soal ini dan itu, membuatku makin lama makin nyaman dan tidak lagi terlalu berhati-hati.  Alhamdulillah.

“Bu Ustadzah, ketika saya membaca artikel di internet bahwa masak dan mencuci itu bukan tugas istri, saya mulai malas memasak, Bu.  Suami saya kemudian protes, dan bertanya dari mana saya mendengar hal itu?  Saya jawab, dari internet.  Kini suami rajin mendorong saya untuk ikut pengajian.  Katanya supaya saya tidak mengaji dengan ‘aliran sesat’ di internet. Hihihi.”

Ada-ada saja komentar ibu-ibu tersebut.  Dari judul materi “sosok wanita teladan” kucoba mengaitkannya dengan jawaban terhadap pertanyaan ibu tadi.  Alhamdulillah, mereka mengerti dan menanggapinya dengan sikap yang bijak.

Kami shalat Ashar berjamaah, makan bersama, sambil mengisinya dengan tanya jawab ringan.  Aku berusaha mengingat nama-nama mereka, Ada Bu Cut, Bu Henny, Bu Vivi, Bu Nana, Bu Yanti, Bu Novi, Bu Dara, dan beberapa nama lain yang belum berhasil teregistrasi di benakku.  Saat aku pamit hendak pulang, Bu Henny menyematkan sebuah amplop putih ke dalam genggamanku.

“Bu, ini ada sedikit oleh-oleh dari Paris, dan ini titipan teman-teman untuk Bu Ustadzah”

Aku menolak dengan halus,

“Terima kasih, tapi tidak perlu, Bu.  Insya Allah saya sudah berkecukupan.”

“Ayolah Bu Ustadzah, ini hanya sedikit ongkos transport dari kami” desaknya lagi.

Aku tersenyum.

“Maaf Bu, saya ini orang kaya.  Dokter.  Punya mobil, lagi.” Kataku bercanda.

“Iya, Bu Ustadzah memang orang kaya.  Tapi saya lebih kaya lagi…hihihi….” sambungnya dengan mata jenaka.

“Kalau begitu ini saya terima.  Tapi akan saya sumbangkan untuk Palestina ya Bu?” tanyaku pada Beliau dan ibu-ibu lainnya.

Bu Henny tertegun.  Memang dalam ceramah tadi aku juga menyelipkan beberapa kisah tentang kejadian-kejadian di Palestina yang sungguh memerlukan bantuan kita, para saudara mereka.

“Kalau begitu amplop tadi saya minta lagi” katanya tiba-tiba.

Aku terkejut.  Ibu-ibu lainnya pun sepertinya terdiam.  Apa maunya?

“Maksud saya, mungkin saya dan teman-teman ingin ikut menyumbang.  Mana Bu Ustadzah, amplopnya?”

Aku menghela nafas lega.  Amplop tadi beredar dari tangan Bu Henny ke tangan ibu-ibu lainnya yang kemudian sibuk menyelipkan lembaran-lembaran merah, biru dan hijau ke dalamnya.

“Sumbangan yang terkumpul dari kita totalnya Rp.1.720.000.  Alhamdulillah.  Ini Bu Ustadzah…” kata bu Henny mengumumkan perolehan dana hari itu.  Mataku berkaca-kaca.  Tak kusangka, begitu dermawan mereka.  Maka aku pimpin sebuah doa, lanjutan dari penutup majelis tadi, memohon bantuan Allah kepada saudara-saudara kami di Palestina, dan meminta bagian dari berkah tanah para nabi itu bagi kami, yang ribuan mil jaraknya dari sana.  Tapi hati kami, sungguh terpaut denganmu, wahai negeri masjid Al Aqsha.   Semoga Allah menguatkan langkah kami hingga suatu hari bertemu dengan para pembelanya, di taman-taman surga.  Aamiin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (27 votes, average: 8,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
dr. Rosaria Indah, M.Sc
Dosen di Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Aktif mengisi ceramah di kalangan ibu-ibu dan mahasiswa.

Lihat Juga

Seminar Manajemen Masjid