Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Suara Kebebasan Sang Biduan

Suara Kebebasan Sang Biduan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Pasung JiwaJudul: Pasung Jiwa

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Penulis: Okky Madasari

Cetakan: Pertama, Mei 2013

Tebal: 328 halaman

ISBN: 978-979-22-9669-3

dakwatuna.comIndonesia, negeri makmur nan permai ini telah lama menerapkan sistem kebebasan, namun hanya dalam hal memilih agama saja. Disudut-sudut kota, banyak orang yang tak beragama lalu lalang, tanpa beban. Namun tidak dalam hal memilih kodrat, mau jadi laki-laki atau perempuan. Karena itu adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Walaupun sudah ada beberapa Negara di dunia yang melegalkan perubahan kelamin.

Melalui dua tokoh utama, Sasana dan Jaka Wani, Sang Penulis menyuguhkan pergulatan manusia dalam pencarian kebebasan dan melepaskan diri dari segala kungkungan. Mulai dari kungkungan tubuh dan pikiran, kungkungan tradisi dan keluarga, kungkungan norma dan agama, hingga dominasi ekonomi dan belenggu kekuasaan.

Sasana merupakan seorang anak kecil yang sangat piawai dalam bermain piano bergenre musik klasik. Hingga pada suatu malam, ia menyaksikan pertunjukan musik dangdut dibelakang rumahnya. Saking asiknya, tanpa ia sadari, ibu jari hingga seluruh tubuhnya bergoyang. Ia mulai jatuh cinta kepada musik dangdut yang sebenarnya dilarang oleh kedua orangtuanya. Ia terkurung, ia tak bebas melakukan apa yang dicintainya. Keinginannya kalah dengan keterpaksaan. (hlm. 19)

Sasana memiliki seorang adik perempuan. Semenjak kecil, Sasana iri dengan adiknya yang memiliki tubuh yang indah. Setiap lekukan tubuh si adik ia perhatikan dan lagi, rasa iri itu semakin  membesar. Hingga pada saat kuliah di kota Malang, ia menemukan seorang Sasa, sosok lain dari dirinya. Dia merasa bebas dengan sosok itu. Ia bisa bergoyang semaunya dan menjadi pusat perhatian. Ditengah perjalannya ia bertemu dengan Cak Jek. Sosok yang kelak akan selalu menginspirasinya.

Kuliah pun ia tinggalkan, demi bisa bebas. Bebas dari kungkungan tubuhnya, ia merasa lebih nyaman dengan sosok Sasa. Tiap malam bersama Cak Jek, Sasa ngamen di warung milik Cak Man, warung dimana ia bertemu dengan Cak Jek. Rupiah pun dihasilkan, dan Sasa mulai ngamen keliling alun-alun Malang. Sampai-sampai ia terkenal dengan julukan “Sasa Sang Biduan”.

Karangan Okky ini terasa sangat dekat tanpa fantasi maupun fiksi yang kental. Karena jika dibawa ke kehidupan nyata, sesungguhnya sosok tokoh dari novelnya ini benar-benar ada. Tak usah jauh-jauh, di sekeliling kita mereka ada, bahkan sebenarnya ada kita di dalamnya. Jika kita bukan mereka, berarti kita orang yang diam menyaksikan nasib mereka.

Membaca buku terbaru dari Okky Madasari ini, seperti kita menelusuri jejak kisah hidup orang-orang yang terjebak dan terkurung dalam diri mereka sendiri. Menghayati hasil perenungan mereka. Yang pria membenci dunia macho yang sudah terbentuk di sekitarnya, sementara yang wanita menolak untuk selalu menerima.

Dalam novel ini juga diceritakan bagaimana kebringasan para aparat keamanan. Sasa ditangkap kemudian disiksa di suatu tempat, setelah ia berdemo menuntut agar Marsini, anak perempuan Cak Man yang berkerja sebagai buruh di sebuah perusahaan, dikembalikan, setelah sempat dikabarkan bahwa ia menghilang. Ia dilecehkan. Sasa dipaksa agar mau mengikuti nafsu bejat mereka. Lagi-lagi Sasa kalah. Mereka menggunakan embel-embel jabatannya agar bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Setelah ia dilepaskan oleh orang-orang tersebut, dari luar ia menyaksikan tulisan besar didepan gedung tenpat ia disiksa, KORAMIL. (hlm. 98)

Buku Fiksi terbaru dari Okky Madasari ini, sama dengan tiga novel karangannya sebelumnya. Sarat akan nuansa protes karena ketidakadilan. Mengabarkan suara-suara protes dari mereka yang jarang didengar. Protes terhadap kungkungan hidup. Dengan tokoh-tokoh yang ia hadirkan, seolah-olah Okky ingin menyibakkan rasa takut yang ada dalam diri para pembaca, dengan memunculkan semangat keberanian. Namun bagaimanapun juga ini tetap novel bernuansa dewasa.

Okky seperti membuka mata dan hati pembacanya dengan lebar. Mencoba memahami nasib orang-orang yang selama ini ada namun tak pernah didengar. Mencoba memahami bahwa pemimpin atau mereka yang mengatasnamakan aparat belum tentu benar. Setiap kita mestinya berani menguak rasa takut. Kira-kira begitulah maksud novel Pasung Jiwa.

 

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 3,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Pernyataan Sikap PBNU Terkait #AksiDamai411
"Saatnya Memenuhi Rasa Keadilan Masyarakat".

Pernyataan Sikap PBNU Terkait #AksiDamai411: “Saatnya Memenuhi Rasa Keadilan Masyarakat”