Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Alhamdulillah Karena Berucap Alhamdulillah

Alhamdulillah Karena Berucap Alhamdulillah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (dakwatuna.com/hdn)
Ilustrasi (dakwatuna.com/hdn)

dakwatuna.com – Pagi seolah tak pernah lelah untuk bertasbih dan bersyukur pada Allah, karena ia selalu menyapa dengan kehangatan yang sama dan bermanfaat. Sungguh tak pernah lelah.

Bersyukur itu antara mudah dan sulit.

Mudah kalau mendapat nikmat yang besar dan istimewa serta terlihat saat itu juga. Misal mendapat hadiah mobil, diterima di perguruan tinggi, dapat pekerjaan yang bagus, dan sebagainya.

Namun bersyukur itu sangat sulit ketika nikmat itu menjelma menjadi sebuah hal kecil dan selalu ada serta tanpa disadari bahkan mungkin tak terlihat oleh mata. Seperti bernafas, sehat, dapat mendengar, melihat bahkan masih menjadi muslim.

Ya, nikmat Islam adalah nikmat terbesar yang membawa keberkahan dan ampunan. Subhanallah wal hamdulillah.

terkadang nikmat itu pun seolah tak ada hari ini, yang ada sedih pun nelangsa, apalagi ketika hari ini kita kehilangan handphone misalnya atau dapat nilai yang jelek, terkena macet, maka nikmat seolah menghilang dari hadapan, yang ada sumpah serapah, kesal, sedih, pun merasa sial.

Padahal ia cuma satu kesedihan namun bisa merusak semua kenikmatan yang sudah ada. Rasa kepemilikan yang tinggi dan cinta yang berlebihan terhadap barang dan, seseorang atau suatu hal dapat menutup sensor bersyukur manusia terhadap Tuhannya, Allah swt.

Itulah mengapa Allah harus berada di tempat yang tertinggi, ia adalah cinta nomor satu di dunia akhirat, pun di seluruh tempat yang Allah ciptakan.

Bersyukur akan mendatangkan berkah dan rezeki yang berlimpah, jalan hidup akan terasa mudah. Meskipun kesulitan dan kesedihan akan selalu ada, ia hanya singgah sementara. Bersyukur akan melapangkan hati dan tidak mudah iri. Serta berpikir positif dan memicu kreativitas karena ia melihat apa yang bisa ia lakukan dengan apa yang ada dihadapannya, tidak dikhawatirkan oleh sesuatu yang belum ada dan pasti ada.

Jikalau pun sulit juga untuk mengucap syukur karena tak tahu apa yang harus disyukuri,

Bersyukurlah karena mampu berucap syukur, yakni alhamdulillah.

Ketika mampu berucap alhamdulillah, itu pun adalah nikmat.

Bahkan bisa jadi nikmat tertinggi. Karena Allah memberikan lisan yang selalu mengucap syukur, Alhamdulillah.

Dari Aisyah, kebiasaan Rasulullah jika menyaksikan hal-hal yang beliau sukai adalah mengucapkan “Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat”. Sedangkan jika beliau menyaksikan hal-hal yang tidak menyenangkan beliau mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal“” (HR Ibnu Majah no 3803 dinilai hasan oleh al Albani)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi dan Pengajar.

Lihat Juga

Lautan Makna di Balik Tahmid