Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Di Balik Fatwa Kontroversi Yusuf Al-Qaradhawi

Di Balik Fatwa Kontroversi Yusuf Al-Qaradhawi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Judul : Di Balik Fatwa Kontroversi Yusuf Al-Qaradhawi

Penulis : Hepi Andi Bastoni, MA.

Penerbit : Pustaka Al-Bustan – Bogor

Cetakan : I; Januari 2013

ISBN : 978-979-1324-10-6

Tebal : XII + 520 Halaman; 24.5 x 16 cm

 

Di Balik Kontroversi Sang Ensiklopedi Berjalan

Cover buku "Di Balik Fatwa Kontroversi Yusuf Al-Qaradhawi".
Cover buku “Di Balik Fatwa Kontroversi Yusuf Al-Qaradhawi”.

dakwatuna.com – Yusuf Al-Qaradhawi bukanlah sosok yang asing lagi dalam dunia pemikiran Islam kontemporer. Ijtihadnya yang kontroversial seringkali mengundang perdebatan dalam berbagai kalangan kaum muslimin. Sehingga, ada kalangan yang pro, kontra bahkan ada yang pada tingkatan mengkafirkan Syaikh kelahiran Mesir ini.

Oleh karena hal itulah, Hepi Andi Bastoni, MA. menulis buku bertajuk Di Balik Fatwa Kontrovesi Yusuf Al-Qaradhawi. Buku setebal 520 halaman ini merupakan buku ke 47 sang penulis yang mengupas tuntas kehidupan sang Syaikh yang kini menetap di Qatar.

Buku ini dimulai dengan membahas biografi Qaradhawi. Beliau lahir dalam keadaan yatim. Usia 15 tahun, Sang Ibu menyusul suaminya. Beliau pun dititipkan kepada pamannya, Ahmad. Beliau berhasil menghafal Al-Qur’an pada usia 10 tahun. Selama hidup bersama sang Paman, Qaradhawi banyak belajar tentang perniagaan. Beliau diajak terjun langsung oleh pamannya ke dalam kancah bisnis. Hingga pada akhirnya, ada seorang kolega sang paman yang menyarankan agar Qaradhawi dimasukkan ke Universitas Al-Azhar.

Sejak kelas 1 SD, beliau langsung terkesima dengan pidato Hasan al-Banna. Maka, pada kelas 4, beliau bergabung secara resmi dengan Ikhwanul Muslimin. Beliau menjadi ‘pentolan’ dalam kader remaja. Bahkan, beliau sudah mulai aktif berdakwah ke Damaskus, Oman, Palestina, dll.

Sejak SD sampai SMA, beliau selalu menjadi yang terdepan. Baik prestasi akademik maupun organisasi. Anehnya, beliau menjadi dambaan teman-teman yang dipimpinnya. Sehingga beliau tidak pernah diganti dari jabatan ketua OSIS ketika Tsanawiyah.

Beliau pun semakin aktif berdakwah setelah masuk ke universitas al-Azhar. Di sana, beliau mempunyai banyak sekali prestasi baik di dalam dan luar negeri. Di al-Azhar, beliau dijuluki teman-temannya dengan sebutan “Ensiklopedi yang Berjalan”

Dalam bab pertama ini, dibahas pula tentang proses pernikahan dan anak-anak Qaradhawi. Juga para syaikh yang berpengaruh dalam proses pemikiran Qaradhawi. Termasuk jenis-jenis karya Qaradhawi dalam berbagai bidang.

Qaradhawi menulis ratusan judul buku dengan kekhasannya sendiri. Dalam tiap bukunya, unsur moderat selalu dianut. Beliau piawai menggabungkan antara orisinalitas, idealitas dan realitas.

Beliau menulis lebih dari 11 bidang keilmuan. Mulai dari Fiqih dan Ushul Fiqih, Ekonomi Islam, Ilmu Al-Qur’an  dan Sunnah, Aqidah, Fiqih Perilaku, Dakwah dan Tarbiyah, Gerakan dan Kebangkitan Islam, Pemikiran Islam, Wawasan Umum, Biografi Tokoh Islam, Sastra dan lain sebagainya.

Sementara itu, guru dan masyayikh yang berpengaruh kuat dalam kepribadian beliau jumlahnya sangat banyak. Mulai dari yang langsung ketemu, belum sempat ketemu, hingga para ustadz yang beliau temui dalam Ikhwanul Muslimin.

Di antaranya adalah Syeikh Hamid Abu Zuwail, DR Abdul Halim Mahmud, Syaikh Sayyid Sabiq, Syaikh Muhammad Al-Ghazali, Syaikh Mahmud Syaltut, Ibnu Rusyd, Imam Ibnu Hazm, Sayyid Quthb, Abul A’la Al-Maududi,  Imam Ghazali, Ibnu Taimiyah, Hasan Al-Banna dan lain lain.

Bagian berikutnya dari buku yang terbit pada bulan januari 2013 menjelaskan tentang Fatwa dan Ijtihad dalam Islam. Berisi tentang Pembahasan Fatwa, Kedudukan Fatwa, Syarat-syarat Pembuat Fatwa (Mufti), Kitab-kitab Fatwa, Contoh Fatwa dari Ibnu Taimiyah, Rasyid Ridha, Mahmud Syaltut. Dibahas juga tentang ijtihad kontemporer yang diinginkan Qaradhawi, Kekeliruan Ijtihad Kontemporer menurut Qaradhawi.

Dijelaskan pula tentang Sembilan prinsip-prinsip pokok dalam ijtihad kontemporer menurut beliau. Yaitu Tidak ada ijtihad tanpa usaha sungguh-sungguh, tidak ada ijtihad dalam masalah-masalah qath’i, tidak dibolehkan menjadikan dalil zhanni (relatif) sebagai dalil qath’i, menggabungkan antara fiqih dan hadits, waspada agar tidak terjebak di bawah tekanan realita, mengambil segala sesuatu yang baru dan bermanfaat, tidak melalaikan spirit zaman dan apa yang diperlukan, berpindah kepada ijtihad jama’i, berlapang dada atas kesalahan mujtahid karena tidak ada orang yang ma’shum, selain nabi.

Bab utama dalam buku ini dijelaskan dalam bab tiga dan empat. Buku yang ditulis oleh penulis yang kini tinggal di Bogor-Jabar ini disajikan dalam bentuk lengkap sehingga kita bisa memahami persoalan secara utuh.

Dalam bab tiga diterangjelaskan tentang cara yang dipakai oleh Qaradhawi dalam membuat fatwa. Setidaknya, ada 14 cara yang selalu dilakukan oleh beliau sebelum membuat sebuah fatwa. Keempat belas cara tersebut adalah, Penggabungan antara Fiqih dan Hadits, Moderat, Memberi Kemudahan, Memberi Kabar Gembira dan Tidak menakut-nakuti, Mempersatukan bukan Mencerai-beraikan, Memperhatikan Realita, Bersikap Reformis dan Tidak Jumud, Bebas dari Fanatisme Mazhab, Memahami Nash Juz’i, Membedakan antara Qath’i dan Zhanni, Menggabungkan antara Orisinalitas dan Kemodernan, Mengutamakan Universalitas, Internasionalitas dan Memadukan antara Naql dan Aql.

Sementara dalam bab empat, yang merupakan bagian pokok dari buku ini, setidaknya menjelaskan tentang dua hal. Pertama menjelaskan tentang kelompok-kelompok yang pro dan kontra terhadap fatwa Qaradhawi.

Dalam awalan dari bab ini, penulis mengajak pembaca untuk memahami fatwa Qaradhawi secara objektif. Dalam bab ini juga terdapat sanjungan Syeikh al-Albani kepada Qaradhawi tentang bukunya Halal dan Haram. Karena secara personal, Al-Albani juga angkat topi terhadap Qaradhawi. Meskipun dalam beberapa hal, ada sesuatu yang kurang mereka sepakati. Al-Albani mengatakan, “Mengenai pendapat-pendapat tersebut (Dalam buku Halal dan Haram), dialah yang bertanggung jawab terhadap pendapatnya dan dia akan mendapat pahala, baik benar maupun salah.” (Hal 409)

Berikutnya, diterangkan tentang kelompok-kelompok yang kontra terhadap Qaradhawi. Penulis menyebutkan dua kelompok yang kontra tersebut. Yaitu sebagian Kelompok Salafi dan Jama’ah Ahbasy.

Yang paling menarik, dalam bab ini dijelaskan tentang bagaimana seharusnya kita menyikapi pro kontra tentang hal ini. Dimulai dengan bahasan tentang sikap ulama’ terhadap mereka yang mencaci maki ulama’ lain, hingga sikap seorang muslim terhadap orang-orang yang mencaci maki ulama’. Di akhir bagian, disebutkan delapan hal contoh fatwa Qaradhawi yang dianggap kontroversial. ‘

Hal lain yang membuat buku ini terasa seperti paket lengkap adalah bab akhir buku ini yang mengutip pendapat dua puluh lima Tokoh Islam lintas harakah tentang Qaradhawi. Bahkan, mereka yang berseberangan pendapat pun, tak segan untuk mengungkapkan pujian kepada Qaradhawi. Sebut saja pendapat Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, “Buku-bukunya memiliki bobot ilmiah dan sangat berpengaruh dalam dunia Islam.” (Hal 505).

Hal lain yang menjadi nilai lebih dari buku ini adalah sebuah pelajaran berharga bagi kita yang hidup di akhir zaman. Bahwa sebagai seorang penuntut ilmu, tidak selayaknya kita asal bicara tentang sesuatu yang belum benar-benar kita pahami. Apatah lagi sampai pada taraf mengkafirkan seseorang yang justru telah banyak karyanya bagi Islam. Karena, ulama’-ulama’ terdahulu telah memberi contoh dengan sangat indah dalam hal menyikapi perbedaan hal-hal yang bersifat cabang dalam agama ini.

Semoga hadirnya buku ini menjadi sebuah pencerahan bagi siapa saja yang hendak memandang persoalan secara jernih sesuai awal diturunkannya.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pirman
Penulis, Pedagang dan Pembelajar
  • Saya sudah baca Manhaj Fiqh Yusuf Al-Qardhawy karya Ishom Talimah (salah satu murid Syaikh). Ketika membaca resensi di atas sepertinya bahasannya tidak jauh berbeda dengan buku yang saya baca. Kira-kira nilai lebih apa yang terdapat pada buku di atas dibanding dengan karya Ishom Talimah, barangkali ada infomasi yg baru.. Syukron

Lihat Juga

Ilustrasi. (tammymasterkey.wordpress.com)

Nak…