Home / Berita / Opini / Hentikan Pengiriman TKW!

Hentikan Pengiriman TKW!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Inet)
Ilustrasi (Inet)

dakwatuna.com Berbagai persoalan yang dihadapi bangsa ini kian hari kian pelik. Belum selesai kasus korupsi, banjir, minuman beralkohol, kriminalitas, gunung meletus, dan lainnya, sekarang muncul lagi kasus klasik, penganiayaan TKW. Adalah Erwina Sulistyaningsih, TKW yang menjadi korban penganiayaan di Hongkong. Erwina ditemukan dalam kondisi yang mengenaskan dan dipulangkan karena sudah tidak sanggup bekerja lagi. Inilah salah satu bukti pemerintah telah gagal melindungi warganya di negeri orang.

Pemerintah seperti tidak serius menangani kasus persoalan perlindungan TKI khususnya yang menimpa TKW. Meski menyatakan telah melakukan upaya-upaya perlindungan terhadap TKI, namun pemerintah cenderung reaktif terhadap persoalan ini, pemerintah hanya menunggu ada kasus yang mencuat dan penyelesaiannya pun tidak menyentuh akar persoalan. Sehingga kasus-kasus serupa sering bermunculan.

Kenapa Bisa Terjadi?

Mencuatnya kasus-kasus penganiayaan yang sering menimpa TKW, tidak bisa dilepaskan dari kegagalan system ekonomi kapitalisme yang diterapkan di Indonesia. Indonesia tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai bagi rakyat, karena kegiatan ekonominya lebih fokus pada aspek non riil. Sehingga pertumbuhan angka pengangguran terus bertambah tiap tahunnya, sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan angka pengangguran. Tingkat pengangguran Indonesia tiap tahun 9 juta, sementara skala pertumbuhan 1 persen untuk 200 ribu tenaga kerja, maka untuk menyerap tenaga kerja yang begitu besar, dibutuhkan pertumbuhan ekonomi sebesar 45 persen per tahun. Hal inilah yang kemudian mendorong pemerintah untuk menyalurkan TKI dan TKW ke luar negeri, dan para TKI dan TKW yang mengalami keadaan ekonomi yang carut-marut dan tidak memiliki pekerjaan juga akhirnya lebih memilih bekerja keluar negeri.

Selain aspek Sistemik yang menjadi penyebab terjadinya pengiriman TKW keluar negeri serta terjadinya penganiayaan terhadap mereka, aspek filosofi juga memberi pengaruh munculnya kasus-kasus serupa. Kenapa demikian? Bagi sebagian perempuan, bekerja bukan hanya untuk mencari penghasilan tambahan atau bekerja sampingan, tetapi sebagai ajang untuk mengaktualisasikan diri. Dengan peran dan profesi yang digelutinya, mereka tidak ingin dianggap sebagai masyarakat kelas dua. Pandangan ini terbentuk karena racun filosofi kesetaraan gender yang merasuki para perempuan Indonesia, yang sengaja dipropagandakan oleh Negara-negara kafir Barat penjajah. Tujuannya adalah untuk menghancurkan tatanan keluarga dan sosial di negeri-negeri kaum Muslim. Padahal, Islam telah memuliakan perempuan dengan menjadikan mereka sebagai ibu dan pengatur rumah (umm wa rabbatu al-bait), dan menjadikan mereka sebagai ratu di rumah-rumah mereka. Karena seluruh kebutuhan mereka telah dipenuhi oleh kepala rumah tangga, yang tak lain adalah pria yang menjadi suaminya.

Selama system kapitalisme yang diterapkan di negeri ini, selama itu pula persoalan TKW tidak akan pernah terselesaikan secara tuntas.

Jalan Keluar

Islam memandang perempuan sebagai kehormatan yang harus dijaga, di mana fungsi dan tugas utamanya adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga (umm wa rabbatu al-bayt). Di sinilah cara Islam memuliakan perempuan. Di sisi lain, Islam telah mewajibkan kepada para pria dewasa untuk memberikan nafkah kepada keluarganya dan yang menjadi tanggungannya. Maka, bekerja atau mencari nafkah bukanlah kewajiban perempuan.

Untuk menyelesaikan problem pengangguran serta kasus-kasus seperti yang menimpa TKI di luar negeri, Negara harus menyediakan lapangan kerja yang lebih banyak yang bisa menyerap tenaga kerja yang ada di sini. Untuk menjamin ketersediaan lapangan kerja, kegiatan ekonomi non-riil harus ditutup, digantikan dengan sektor riil, hal itu bisa dilakukan dengan berbagai proyek pembangunan dan pengambilalihan pengelolaan sumber daya alam yang selama ini diserahkan pada asing…

Negara juga harus memberikan pelatihan skill dan keterampilan, hingga pemodalan, jika warganya tidak memiliki modal yang cukup untuk memulai usaha.

Dengan demikian, produksi, konsumsi dan distribusi barang dan jasa, baik di bidang industri, pertanian dan perdagangan akan selalu membutuhkan jumlah jasa yang besar. Dengan begitu, tidak akan lagi ada pengangguran. Jika semuanya ini bisa diwujudkan, maka kondisi yang memaksa kaum perempuan untuk bekerja itu tidak ada lagi. Sehingga kasus penganiayaan terhadap TKW juga tidak akan terjadi.

Semua itu hanya akan terjadi bila negara berbentuk institusi Khilafah dan menerapkan sistem ekonomi Islam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 7,40 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Pendidik Generasi di HSG SD Khoiru Ummah Mahad Al-Abqary Serang-Banten, Member of Belajar Nulis (BN 0020).
  • Bunda Nunu

    tapi sayangnya ada yang kurang dalam tulisan ini, anda lupa ada sebagian perempuan yang tak memiliki suami karena telah brcerai, atau ditinggal pergi atau meninggal dunia. siapa lagi yang akan menjadi tulang punggung keluarga jika anak2 yang ditinggalkan masih kecil2?? siapa lagi kalo bukan perempuan (ibu).

    Ayolah tak perlu selalu mengkritik orang lain ataupun pemerintah, jika kau berilmu buatlah aksi nyata.

    karena saya anak dari seorang TKW

  • N~chep’s

    msh ada kesempatan di aprrasanya sy pesimis, dinegeri yg multi partai, mereka berjuang demi partainya bukan demi rakyat yg memilihnya

Lihat Juga

TKI Dihukum Mati, Migrant Care: Apakah Masih Penting Umrah ke Saudi?