Home / Berita / Opini / Mensikapi Fitnah Fatwa

Mensikapi Fitnah Fatwa

Dr. Taufiq Hulaimi

fitnah stopdakwatuna.com – Peristiwa kudeta militer atas pemerintahan sah yang dihasilkan melalui proses demokrasi, yang ditanggapi dengan demonstrasi besar-besaran para pendukung Presiden Mursi, telah berimplikasi munculnya dua pihak bertikai baik di wilayah konflik ataupun jauh di luarnya. Ironisnya kedua belah pihak kadang sama-sama mengagungkan asma Allah swt.; sama-sama bersyahadat ain.

Perseteruan antara keduanya tidak sebatas perseteruan di kancah politik. Tapi juga merambah ke dalam kancah fatwa. Masih-masing pihak ingin memberikan legitimasi Dien Islam atas sikapnya masing-masing. Baik sikap yang membunuh atau yang dibunuh.

Syeikh Ali Jum’ah, mantan mufti Mesir, mengeluarkan fatwa yang mendukung langkah-langkah kudeta di Mesir yang dipimpin oleh  Brigjend As-Sisi. Termasuk di dalamnya langkah pembunuhan secara brutal terhadap demonstran damai tak bersenjata di Rab’ah Adawiyah . Fatwa ini menjadi landasan agama bagi militer Mesir untuk membantai.

Fatwa Ali Jum’ah diamini oleh seorang Imam Masjidil Haram, Syeikh Abdurrahman Sudais. Ia mendukung langkah-langkah Abdullah, raja Kerajaan Saudi, yang mendukung kudeta militer Mesir. Abdullah adalah orang yang pertama kali mengucapkan selamat kepada As-Sisi atas keberhasilan mengkudeta Presiden Mursi.  Sebelumnya Syeikhul Azhar juga mendukung kudeta ini.

Di sisi lain, 56 ulama Saudi mengecam kudeta militer di Mesir, dan memfatwakan bahwa kudeta tersebut adalah perbuatan haram dan kejahatan. Segala langkah yang diambil setelah kudeta ini adalah kejahatan yang diharamkan.

Munculnya fatwa-fatwa yang saling bertolak belakang tersebut membuat umat Islam kebingungan. Fatwa manakah yang haq? Bingung menentukan antara fatwa yang haq dan yang bathil bisa disebut fitnah. (red. Fitnah bukan menuduh orang tidak bersalah melakukan kesalahan).

Sebab Timbulnya Fitnah

Suatu hal yang pasti dalam kondisi fitnah fatwa adalah kepastian bahwa al-haq hanya satu. Tidak mungkin kedua fatwa itu benar. Pasti salah satu di antara keduanya ada yang bathil. Mungkin kita merasa heran bukankah kedua fatwa tersebut dikeluarkan oleh ulama? Jawabannya ada di ayat berikut ini:

“Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu ia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu syaitan) maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. 35:8)

Ayat ini menunjukkan bahwa dalam kondisi fitnah apapun, pasti ada peran syaitan yang membuat al-haq menjadi samar.

Bagaimana Membedakan Al-Haq dari Al-Bathil?

Sebenarnya kebenaran sangat sederhana dan mudah dipahami. Namun kepentingan dunia membuat manusia sulit melihat cahaya kebenaran. Pada akhirnya kebenaran disamarkan hanya untuk memperoleh kepentingan dunia.

Membedakan antara fatwa haq dan bathil bisa dilakukan dengan cara sederhana, yaitu dengan menilai di antara kedua fatwa tersebut, mana fatwa yang lebih berorientasi akhirat, dan tidak peduli dengan ancaman di dunia ini? Dipastikan fatwa yang seperti inilah yang haq.

“Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. 87:17)

Fatwa haq adalah Fatwa Yang membuat musuh Islam Marah:

Membedakan antara fatwa yang haq dan yang bathil bisa juga dilakukan dengan melihat fatwa mana yang membuat musuh Islam tidak senang dan marah. Karena tabiat dakwah Islam adalah membuat musuh Islam kesal dan marah.

Dalam surat Yasin disebutkan bahwa ketika para rasul berdakwah, penduduk negeri yang didakwahi merasa sial karena dakwah tersebut. “Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami”. (QS. 36:18)

Syaikh Syuraim, salah satu Imam Masjidil Haram, dalam akun twitter nya menulis: “Menggunakan krisis Mesir untuk menuduh pengusung haq bahwa mereka hanya sekedar fanatik kelompok hanya kebiasaan musuh para Rasul, mereka tetap yakin dengan kebenaran mereka.” (msa/sbb/dkw)

Wallahu ‘Alam

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • Ibnu Gaoel

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Ketika seorang
    ulama meninggalkan apa yang ia ketahui dari Al-Qu’an dan as-Sunnah lalu
    mengikuti keputusan penguasa yang bertentangan dengan hukum Allah dan
    Rasul-Nya, maka ia telah murtad dan berhak mendapat hukuman di dunia
    maupun di akhirat. Allah berfirman,

Lihat Juga

Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman, PhD. (ist)

Pernyataan Presiden PKS Tentang Rencana Penyampaian Pendapat di Muka Umum Oleh Gerakan Nasional Pendukung Fatwa MUI