Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Pesona Langit Mesir, Kupinta Maaf Darimu…

Pesona Langit Mesir, Kupinta Maaf Darimu…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Demonstran dengan membawa simbol 4 jari untuk mengenang peserta aksi demonstrasi damai di lapangan Rab'ah Al-Adawiyah Mesir yang dibantai oleh militer dan polisi pemerintahan kudeta Mesir, Rabu (14/8/2013). Pada peristiwa tersebut ribuan orang syahid. Simbil ini diprakarsai oleh PM Turki Recep Tayip Erdogan. (worldbulletin.net)
Demonstran dengan membawa simbol 4 jari untuk mengenang peserta aksi demonstrasi damai di lapangan Rab’ah Al-Adawiyah Mesir yang dibantai oleh militer dan polisi pemerintahan kudeta Mesir, Rabu (14/8/2013). Pada peristiwa tersebut ribuan orang syahid. Simbil ini diprakarsai oleh PM Turki Recep Tayip Erdogan. (worldbulletin.net)

dakwatuna.com Begitu banyak artikel dan berita-berita dari berbagai media yang cukup membuat shock para pegiat Dakwah Islam, yang ingin menawarkan Islam sebagai solusi peradaban. Saudara-saudara seperjuangan di Mesir justru harus menghadapi kenyataan yang begitu pahit, di awali dengan di kudetanya Presiden DR Muhammad Mursi yang terpilih secara sah melalui demokrasi oleh militer. Pahitnya kenyataan ini membentuk senyawa asam yang membuat hati para pejuang Agama Allah tersungkur kecewa. Bukan sekadar kecewa biasa, penistaan terhadap demokrasi harus kemudian di hadapi di depan mata tanpa sempat terpikirkan untuk membalas.

Demokrasi memang menjadi hal yang kontroversial  di kalangan para pegiat Harakah Islamiyah karena demokrasi memang produk barat, tempat lahirnya imperialisme. Namun kata-kata Perdana Menteri Turki Erdogan tentang demokrasi sangat menginspirasi untuk kemudian kembali mengasah kemampuan think and action agar menelaah terlebih dahulu perjuangan dakwah.  Inti perkataan dari Erdogan adalah agar demokrasi bisa menjadi salah satu alternatif dan sarana menuju kejayaan dan kegemilangan peradaban Rabbani yang pernah dibangun oleh Rasulullah S.A.W serta para sahabat dalam kurun waktu kurang lebih 23 tahun.

Tidak sampai di situ saja, ketika teman-teman Ikhwanul Muslimin menggelar aksi besar-besaran untuk menolak kudeta serta mendukung DR Muhammad Mursi, mereka harus mendapat ujian yang begitu berat sekali lagi. Dimulai penembakan masa demonstrasi yang sedang shalat sampai tindakan-tindakan represif lain yang dilakukan oleh militer Mesir. Mendengarnya saja cukup menguras hati, apalagi kemudian merasakannya. Bukankah Mukmin itu ibarat satu tubuh seperti apa yang disampaikan oleh Baginda Rasulullah SAW?

Atas nama kemanusiaan, para demonstran Pro-Mursi dinistakan dengan cara dibantai justru oleh militer Mesir sendiri. Ironi negeri Piramid yang mencengangkan dunia. Dibakar, ditembaki, sampai-sampai Masjid pun ikut di bumi hanguskan (Na’udzubillah).

Sekitar setahun yang lalu, tepatnya awal Tahun 2011, penulis menyempatkan diri mengikuti aksi mengutuk pemerintahan zhalim Husni Mubarak yang saat itu masih menjadi Presiden Mesir. Aksi kami ini dikoordinatori oleh Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) region  Sulawesi A. Kepemimpinan Husni Mubarak yang sangat semena-mena terhadap rakyatnya menjadi tuntutan utama. Sangat jelas tindak penyimpangan yang dilakukan oleh Husni Mubarak, menindak tegas setiap oknum yang anti terhadap kepemimpinannya. Namun kini tuntutan tersebut hanya isapan jempol belaka. Berita terbaru, Husni Mubarak dibebaskan dan terbebas dari tuduhan korupsi. Demi tanah Mesir tempat berjuang Nabiyullah Musa’alaihissalam, haruskah kezhaliman kembali merajalela? Sungguh pertolongan Allah akan datang di saat yang tepat.

Maafkan kami Rakyat Mesir, Palestina, Suriah, Bangladesh, yang tengah berjuang melawan tirani kezhaliman. Kami begitu santai akan kenyamanan ini, jarang menghadapi kondisi-kondisi tertekan, begitu santai menjalani hidup ini sehingga produktivitas generasi mudah kami kalah jauh. Kalaupun ada yang cerdas, mungkin hanya cerdas berteori saja dan sedikit aksi nyata.

Pesona langit Mesir begitu mencengangkan kami, namun kami hanya mampu meminta maaf. Tak sekompleks permasalahan di negeri kalian, tak seperti pemahaman Islam generasi muda kalian, selalu saja kami seperti itu, paham akan suatu fiqih tapi mencoba menutupi-nya dengan pembenaran-pembenaran yang sebenarnya bertentangan. Pembenaran atas nama logika, merasa mengetahui segalanya padahal kapasitas kami masih jauh dari ilmuwan. Ada-ada saja ulah kami, terus menerus mengerjakan dosa dan kemaksiatan. Sadarnya hanya sebentar saja, setelah itu dilakukan lagi. Padahal pola kegiatan yang menjadi karakter kami ini secara nyata akan mereduksi diri kami. Fluktuasi iman yang menjerumuskan.

Kupinta maaf darimu, seluruh negeri dari empat penjuru mata angin, yang muslimnya tengah menghadapi kepongahan sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme.  Generasi kami tidak setangguh seperti generasi muda kalian. Generasi kami adalah generasi yang tidak menyeimbangkan pikir dan dzikir, selalu saja seperti ini, sangat jauh dari ke-idealan seorang Pembaharu. Berkoar-koar mengkritisi setiap regulasi tanpa menawarkan solusi yang kongkret. Di hadapan penduduk bumi kami begitu berwibawa, namun di kalangan penduduk langit tidak seperti itu, apalagi di hadapan Allah.

Pada setiap luka jihad fi sabilillah yang tengah menganga namun aromanya harum semerbak sampai ke surga, kami memohon maaf. Di kelompok-kelompok liqa’ kami, hanya kemalasan yang kami tunjukkan. Datang tak tepat waktu, tak serius setor hafalan, dan sejuta alasan lainnya. Ketidaksiplinan pada jamaah, lebih suka menuntut dan mengkritisi qiyadah, jarang me-muhasabah diri sendiri.

Begitupun ketika memegang amanah sebagai pejabat publik, kami lebih senang berfikir dengan logika publik dan idealisme pun sedikit demi sedikit terkikis rapi. Di mana idealisme seorang aktivis yang menginginkan perubahan? Apakah ia semakin redup di tengah derasnya arus peperangan ideologi? Bukankah ideologi yang dipelajari adalah ideologi yang paling terbukti sepanjang sejarah? Ideologi yang bersumber dari Qur’an dan Hadits. Atau memang kalian masih ragu wahai ikhwah? Mengapa ragu? Saksikanlah keberanian anak-anak muda Mesir. Putra-putri para qiyadah ikhwan begitu berani menerjang timah panas!! Apakah hal semacam itu tidak menggugah nurani kalian?

Saksikan keberanian yang menghempaskan segala keraguan yang dimiliki oleh seluruh kader ikhwan. Para Mujahidin Suriah tengah dibantai dengan senjata biologis!! Masihkah diam dan bisa tersenyum?! Anak-anak Suriah pun tengah dibantai!! Myanmar, Afghanistan, Palestina, Bangladesh, dan negeri Muslim lainnya tengah bergejolak, tunggulah giliran Indonesia. Atau logika Anda masih menyangkal kebenaran yang begitu jelas ini? Penindasan terhadap Muslim telah begitu jelas dan nyata. Ideologi yang paling mulia ini tengah di bumi hanguskan oleh musuh-musuh Allah. Dan yang pasti mereka adalah Sahabat Iblis. Mari bersiap-siaga sebagai generasi muda yang berideologi Islam. Baca dan resapi makna Surah Al-Imran Ayat 200.

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”.   (Qs. Al-Imran: 200)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mohamad Khaidir
Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah, Penulis Lepas, Akuntan, JPRMI Wilayah Sulawesi Selatan, FKAPMEPI Sulawesi Selatan.

Lihat Juga

Erdogan Kembali Kecam As-Sisi, Hubungan Mesir-Turki Kian Menegang