Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mawar di Tepi Pematang

Mawar di Tepi Pematang

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Muhamad Fauzi)
Ilustrasi. (Muhamad Fauzi)

dakwatuna.com Nama pemakaman Bergota ini sudah sering aku dengar, namun baru sekali aku menyusuri ujung-ujungnya. Kurasa pemakaman teramat luas bila dibandingkan makam di desa-desa kecil sekitar tempat tinggalku. Perhatianku juga tertuju pada bunga mawar yang dijajakan para pedagang di makam ini, mungkin bunga-bunga ini dipetik dari sekitar desa-desa yang dekat dengan tempat aku tinggal.

Bunga mawar ini yang membuat aku tak habis pikir, dari harganya yang teramat menakjubkan, begitu tinggikah nilai yang dimilikinya? Mengapa sayur atau buah yang tidak hanya lezat namun kandungan gizinya sangat bermanfaat, harganya tidak sebaik bunga-bunga yang hanya untuk ditaruh berserakan layu di atas makam-makam ini?

Kadangkala para petani teramat terpukul, ketika harga sawi, tomat atau wortel sedang jatuh, hanya tiga ratus rupiah tiap kilonya, hingga dibiarkan membusuk di tangkainya, atau untuk makanan ternak seperti halnya rerumputan. Jangankan untuk mengembalikan modal, untuk memetik dan membawanya ke pasar saja tidak menutup ongkos. Sedang bunga mawar ini seukuran keranjangnya bisa mencapai ratusan ribu rupiah di hari tertentu seperti Lebaran, bahkan pada hari Jum’at Kliwon bulan Ruwah kemarin mencapai tujuh ratus ribu rupiah.

Dan andai para penghuni kubur ini dapat berbicara dengan kita, kuyakin mereka akan menangis, mengapa ungkapan cinta dan persembahan yang kita berikan untuk mereka hanya berupa bunga-bunga yang akan layu berserakan. Seandainya persembahan kita untuk para penghuni kubur ini diwujudkan dalam bentuk menyantuni orang miskin, anak yatim atau kaum papa yang teramat membutuhkan, niscaya akan lebih bermanfaat bagi ahli kubur ini dan juga bagi kita. Para ahli kubur ini dirugikan oleh bunga-bunga tersebut, karena mengurangi amal dan sedekah yang semestinya kita berikan dalam bentuk lain yang lebih bermanfaat. Tak jauh di sebelah pemakaman ini, di antara orang-orang yang berada di rumah sakit itu, terdapat orang-orang yang begitu merasakan nilai rupiah demi rupiah untuk menyambung asa. Tidakkah kita berpikir uang puluhan ribu untuk beberapa kuntum bunga itu akan lebih bermakna bila diberikan pada hal-hal yang berfaedah.

Aku berpikir, rezeki nomplok yang didapat petani itu lebih barokah dan halalan thayyiban jika diperoleh dari penjualan tanaman pangan, buah, atau sayur yang mengandung nutrisi yang baik dan menyehatkan. Namun sepertinya para petani tidak mempunyai kuasa untuk menentukannya, mungkin hal ini merupakan sebuah ujian yang telah ditetapkan bagi mereka. Aku sering mendengar konon uang yang didapat dari penjualan bunga ini meski banyak, namun cepat habisnya. Mungkin seperti yang pernah kudengar dari seorang pedagang tembakau bahwa jual beli tembakau kebanyakan berujung maksiat.

Rasulullah SAW pernah meletakkan pelepah kurma basah di atas sebuah kubur. Namun setahuku hanya dilakukan sekali saja, bahkan juga tidak memerintahkan para sahabat dan umatnya untuk mencontoh tindakan tersebut. Beliau SAW tidak memerintahkan kita meletakkan pelepah kurma, pelepah pisang, pelepah kaktus atau bunga di atas makam. Setahuku, basahnya pelepah tersebut merupakan tenggang waktu atas syafaat Beliau SAW berupa keringanan hukuman sementara. Wallahu a’lam.

Hanya menurut logikaku, jika di Negeri Arab yang tandus ditradisikan meletakkan pelepah kurma basah di makam, maka akan mengancam ketahanan pangan penduduknya. Di Pulau Bali yang subur saja penggunaan janur untuk sesaji menghancurkan produksi tanaman kelapa di daerah tersebut, bahkan masih kurang, harus mendatangkan janur dari luar. Tentunya logika di pikiran kita tak selamanya benar. Di Negeri Arab yang tandus, tiap musim Haji disembelih jutaan kambing untuk kurban dan membayar dam, namun di sana tidak pernah kekurangan kambing. Konon kambing di sana diberi makan kertas, tapi kambingnya gemuk-gemuk. Sedang di negeri yang subur dan kaya akan rumput segar ini, sulit membuat kambing menjadi gemuk. Tiap musim kurban harga kambing selalu melonjak, padahal yang melaksanakan kurban di daerahku hanya segelintir orang saja dari yang seharusnya mampu. Katanya di sana enam ratus ribuan bisa mendapatkan seekor kambing, jauh lebih murah dibanding di negeri ini.

Maka pada setiap akhir Ramadhan, harga bunga yang begitu menggiurkan membuat para pemetik bunga tak tertarik lagi akan keutamaan bulan suci tersebut atau iming-iming pahala lailatul qadar. Kesibukan memetik bunga tidak lagi mengenal waktu siang dan malam, bahkan terkadang harus berjaga malam di sawah untuk mengamankan bunga dari pencuri. Hingga ketika lebaran, uang banyak yang didapat dengan cara mudah tersebut mungkin menjadi penyebab orang-orang begitu enteng mengeluarkannya untuk hal-hal yang berbau hura-hura, kembang api dan petasan. Sebagaimana melonjaknya harga tembakau, sering diikuti melonjaknya kasus perceraian, HIV dan bubarnya majelis ilmu hingga bubarnya jamaah shalat Jum’at.

Dan semoga aku senantiasa diberi keteguhan akan tekadku ini, sekalipun bunga mawar atau tembakau mengiming-imingi aku uang yang melimpah, aku lebih memilih menanam tanaman yang memberi manfaat bagi orang-orang. Jika hasil yang kudapat di dunia ini tidak sebaik yang mereka dapat, aku berharap semoga menjadi simpananku di akhirat kelak. Namun aku juga berharap jika suatu saat nanti saat kesadaran orang-orang telah terbuka, tanaman-tanaman yang halalan thayyiban ini menjadi lebih berharga. Atau kelak orang-orang menanam bunga ini untuk dimanfaatkan madunya yang bermanfaat, bukan untuk sesaji di atas pusara.

Pilihan untuk menebar kemanfaatan ini aku harap menjadi motivasi agar aku masih dikuatkan untuk melanjutkan karya di antara ketidakberdayaanku ini. Rumah sakit sebelah pemakaman ini, hampir dua puluh tahun ini menjadi saksi, hingga pernah menjadi seperti rumahku yang ke dua. Tempat di mana lebih mudah untuk mengerti makna kehidupan, pengharapan, syukur dan kesetiakawanan.

Wahai bunga mawar di tepi pematang, engkau begitu indah dipandang, namun setelah itu layu begitu saja. Aku lebih terkesan pada seonggok bangkai yang terbuang, namun ada makhluk lain yang mengambil faedahnya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Seribu Mawar untuk Mawar

Organization