Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sepenggal Senyum dari-Mu

Sepenggal Senyum dari-Mu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com

Yaa Allah…
Hidayah dari-Mu adalah harta tak ternilai harganya. Bak sebentuk hadiah yang khusus Engkau berikan kepada hamba pilihan. Takaburkah aku jika sepenggal senyum yang Engkau berikan-yang bisa kurasakan-adalah sebentuk hidayah dari-Mu?

Yaa Allah…
Selayaknya hadiah yang diberikan kepada orang terpilih, hidayah itu adalah sesuatu yang spesial, indah, dan terbaik. Sang pemberi hadiah itu pasti memiliki keinginan agar hadiah itu dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya, menjadikannya amal shalih, dijaga, dan selalu bersyukur pada sang pemberinya. Namun, saat penerima hadiah itu lalai menjaganya, usanglah sudah si hadiah. Teronggok begitu saja tak terurus. Sudah hilanglah makna hadiah yang indah itu menjadi benda yang biasa-tak berharga. Jika si pemberi hadiah itu tahu hadiah darinya kini tak lagi bermanfaat, bahkan disia-siakan, tersayatlah hatinya.

Yaa Allah…
Akulah sang penerima hadiah Hidayah dari-Mu itu. Aku yang menyia-nyiakan hidayah terindah bagiku. Membiarkannya hilang meninggalkanku. Engkau Sang Pemberi Hidayah itu pastilah marah kepadaku, hingga Engkau mengambil hidayah itu. Kesadaranku utuh kembali saat hidayah tak ada lagi dalam genggamanku. Aku kehilangan ketenangan. Kehilangan kerinduan. Kehilangan kesejukan air mata. Kehilangan nikmat mengadu kepada-Mu. Kehilangan sepenggal senyum-Mu.

Yaa Allah…
Akulah manusia yang sempat menjadi kaki tangan syetan. Hatiku hitam dan membatu. Hingga pada saatnya aku sulit sekali mengenali diri ini, seakan sudah sangat berjubel syetan-syetan bersemayam. Syetan menertawaiku beramai-ramai, setelah aku melepaskan hidayah dari-Mu dan kemenangan mereka menumbangkan keimananku. Aku tersekat. Tersekat tabir yang begitu tebalnya dari-Mu ya Rabb. Bahkan sekarang sangat sulit sekali meresapi sepenggal senyum-Mu yang dulu bisa aku resapi dalam hati.

Yaa Allah…
Ampuni aku…ampuni kebiadaban diriku. Ampuni jiwaku yang telah membatu dan membusuk ini. Jiwa hina tiada tara. Air mataku hilang. Hatiku menghitam. Pikiranku mengental. Aku tak bisa lagi rasakan rindu kepada-Mu, kepada kekasih-Mu, kepada orang-orang yang mencintai-Mu. Sekat ini begitu tebal. Sekat yang terbuat dari kelalaianku pada-Mu.

Yaa Allah…
Aku kembali mengetuk pintu-Mu, berharap Engkau membukakan lagi untukku. Memberikanku sepenggal senyum seperti dulu pada setiap jawaban doa dan tangis yang kulantunkan untuk-Mu. Memberikanku rindu mengadu cinta kepada-Mu. Memberikanku ketenangan setiap deru cobaan menghadangku. Memberikanku kesempatan dekat dengan kekasih-Mu, mencintai yang dicintai oleh-Mu, dan menjadi keluarga-Mu.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Wanita yang selalu ingin menjadi Syam'ah (lilin/cahaya) yang terang dan menerangi setiap insan di sekitarnya. Wanita yang selalu belajar menjadi akhwat fillah dan istiqomah menjaga izzah. Wanita yang ingin semulia Khadijah binti Khuwailid, secerdas 'Aisyah binti Abu Bakar, dan setabah Saudah binti Zam'ah.

Lihat Juga

Ilustrasi. (seputarmalang.com)

Begitu Melimpah Nikmat Allah, Maka Berqurbanlah