13:22 - Rabu, 22 Oktober 2014

Harlah Ke-90 NU: PCNU-Ansor Bedah Buku Pesantren Studies

Rubrik: Daerah | Kontributor: dakwatuna.com - 28/05/13 | 17:59 | 19 Rajab 1434 H

Harlah NU ke-90

Harlah NU ke-90

dakwatuna.com – Sumenep. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Sumenep bersama PC GP Ansor setempat menyelenggarakan bedah buku Pesantren Studies di Aula PCNU, Selasa (28/5).

Buku tersebut dibedah langsung oleh penulisnya, Ahmad Baso.

Bedah buku tersebut merupakan rangkaian acara dari beberapa kegiatan rajabiyah dan harlah ke-90 NU yang diselenggarakan PCNU Sumenep.

Ketua PCNU Sumenep A. Pandji Taufik mengatakan, sejak beberapa hari lalu telah diselenggarkan beberapa kegiatan lomba, mulai dari tingkat pendidikan anak usia dini hingga tingkat santri.

“Puncaknya nanti istighatsah dalam rangka muhasabah,” katanya saat memberikan sambutan. Bupati Sumenep Busyro Karim sangat responsif dengan dengan bedah bukuPesantren Studies di ujung timur Pulau Seribu Pesantren. Sumenep memiliki 322 pesantren yang tersebar di daratan dan kepuasan.

“Buku ini sangat penting. Modal memahami eksistensi pesantren. Pesantren fondasi pendidikan dan pendidikan tertua dan ideal,” katanya dalam sambutannya yang dibacakan Sekretaris Daerah Kabupaten Hadi Soetarto.

Ketua GP Ansor M. Muhri berharap, kehadiran Ahmad Baso dapat membangkitkan lemahnya semangat literasi dan membaca.

“Diharapkan dapat memberikan pencerahan,” harapnya.

Ahmad Baso mengatakan, bedah buku yang direncanakan terbit sembilan jilid tersebut di Madura sangat tepat. Pasalnya, banyak sekali ilmu pengetahuan yang diproduksi dari orang Madura.

“14 ilmu yang diproduksi dari orang Madura,” katanya saat membedah buku yang dihasilkan dari penelitian bertahun-tahun.

Namun, menurut mantan komisioner Komnas HAM itu, saat ini banyak sejarah yang diselewengkan dari budaya Madura. Ia mencontohkan, tradisi transmigrasi yang sering dilakukan orang Madura karena geografisnya gersang.

“Karena gersang sehingga tidak ada peradaban,” tuturnya.
Untuk menghapus hal itu, mengembalikan senjata orang Madura, yaitu pustaka. Tradisi orang Madura terdahulu adalah membaca. Ia mengaku menemukan buku filsafat di Pamekasan yang terbit ratusan tahun lalu.

“Orang Madura yang malas membaca dan beli buku, orang Madura swasta,” ucapnya dengan nada canda. (mn/nu.or.id)

Redaktur: Samin

Topik:

Keyword: , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (Belum ada nilai)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
42 queries in 1,070 seconds.