Home / Berita / Daerah / 72 Sekolah Luluh Lantak Di terjang Banjir Bandang

72 Sekolah Luluh Lantak Di terjang Banjir Bandang

Banjir Bandang yang menerjang Manado pada Rabu, 15/1 (Foto: merdeka.com)
Banjir Bandang yang menerjang Manado pada Rabu, 15/1 (Foto: merdeka.com)

dakwatuna.com – Manado . Banjir yang meluluhlantakkan Kota Manado, Rabu (15/1), hingga kini Masih menyisakan kepedihan yang dalam. Kota Manado lumpuh, genangan lumpur dan tumpukan  sampah yang menggunung terdapat di pelosok-pelosok kota. Berbagai aktivitas warga lumpuh total, termasuk keberlangsungan proses belajar mengajar di 72 Sekolah (10 TK, 49 SD, 7 SMP, 5 SMU) di Kota Manado.

Hingga saat ini kondisi 72 sekolah tersebut, sangat memprihatinkan. Terutama dua Sekolah Dasar mengalami dampak kerusakan yang paling parah yakni, SDN 52 Manado di Ternate Tanjung Kecamatan Singkil dan SDN 109 Manado di Pakowa Kecamatan Wanea.

Berdasarkan laporan Koordinator Lapangan Tim Disaster Emergency and Relief Management-Aksi Cepat Tanggap, Diding Fachrudin, kondisi di kedua sekolah tersebut sungguh memprihatinkan. Lumpur tebal ada di mana-mana baik di luar maupun di dalam ruangan. Semua inventaris dan data-data sekolah hanyut tersapu air bah. Kondisi bangunan hancur dan luluh lantak. Meja kursi kelas tak beraturan tertancap di lumpur.

Menurut saksi mata bernama Noval Dalita, ia melihat air bah menghantam SDN 52 Manado dengan sangat dahsyat. ketinggian air saat itu diperkirakan mencapai tiga meter.

“Sekolah so nyanda dapa lia, cuman dapa lia depe seng, (Sekolah sudah tidak terlihat, yang terlihat hanya Atap Sengnya saja.),” ujarnya dengan bahasa Manado.

Sementara Wakil Kepala Sekolah SDN 109 Manado, Hetty Turanga mengatakan, banjir menyapu sekolah dan perumahan guru di sekelilingnya.

“Air bah datang tiga kali, untung kita sudah di atas, tapi rumah-rumah guru di bawah hhancur semua,” ujarnya dengan terbata-bata, dengan pandangan nanar penuh traumatis.

Beberapa rumah guru yang berada di sekitar SDN 109 memang ikut tersapu banjir. Untuk saat ini mereka mengungsi di beberapa rumah warga yang letaknya berada di bukit belakang sekolah. Hingga saat ini belum bisa dipastikan kapan aktivitas belajar mengajar akan kembali dimulai. Sementara kondisi sekolahnya sendiri hingga kini masih luluh-lantak tak karuan.

Diding menambahkan, sebagian besar masyarakat masih mengungsi di masjid, gereja dan sekolah-sekolah. Warga masih membutuhkan makanan, air bersih dan pakaian layak pakai juga pakaian dalam.

“Meski kiriman logistik lancar, sepertinya tidak ada yang mensosialisasikan kepada masyarakat lokasi posko-posko banjir. Sehingga, banyak yang tidak memperoleh bantuan,” kata dia.

Sampai saat ini, kerugian banjir Manado diperkirakan mencapai Rp 1,8 triliun. Sekitar 3.611 rumah rusak ringan, 1.966 rumah rusak sedang, 4.789 rumah rusak berat, 38 masjid rusak, 28 gereja, dan empat klenteng juga rusak. Adapun jumlah korban meninggal mencapai 19 orang. (act/sbb/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 7,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Syaeful Bahri)

Perlukah Orang Tua Mengantar ke Sekolah?