Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Untaian Kata-kata Hikmah Penuh Makna

Untaian Kata-kata Hikmah Penuh Makna

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

bkuJudul Buku: Ungkapan Hikmah: Membuka Mata, Menangkap Makna

Penulis: Komaruddin Hidayat

Penerbit: Noura Books (Grup Mizan)

Cetakan: II, Mei 2013

Tebal: 376 halaman

ISBN: 978-602-7816-39-8

dakwatuna.com Ketika melihat fenomena-fenomena di sekitar kita, sesungguhnya itulah bukti keagungan Tuhan. Ketika mau berpikir, berapa hikmah yang akan kita peroleh darinya? Banyak, bahkan mungkin kita tidak dapat menghitungnya. Masalahnya, seberapa seringkah kita berpikir terhadap adanya hikah-hikmah tersebut? Atau, pernahkah kita berpikir tentang hikmah tersebut?

Dunia ini sudah pasti penuh dengan hiruk-pikuk. Setiap kejadian, sadar atau tidak sesungguhnya kita telah membuat respon terhadapnya. Respon yang dimaksud bisa datang dari pikiran, emosi, nurani, maupun indra dan fisik kita. Pada dasarnya, buku ini merupakan himpunan kesan, suasana hati, emosi, dan pikiran penulis ketika melihat lingkungan sekeliling, baik sosial, alam, persahabatan, maupun kehidupan keluarga (hlm. vii)

Bagian pertama buku ini mengajak kita untuk menyapa semesta dengan penuh cinta. Ada banyak ungkapan hikmah untuk mengekspresikannya. Kembali ke alam, memeluk alam, kesantunan alam, mengawal alam, dan masih banyak lagi untaian kata indah yang penuh dengan makna.

Semua yang Tuhan ciptakan tiadalah sia-sia. Masing-masing mempunyai hikmah, mempunyai fungsi dan peran yang sangat penting. Termasuk pula semua organ yang ada dalam tubuh kita dari ujung rambut hingga pangkal kaki. Sebut saja, kepala-hati-tangan, semua memilki fungsi yang variatif. Yang perlu diketahui, keberadaan dari apa yang kita lihat adalah menjadi satu dan padu sebagai manifestasi-Nya.

Sebenarnya, contoh di atas, kepala-hati-tangan selain diberikan sebagai sebuah identifikasi, lebih jauh lagi diharapkan memiliki makna intrinsik tertentu. Misalnya, kepala dapat bermakna kepemimpinan, pemikiran, dan keseriusan berpikir. Hati dapat bermakna perasaan, ketulusan, totalitas, dan ketangguhan. Begitu pula tangan dapat disadari sebagai kekuatan, daya juang, dan pelaksanaan dari kata-kata (hlm. 24-25).

Itu adalah sebagian hikmah yang dapat disadari dari keberadaan diri kita sendiri. Lebih jauh lagi ketika kita bersosialisasi dengan sesama. Sahabat, mungkin dia orang terdekat yang kita punya. Bagaimana sesungguhnya makna persahabatan itu? Sahabat bukan sekadar sahabat, setidaknya dialah yang mencerminkan makna saling menjaga dan memilki.

Persahabatan akan lebih kuat dan sejati jika dilihat sebagai sesama makhluk spiritual yang sama-sama ingin berdamai. Dalam buku ini dijelaskan bahwa ungkapan hikmah tersebut setidaknya bermakna persahabatan tidak akan dapat abadi jika hanya melihat aspek fisik belaka. Persahabatan akan lebih bernilai dan abadi apabila didasari oleh kesadaran spiritual. Bersahabatlah karena perbuatannya, bukan karena hartanya (hlm. 84).

Bagian akhir buku ini mengugkapkan untaian hikmah yang berkaitan dengan kebahagiaan. Memang banyak cara orang untuk merasakan kebahagiaan. Selain kebahagiaan fisik, kita bisa meraih kebahagiaan intelaktual. Misalnya dengan membaca, menulis, dan berbagi ilmu pengetahuan. Semua itu bisa kita peroleh karena Tuhan memberikan sebuah anugerah besar untuk manusia, yaitu akal. Dengannya, manusia dibedakan dengan binatang.

Sebagai instrumen penting, akal digunakan untuk mengkaji alam semesta. Dari kitab yang bernama alam semesta ini, lahirlah tokoh-tokoh yang ahli dalam hal satwa, flora, gunung, laut, tanah, benda-benda angkasa, dan lain sebagainya. Sebuah kenikmatan tiada tara jika seorang mengerahkan segala akal budinya untuk menguak rahasia-rahasia alam semesta(hlm. 311).

Yang menarik dari buku ini adalaah pembaca akan menemukan kata-kata hikmah hampir di setiap halamannya. Tidak hanya itu, untaian kata-kata hikmah tersebut juga ditafsiri dan dimaknai dalam bentuk esai singkat. Jadi, buku ini adalah penafsiran atas kehidupan yang kemudian ditafsirkan lagi. Sangat memungkinkan ketika membaca kita akan mempunyai penafsiran tersendiri terhadap kehidupan ini.

Ada beberapa kesalahan pengetikan dalam buku ini, misalnya halaman 258 dan 260. Kata miskin ditulis ‘msiskin’ serta pengulangan kata ‘yang’. Terlepas dari kekurangan tersebut, buku ini sangat bermanfaat untuk membentuk pola pikir yang cerdas. Penulis mengajak kita melihat kehidupan dengan cara yang berbeda. Lewat buku ini, penulis ingin mengajak berdialog dengan alam dan teman-temannya untuk merayakan kehidupan dan menemukan makna, menyibak fenomena untuk menangkap noumena. Selamat membaca!

 

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Kru LPM Zenith anggota CSS MoRA IAIN Walisongo Semarang

Lihat Juga

Ilustrasi. (mamhtroso.com)

Al-Fatihah, Kunci Pembuka