Home / Berita / Daerah / “Di Tembagapura, Kami Berdakwah Lewat Udara”

“Di Tembagapura, Kami Berdakwah Lewat Udara”

Sejumlah warga muslim Papua melaksanakan Shalat Magrib setelah buka puasa bersama di Masjid Al-Haq, Pomako, Distrik Mimika Timur, Timika, Papua (29/7).FOTO ANTARA/Spedy Paereng/Koz/Spt/12.
Sejumlah warga muslim Papua melaksanakan Shalat Magrib setelah buka puasa bersama di Masjid Al-Haq, Pomako, Distrik Mimika Timur, Timika, Papua (29/7).FOTO ANTARA/Spedy Paereng/Koz/Spt/12.

dakwatuna.com – Tembagapura. Geliat dakwah menggema di Tembagapura, Mimika, Papua. Adalah Radio Himpunan Masyarakat Muslim (HMM) Papua yang mengudara 24 jam di frekuensi 103,5 FM.

Kepala Radio Suara HMM Papua Budi Wibowo mengatakan, Radio Suara HMM menjadi ujung tombak syiar dakwah Islam di Tembagapura.

Radio yang berada di Komplek Masjid Darus Sa’adah Tembagapura ini berkomitmen memberikan syiar Islam kepada warga yang sebagian besar karyawan PT Freeport Indonesia ini. “Tapi jangkauan kita sampai Timika, Kuala Kencana bahkan Pelabuhan Port Said,” ujar Budi ,di Tembagapura, Ahad (15/9).

Selain menyiarkan kegiatan Masjid Darus Sa’adah seperti ta’lim sebelum dan sesudah Shalat Maghrib, pengajian rutin, Radio Suara HMM Papua juga membuat acara khusus Ramadhan. “Saat Ramadhan, program dakwah kita 60 persen,” ungkap pria asal Malang ini.

Radio yang berada 2000 meter di atas permukaan laut ini dikelola secara profesional. Meski semua pengisinya karyawan PT Freeport Indonesia yang harus bekerja setiap harinya.

Siaran dilakukan setiap pagi hingga siang hari setelah karyawan selesai bekerja. Sementara karyawan yang masuk pagi akan siaran mulai pukul 20.00 WIT setiap harinya. “Penyiar sukarela tanpa bayaran,” papar bapak dua anak ini.

Budi juga mengaku Radio Suara HMM Papua tidak hanya didengarkan kalangan Muslim. Untuk merangkul pendengar, Radio Suara HMM juga memutar lagu-lagu jazz, keroncong, bahkan dangdut disamping lagu-lagu religi. “Merangkul tanpa menghilangkan esensi dakwah,” ungkap Budi.

Awalnya, Radio Suara HMM didirikan oleh beberapa karyawan Freeport yang hobi elektronik tahun 1988. Sejak awal, Suara HMM memang didirikan dengan nafas Islami. Pekerja tambang yang jauh dari keluarga dan di daerah terisolir membuat mereka membutuhkan hiburan sekaligus penyegaran rohani.

Ketua Departemen Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Himpunan Masyarakat Muslim (HMM) Papua Joppy Radianto mengatakan, ke depan, Suara HMM akan menambah kapasitas pemancarnya.

“Dari 500 menjadi 1000 watt,” ungkapnya. Joppy mengaku program-program Suara HMM mendapat dukungan penuh dari perusahaan. Termasuk kebutuhan peralatan, perusahaan menanggung seluruh biayanya.

Ke depan, Suara HMM akan merekrut Sumber Daya Manusia (SDM) yang fokus menangani radio. Joppy beralasan, jika karyawan yang mengelola radio akan ditinggal saat jam-jam kerja. “Kita ingin 24  jam ada penyiarnya,” ucap Joppy.

Keberadaan Suara HMM, ujar Joppy juga cukup vital sesuai kebutuhan penyampaian informasi oleh perusahaan. Pesan-pesan keselamatan bagi pekerja, bisa dilakukan oleh perusahaan via Radio Suara HMM. (hm/rol)

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Lembaga Dakwah Membina Hubungan dengan Pers