Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menjadi Orang yang Memotivasi atau Malah Sebaliknya?

Menjadi Orang yang Memotivasi atau Malah Sebaliknya?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com Bismillah.

Saya ingin berbagi cerita dengan pembaca semua. Sebenarnya saya cukup bingung untuk merangkai kata-katanya. Ingin merangkainya dalam bentuk cerpen tapi sedikit membuat saya bingung.  Jadi saya memulainya dengan kejadian berikut:

Saya mengirim sms ke ustadzah Fatimah:

“Asslm. Afwan ustadzah, Ana menyerah bahasa Arab. Ana sudah tertinggal jauh dan Ana malas belajar jadi Ana menyerah saja. Ana masih bingung gimana caranya ngomong sama ustadz”.

Balasan Ustadzah Fatimah:

“Wa’alaikumsalam…duh ukhty, qt hanya perlu bljr bersama kok. No more.hayoo doa al ma’tsuratnya dikencengin biar malasnya hilang ^_^”

Saya membaca balasan smsnya, “Al-ma’tsurat, belakngan ini al ma’tsuratku memang berantakan” kataku dalam hati. Saya tidak membalas pesan beliau karena saya memang sudah memantapkan hati untuk menyerah.

Kemudian ustadz yang mengajar bahasa Arab mengirim pesan:

“Limaaza anti laa tahduriina al yaum,,isbhirii maíi…innallaaha ma’a shobirin,,”

Saya kaget membaca pesan ustadz. Andaikan beliau hanya menanyakan ketidakhadiran, mungkin saya akan langsung menjawab bahwa saya sudah menyerah tapi ada pesan yang menyertainya “innallaaha ma’a shobirin”. Membuatku tidak bisa membalas pesan beliau. Saya di kantor saat itu jadi saya kembali mengerjakan tugasku di kantor. Kemudian berselang beberapa lama, ustadz mengirim pesan lagi.

“Limaaza laa tujiibiina?”

Waduh saya bingung. Kemudian saya mencoba untuk meyakinkan diri “iya ya, kenapa saya harus menyerah??? Sebenarnya saya hanya cukup belajar, mengulangi pelajaran yang sudah berlalu agar vocabnya bisa diingat lagi. Saya hanya perlu belajar tanpa ada beban pikiran ‘harus bisa karena yang lainnya sudah bisa’ cukup belajar saja dan jangan menambah beban pikiran”. Sip, saya mulai meperbaiki niat lagi dan mantap untuk lanjut. Kemudian saya membalas pesan ustadz.

“He he….Insya Allah …Saazhabu godhan ustadz…Aasif yaa ustadz” (Insya Allah saya akan pergi besok…Maaf yaa ustadz).

Pada saat belajar, saya bertemu ustadzah Fatimah dan Subhanallah, saya sangat takjub dengan pemaparan beliau. Kurang lebihnya beliau mengatakan ini:

“Gini lo ukhty, kenapa Ana sangat mempertahankan bahasa Arab ini walaupun saya sering kesulitan membagi waktu karena saya takutnya ketika saya menyerah maka ini akan memberikan dampak kepada teman-teman yang lain. Ketika kita menyerah di mustawa 3 ini maka secara otomatis itu akan berdampak kepada orang-orang yang baru ikut. Mereka akan berfikir bahwa ternyata belajar bahasa Arab itu “sangat susah” karena hanya segelintir orang yang bisa bertahan”.

Ilustrasi. (inet/Dakwatuna/hdn)
Ilustrasi. (inet/Dakwatuna/hdn)

Nah, itu sedikit cerita dari apa yang saya alami, kenapa saya sangat ingin berbagi ini. Itu karena kejadian ini cukup membuat saya introspeksi diri dan memberikan saya motivasi. Terkadang kita merasa bahwa kita sangat lemah dan beralasan untuk meninggalkan sesuatu padahal kita hanya ingin mengurangi beban pikiran yang sebenarnya itu hanya dalih agar kita bisa punya waktu luang untuk mengerjakan sesuatu yang tidak begitu bermanfaat. Dan sebagai orang yang tertarbiyah (bisa dikatakan aktivis dakwah Insya Allah), kita terkadang lupa akan akibat dari tindakan kita. Saya masih ingat dengan artikel yang pernah saya baca di Dakwatuna ini juga. Saya tidak begitu ingat judulnya. Yang dapat saya simpulkan dari artikel itu bahwa futurnya seseorang, mungkin itu diakibatkan oleh kita. Okelah, hidayah itu Allah yang memberi, hati itu Allah yang berkuasa untuk memutarbalikkan tapi jangan sampai, lewat kitalah hidayah mereka itu dicabut. Na’udzubillah…

Jadi yang ingin saya bagi di sini adalah sebisa mungkin kita bisa jadi orang yang dapat memotivasi orang lain untuk jadi lebih baik, tidak sebaliknya. Jadi setiap apa yang kita lakukan. Kita sebaiknya belajar untuk memikirkan dampak dari keputusan/ kelakuan kita. Baik itu untuk kita secara pribadi, orang lain atau untuk jamaah kita sendiri. Karena walau bagaimanapun, seperti yang dikatakan oleh MR saya bahwa kitalah pionir2 dari dakwah/jamaah ini. Jadi ketika kita melakukan suatu kesalahan maka itu akan sangat berpengaruh pada dakwah/jamaah itu sendiri.  Sebagai contoh juga, untuk aktivis-aktivis di kampus. Saya tidak tau bagaimana perkembangan aktivis di kampus sekarang ini (karena sudah lulus he…), saat zamannya saya, ada beberapa bahkan sebagian besar aktivis itu tidak memperhatikan tugas “belajar”nya. Karena banyaknya amanah, rapat sana sini. Kegiatan sana sini sampai mereka tidak memperhatikan nilai IP ataupun pelajarannya. Padahal ikhwah sekalian, itu merupakan salah satu citra yang dapat dinilai oleh mahasiswa lain maupun dosen-dosen. Bagaimana mungkin kita bisa mendakwahi mereka padahal kita sendiri tidak bisa mengatur kehidupan dan kewajiban kita sebagai mahasiswa. Nilai IP memang tidak menjamin karena sebagian dosen tidak memberikan nilai yang objektif tapi ketika kita tidak membuat masalah, saya yakin kita tidak akan mendapatkan masalah.

Intinya adalah, ketika kita sudah “tertabiyah” dan mungkin mendapat julukan sebagai “aktivis dakwah” maka kita harus berhati-hati dengan apa yang kita lakukan karena semua perilaku kita akan sangat berpengaruh pada dakwah itu sendiri. Jadi, ketika memang “kadar keimanan kita menurun”, maka kita harus selalu mengingatkan kepada diri kita sendiri akan “amanah” yang kita emban sehingga diharapkan kita tetap pada koridor yang benar atau bahasa kasarnya “tidak membuat malu”. Jadilah orang yang hanya dengan melihat atau berada di sekitar kita, orang-orang di sekitar kita akan termotivasi untuk jadi lebih baik. Bukan orang yang ketika orang lain melihat, maka bukannya memberikan motivasi tapi malah membuat “down” orang lain. Tapi jangan pernah merasa enggan untuk menerima “amanah” hanya karena takut berbuat kesalahan yang akhirnya memberikan dampak negatif pada dakwah. Manusia tidak luput dari salah dan khilaf ikhwah sekalian tapi kita harus berusaha melakukan yang terbaik.

“Ketika tidak bisa membantu menyelesaikan masalah, maka janganlah menambah masalah”

Itu adalah kalimat yang cukup berkesan untuk saya pribadi. Jadi ketika kondisi keimanan kita “down” dan tidak bisa berpartisipasi dalam agenda dakwah, maka berusaha untuk memperbaiki diri sendiri dan jangan menambah masalah.

Oh iya satu lagi, jangan sampai pembaca sekalian berfikir bahwa saya menganjurkan agar kita melakukan sesuatu hanya untuk riya (dilihat orang), bukan itu, semuanya pasti dengan niat karena mendapat Ridha Allah tapi yang ingin saya tekankan adalah sebagai orang yang tertarbiyah, yang Insya Allah termasuk orang-orang yang diberi kesempatan untuk merasakan nikmatnya iman dalam jamaah ini, maka mau tidak mau, apapun yang kita lakukan akan memberi dampak pada dakwah itu sendiri. Apakah itu dampak baik maupun sebaliknya.

Saya hanya berbagi pengalaman yang semoga dengan ini memberikan manfaat untuk pembaca.

Wallahu’alam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Bekerja di Bank Syariah. Aktif di Iqro' Club di salah satu kota Jawa Timur.
  • Buku Sukses Hidup

    Kesuksesan tidak harus berarti sesuatu yang besar yang dicapai. Kesuksesan kecil yang diraih setiap haripun merupakan sebuah kesuksesan sesungguhnya.

    • Aisyah

      iya setuju..bahkan kesuksesan yang dianggap “Besar” itu berasal dari kesuksesan “kecil” yang diukir dalam keseharian kita Insya Allah…..

    • Aisyah

      iya setuju..bahkan kesuksesan yang dianggap “Besar” itu berasal dari kesuksesan “kecil” yang diukir dalam keseharian kita Insya Allah…..

Lihat Juga

Bergairah Menjadi Aktivis Tarbiyah