Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mencium Pipi Kanan Syeikh Saad al-Ghamidi

Mencium Pipi Kanan Syeikh Saad al-Ghamidi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

kuwait_news1_129dakwatuna.com

Jika Maksud Kita Tulus, Alam akan Menyertai. Begitulah tema yang diangkat oleh Majalah Tarbawi edisi 293. Bagi saya, kehadiran majalah dwi pekanan ini, seperti kehadiran inspirasi di tengah rimba raya informasi yang seringkali membinasakan akal dan rasa. Tarbawi, tak ubahnya oase di tengah sahara. Selalu dinanti, sesal untuk dilewati.

Sekitar dua pekan setelah edisi ini terbit, saya menemukan bukti tak terbantahkan dari tema utama majalah yang digawangi oleh Ahmad Zairofi AM ini. Ketika itu, Jakarta tengah mengadakan Hajatan Akbar bernama Indonesia Menghafal yang diadakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK). Dalam acara tersebut, ustadz Yusuf Mansyur dan PPPA Darul Qur’an mengundang Qori’ kenamaan asal Saudi, Syeikh Sa’ad al-Ghamidi. Bersama beliau, hadir pula beberapa syeikh dari timur tengah. Antara lain Syeikh Ali basyfar dari Qatar, Syeikh Yusuf dari Palestina, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Momen ini adalah kesempatan emas bagi seluruh kaum muslimin dimanapun mereka berada. Apalagi, bagi mereka yang intens interaksinya dengan al Qur’an. Terlebih lagi, bagi mereka yang gandrung dan takjub dengan Kuasa Allah yang telah memberikan suara emas kepada Syeikh al- Ghamidi. Begitupun dengan saya.

Sayangnya, kesibukan seakan tiada habisnya. Meskipun telah merencanakan sejak lama, nyaris saja saya tidak bisa mengikuti acara super ini.

Tepat sehari sebelum hajatan akbar itu, saya baru melakukan transfer untuk registrasi. Itupun ketika malam mulai larut sepulang dari acara. Ada ketentuan bahwa peserta harus menyetor hafalan surah an-Naba’ 1-40 dan surah al-Baqarah 1-50. Ada banak keraguan, karena memang 50 ayat pertama surah al-Baqarah belum sempurna saya hafal. Maka, dengan ragu, saya kirimkan pesan singkat kepada panitia, “Maaf pak, apakah yang belum hafal boleh ikut acara di GBK?” Dengan berharap cemas untuk diijinkan, jawaban sang panitia pun mampir ke ponsel dengan nada menyenangkan, “Iya, mas. Tidak apa-apa. Silahkan hadir.”

Hari yang dinanti pun tiba. Bayangan wajah teduh Syeikh al-Ghamidi menghiasi mimpi saya malam itu. Meski belum pernah bertatap muka, air teduh wajahnya benar-benar hadir. Terang sekali. Seketika setelah bangun dan menyadari bahwa pertemuan itu adalah mimpi, saya langsung bergumam lirih, “Ya Allah, pertemukan aku dengan beliau. Bukan lantaran pengkultusan, tapi karena saya mencintai beliau karenaMu.”

Jadwalpun saya susun rapi. Jam berapa berangkat, mau bawa apalagi, rute yang harus saya lewati dari kontrakan ke GBK, dan seterusnya.

Sayang bukan kepalang, pagi harinya lelah begitu menyergap. Akhir pekan. Banyak amanah yang belum ditunaikan, meski upaya sudah mendekati maksimal. Maka pada hari dimana acara akbar itu digelar, tepat setelah sholat subuh, dimana seharusnya saya mandi dan bersiap diri, yang terjadi justru sebaliknya : ketiduran.

“Innalillahi,” ucap saya lirih setelah terbangun dari ketiduran. Waktu sudah menunjukkan pukul 8. Padahal Majlis Qur’an itu dimulai jam 6 pagi. Sambil merutuki kelalaian diri, sembari terus beristighfar, saya langsung bergegas melakukan persiapan. Seketika itu juga, muncul banyak bisikan, “Sudahlah. Kamu gak usah berangkat. Buat apa? Kamu sudah terlambat. Lain kali saja ketemu syeikh al-Ghamidi-nya.” Beruntunglah, sajian utama Tarbawi edisi itu terputar jelas dalam ingatan saya, “Jika Maksud Kita Tulus, Alam akan Menyertai.” Benar-benar ampuh! Saya seperti terhipnotis dengan kalimat itu.

Dengan Bismillah, langkah pun dimulai. Meski bisikan-bisikan buruk itu, tetap terngiang. Disepanjang perjalanan, ujian tak kunjung surut, malah menjadi pasang. Mulai dari angkot yang tak kunjung tiba, naik bus way berdesak-desakan, macet, panas dan seterusnya. Guna menebalkan yakin, saya tetap menyempatkan diri membaca Tarbawi edisi itu sebagai teman untuk berbagi gundah, berharap mendapat cerah.

Sekitar pukul 10.30 barulah saya sampai di GBK. Bisikan untuk pulang kembali menguat ketika melihat banyak orang yang mulai keluar dari GBK. Di luar GBK saja, sudah banyak jama’ah yang rehat. “Sepertinya acara telah selesai.” Ucap hati lirih.

Hingga akhirnya, Allah mengantarkan saya sampai di gerbang masuk GBK yang digunakan oleh peserta parade al-Qur’an. Dengan tanpa ragu, saya masuk dengan mempersiapkan bukti transfer untuk menukar tiket. Tak dinyana, di sana tiak ada petugas. Malahan, saya sempat mendengar panitia berkata, “Tiket habis, silahkan masuk saja.Gratis.”

Dengan tanpa merasa bersalah, berbekal niat tulus itu, saya berjalan lurus mendekati panggung. Di depan panggung masih ‘steril’ dari pengunjung. Hanya ada beberapa panitia dan kru media peliput acara. Entah karena apa, panitia tidak mencegah saya memasuki area ‘terlarang’ itu. Saat itu, tanpa saya duga, ternyata syeikh al-Ghamidi baru saja naik panggung. Benar-benar diluar prediksi saya yang mengatakan,”Pulang sajalah, Syeikh sudah gak ada. Acara sudah selesai.”

Beliau mulai menggetarkan GBK dengan lantunan surah al-Fatikhah. Saya terus saja berjalan mendekat panggung. Setelah jaraknya tinggal beberapa meter, mata saya langsung diguyur buliran halus lantaran suara merdu bertenaga dari salah satu Syeikh anggota Ikhwanul Muslimin itu. Setelah al-Fatikhah, beliau membaca an-Naba’. Seperti mimpi semalam, kini wajah beliau benar-benar bisa saya saksikan dengan jelas. Tinggi, putih, kekar, tampan, hidung mancung, jenggot tebal rapi, dan yang terpenting : sholih dan hafidz Qur’an.

Ini benar benar keajaiban, bisikku dalam hati. Ini adalah tafsir yang sangat jelas dari kalimat itu, Jika Maksud Kita Tulus, Alam akan Menyertai. Maka sepanjang acara, panasnya surya seakan sejuk. Meskipun dengan berdiri mematung, berlinang air mata, di depan panggung berpayung terik surya.

Sekitar satu jam, rangkaian acara berlangsung. Ketika Syeikh dan rombongan menuruni panggung, saya berjalan ke arah beliau dari balik panggung. Di sana sudah banyak orang yang antri untuk menciumi tangan Syeikh. Yang membuat saya takjub, ternyata Syeikh menyedekapkan kedua tangannya di dada. Nyaris saja, tidak ada orang yang bisa mencium tangan beliau. Panitia terlihat dengan susah payah menghalau para ‘penggemar’ Syeikh.

Seperti mendapat ilham, saya melangkah. Kemudian berhenti tepat di jalur yang akan dilalui Syeikh. Dalam hitungan detik, Syeikh lewat di depan saya berdiri. Dengan tanpa berpikir, saya langsung maju dan mencium pipi kanan Syeikh. Begitu saja. Anehnya, tak ada panitia yang menghalangi. Sesaat setelah mendaratkan bibir di pipi kanan Syeikh, saya mundur. Kemudian menerawang, “Subhanallah, ini benar-benar mimpi yang menjadi nyata.”

Saya pun pulang dengan hati sumringah. Sembari terus berpikir dan berbicara pada diri sendiri, “Ini buktinya. Tuluslah. Niatkan karenaNya. Maka, kuasaNya bukan sekedar kisah. Ingatlah, Jika Maksud Kita Tulus, Alam akan Menyertai.” Maha benar Allah dengan FirmanNya, benarlah Tarbawi dengan sajian dan inspirasinya.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pirman
Penulis, Pedagang dan Pembelajar
Organization