Home / Berita / Internasional / Afrika / Belajar Sambil Bekerja, Itulah Keseharian Mahasiswa Indonesia di Mesir

Belajar Sambil Bekerja, Itulah Keseharian Mahasiswa Indonesia di Mesir

Peluncuran program beasiswa kemanusiaan untuk percepatan kelulusan bagi 60 mahasiswa dan Pembagian Paket Sembako, (3/9/13) Foto:ACT
Peluncuran program beasiswa kemanusiaan untuk percepatan kelulusan bagi 60 mahasiswa dan Pembagian Paket Sembako, (3/9/13) Foto:ACT

dakwatuna.com – Nasr City, Kairo. Demo besar yang melibatkan jutaan orang kembali membanjiri penjuru Mesir pada Jum’at (30/8/2013). Sejumlah stasiun televisi setempat menyiarkan secara langsung, ada tuntutan mendesak yang disuarakan para demonstran agar kondisi Mesir yang kian terpuruk bisa segera bangkit kembali.

Salah satu tuntutan para pendemo jika tidak ada perubahan dalam pemerintahan transisi saat ini, mereka akan melakukan mogok sosial. Kondisi itu tentu menjadi ancaman tersendiri, jika tidak ditanggapi dengan serius, apalagi penerapan Undang-Undang Darurat yang ditandai berlakunya jam malam yang semula pukul 19.00 – 06.00 dan berubah 21.00 – 06.00 cukup berdampak pada perekonomian.

Kondisi darurat terlebih dalam 2 (dua) bulan terakhir telah membuat harga kebutuhan pokok semakin meningkat dan cukup berpengaruh pada kemampuan daya beli WNI.

Dari sekitar 3.800 mahasiswa Indonesia yang kuliah di Mesir, hanya sedikit sekali yang memperoleh beasiswa, dan umumnya mahasiswa dari ekonomi kurang mampu.

Kondisi ini juga berpengaruh pada prestasi belajar mereka dan menghambat kelulusan. Tak heran jika ada mahasiswa yang sudah mengenyam pendidikan lebih dari 6, 7, 8 atau 10 tahun belum menyelesaikan strata 1.

Meski demikian, pihak Universitas Al-Azhar, yang menampung sebagian besar mahasiswa asal Indonesia dan Pemerintah Mesir memahami kondisi mahasiswa yang harus mencari nafkah dan menutup mata jika para WNI bekerja di sektor informal.

Sehingga program-program beasiswa dari berbagai lembaga di Indonesia sangat penting. ACT memandang program beasiswa untuk mahasiswa Indonesia di Mesir sangat penting dan mendesak, sehingga ACT meluncurkan program beasiswa kemanusiaan untuk percepatan kelulusan bagi 60 mahasiswa yang akan direalisasikan pada bulan September ini.

Menurut Doddy Cleveland Hidayat, Ketua Tim ACT SOS – Egypt, timnya terus memantau perkembangan situasi di Mesir yang masih belum stabil. Kondisi memang nampak normal, namun dengan demonstrasi yang terus terjadi di Mesir sepatutnya membuat WNI harus tetap waspada dan berhati-hati.

“ Tim ACT berupaya untuk lebih memahami kondisi WNI dan berupaya menampung berbagai informasi dari mereka, sehingga bisa bersama-sama mendapatkan solusi terbaik berbagai permasalahan yang ada,” ujar Doddy. (Sty/act/sbb/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Surat Cinta dari Mahasiswa untuk MUI