Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Cinta Saja, Cukup!

Cinta Saja, Cukup!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

cintadakwatuna.com
Hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga. Ya, begitulah salah satu bait pada sebuah lagu tembang kenangan. Sepertinya tidak pernah habis kata untuk membicarakan tentang cinta, atau bahkan mengungkapkan rasa cinta manusia kepada sesama manusia lainnya, makhluk hidup lainnya, dan terutama, Allah, Nabi dan Rasul, dan para sahabatnya. Cinta merupakan satu topik menarik yang tiada hentinya di bahas. Bahkan, dalam perkembangan psikologis, seorang individu akan mencapai titik pencapaian keintiman (intimacy) pada suatu hubungan terhadap individu lainnya. Tanpa bermaksud vulgar, kata keintiman yang dimaksud di sini adalah rasa cinta/sayang yang dibalut oleh kasih dan berlandaskan kepercayaan kepada sesama manusia lainnya. Tahap itu pula merupakan tingkatan paling tinggi dari cinta.

Tidak mungkin seorang manusia hidup tanpa memiliki rasa cinta. Namun, seperti banyak pujangga berkata pula bahwa sesunguhnya jarak cinta dan benci itu sangat tipis, maka seorang manusia pun sejatinya memiliki rasa benci. Namun, layaknya anjuran Rasulullah kepada umatnya untuk saling mencintai terhadap sesama makhluk hidup lainnya, maka sebaiknya cinta dan benci itu dilandaskan pada Allah swt. Cinta yang seperti apakah itu?

Cinta dapat didefinisikan sebagai suatu kecenderungan emosi yang saling mengikat. Imam Al-Ghazali dalam bukunya Ihya’ Ulumuddin mengemukakan bahwa cinta adalah kecenderungan pada sesuatu karena sesuatu tersebut terasa nikmat bagi yang merasakannya. Sebaliknya benci adalah kecenderungan menjauh dari suatu hal karena tidak cocok dengan hal tersebut. Adapun kadar cinta dan benci dapat dilihat dari indikator kenikmatan yang dirasakan. Jika semakin tinggi, semakin nikmat pula rasa cinta itu, dan sebaliknya.

Secara umum, cinta, nikmat, dan benci dirasakan oleh panca indra tubuh (lahiriah). Namun ternyata, ada cinta yang lebih nikmat dan dalam (deep), yaitu cinta dengan hati (batiniyah). Adakah cinta batiniyah selain cinta kepada Allah? Sebuah cinta yang didasarkan pada keimanan akan membuahkan keharmonian. Kita tidak dapat melihat wujud-Nya, mendengar ucapan-Nya, atau bahkan merasakan sentuhannya secara langsung. Akan tetapi, kita dapat melihat ciptaan-Nya dan merasakan dengan hati sehingga kita dapat meyakini keberadaan, kekuasaan, dan kemahabesaran-Nya di alam semesta ini. Itulah kenikmatan yang paling dalam dan lebih sempurna dibandingkan kenikmatan oleh panca indera. Itu pulalah kenikamatan cinta yang benar sehingga seterusnya yang akan timbul hanya ketenangan jiwa dan keabadian cinta itu sendiri.

Masih ingat cerita umar? Umar yang sangat kuat, tegas, berani, dan cerdas, tidak pernah ia melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas dan ketidaktahuan. Ketika ia masih bergabung bersama kaum quraisy, ia membenci islam dengan alasan munculnya islam dan Rasulullah SAW menjadi pemicu keretakan persatuan kaum quraisy dan bangsa-bangsa lainnya. Namun, setelah ia memahami kebenaran yang sesunggunya, ia balik membenci kaum kafir atas dasar yang jelas. Kecintaannya kepada Allah, keimanannya, ketulusannya, menjadi dasar ia berjuang bersama Rasul SAW dan para sahabat dalam islam. Menjadi dasar pula ia begitu membenci kebatilan yang terjadi.

Mungkin kita tidak akan pernah menyerupai para khalifatul atau bahkan Rasulullah, atau para shahabiyah dan para pejuang islam dulu. Namun, kita tetap bisa mecintai dan membenci dengan alasan yang pasti, karena Allah. Sedikit mempertegas bahwa karena Allah dalam konteks ini tidak diartikan secara literal saja. Manusia boleh memiliki alasan lain, seperti membangun kesadaran terhadap sesuatu yang benar kepada orang lain dan berbagai maksud lainnya. Namun, tetaplah, semua itu hanya diperuntukkan atau didasarkan atas kemurnian cinta kepada Allah swt.

Sekali lagi, cinta yang berlandaskan Allah adalah sebenar-benarnya cinta. Cinta yang akan membawa manusia pada keharmonian, keselarasan, dan ketenangan, baik dalam pikir maupun dalam gerak. Terkait benci, mari kita lupakan saja rasa benci. Karena sesungguhnya kedamaian lebih indah. Setuju?

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 5,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Syarifatul Umam
Undergraduate Student (2011), Fellowship of Center for Indigenous and Cultrual Psychology, Head of Muslimah Department, Keluarga Muslim Psikologi, Faculty of Psychology, Universitas Gadjah Mada.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Geliat Cinta Pejuang