Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Saksikanlah, Kami Tetap di Jalan Ini

Saksikanlah, Kami Tetap di Jalan Ini

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Tak pernah terlintas di pikirannya sekalipun sebelum hari itu, untuk memikul suatu urusan yang teramat berat. Memang urusan itu tidak seberat apa yang harus ditanggung Umar bin Al-Khattab radhiyallahu anhu saat diangkat menjadi khalifah umat Islam. Tapi bagi saya dan orang-orang yang merasakan dakwah ini amat tahu tentang beratnya urusan yang ia pikul hari itu.

Ia pun bukannya tak lepas dari dera cobaan sebelum ditetapkan memikul urusan itu. Sempat terhembus luas beragam suara miring tentang dirinya. Masih saya ingat betapa media ramai menari-nari berkelakar tentang jam Rolex seharga 70 juta. Atau tentang dugaan-dugaan yang dilontarkan dari salah seorang karib juga gurunya yang memilih berbeda jalan darinya. Atau juga tentang penyalahgunaan wewenang terkait dana PPID yang dilontarkan oleh Wa Ode. Dua kasus terakhir tidak pernah terbukti sampai hari ini, pun semoga memang bukanlah sesuatu yang benar terjadi.

Tidak seperti karibnya yang turut menjadi opsi untuk dipilih memikul urusan tersebut. Karibnya itu sebenarnya lebih halus catatan sejarahnya. Banyak pujian pula. Namun Syura telah menentukan. Ia yang akhirnya terpilih untuk memikul beban itu. Saya tak pernah bisa membayangkan bagaimana keadaan hatinya ketika keputusan itu sampai ke telinganya. Ia pastinya paham betul tentang berat dan rumitnya urusan yang akan ia pikul itu. Mungkin memang tak serumit perasaan pasukan Khandaq yang sampai Allah gambarkan dalam surat Al Ahzaab.

(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. QS. Al Ahzaab: 10

Mungkin juga tak serumit perasaan Musa Alaihis Salam ketika Allah menyerunya untuk memperingati kaum yang zhalim.

Berkata Musa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku. Dan (karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku maka utuslah (Jibril) kepada Harun. Dan aku berdosa terhadap mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku”. QS. Asy Syu’araa’:12-14

Tapi urusan itu, dengan kapasitas manusia zaman ini, kami pun paham bahwa urusan itu bukanlah urusan yang mudah. Terlihat dari parau suaranya mengawali bicara di depan ratusan corong suara dan notes sekaligus bolpoin para jurnalis yang siap menulis setiap kalimat yang terlontar. Matanya nanar sembab. Beban itu memang tak ringan.

“Saya mencintainya. Seluruh kami mencintai beliau.” kata itu meluncur dari lisannya dengan suara parau. Ia menegaskan kejernihan cinta dari parau suaranya serta sembab bola matanya. Saudara yang dicintainya sedang diuji oleh Allah dengan ujian yang cukup berat. Dan ujian cukup berat pula dirasakan oleh para kader jamaah yang dipimpinnya; ujian untuk tsiqah terhadapnya. Maka ia tegaskan dengan lantang dan tanpa keraguan untuk menepis segala kecamuk perasaan tak menentu para kader jamaahnya, “Kita Sepenuhnya Tsiqah”.

Dari kaca layar komputer melihat secara live-streaming orasi pertamanya yang ditayangkan sebagian stasiun televisi negeri ini, tak terasa air mataku tak terbendung lagi. Juga air mata ribuan, bukan, jutaan kader dakwah yang telah sedemikian sesak dadanya memendam berbagai perasaan yang tak menentu. Ya, kami menangis. Biar seisi negeri ini menyaksikan tangisan kami. Dari sorotan kamera stasiun televisi yang ditonton penjuru negeri terlihat jelas isak para kader yang duduk mengitarinya yang sedang berorasi dengan suaranya yang parau. Biar seisi negeri ini tahu bahwa kami menangis. Biar mereka tahu bahwa kami merasakan beban yang begitu berat menindih dada kami. Biar mereka nilai sendiri seperti apa sesungguhnya kami dan organisasi kami yang sedang dirundung badai pembicaraan negatif sepanjang hari di berbagai media. Biar mereka lihat sendiri, ketahui sendiri betapa air mata kami menunjukkan kecintaan kami terhadap negeri ini, ketulusan kami untuk melayani umat negeri ini. Biar mereka tahu sendiri.

“Allahummayya kana’budu wa iyya kanasta’in!”, teriaknya beberapa kali. Kamipun semakin larut dengan isak kami. Biar Bangsa ini tau bahwa kami hanya akan memohon pertolongan pada Rabb Penguasa Alam ini. Kami tidak menangis di hadapan manusia, kami hanya menangis di hadapan Allah. Biar setiap yang melihat tangis kami mengetahui bahwa meskipun kami jamaah manusia yang tak lepas dari salah, kami setiap pekan dididik untuk senantiasa menjadikan Allah satu-satunya sumber pertolongan. Beban berat yang menimpa jamaah kami ini, biarpun sesesak apapun di dada kami, tak akan sekalipun kami mengemis belas kasihan pada manusia. Ia menegaskan hal itu berkali-kali, “Allahummayya kana’budu wa iyya kanasta’in!”.

Sejenak perasaan kami lega, kami insya Allah tidak salah memilih jalan perjuangan ini. Kami insya Allah memiliki pemimpin-pemimpin yang akan senantiasa mengingatkan kami dan menguatkan langkah kami. “Tak ada satu pun kekuatan di negeri ini dan dunia ini yang bisa menghancurkan gerakan ini. Insya Allah”, Ia menegaskan. Selama kami memahami 3 syarat utama dalam melalui beratnya ujian ini, sebagaimana yang ia tegaskan secara yakin, insya Allah kami akan mampu melaluinya. Meminta pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, menjaga erat ukhuwah, dan senantiasa bekerja keras adalah syarat yang harus kami lakukan untuk dapat melalui hari-hari yang berat ini.

Ia, aku harus mengatakan padanya, Ustadzuna Anis Matta Hafidzahullah, aku mencintainya, sebagaimana aku mencintai saudara kecintaannya yang sedang menghadapi ujian jeruji, sebagaimana aku mencintai seluruh kaum muslimin. Insya Allah kami akan terus berada di sampingmu, hingga Allah memuliakan dakwah ini, atau kami mati memperjuangkannya.

Ayyuhal Ikhwah! Telah lemahkah kekuatan kalian? Telah surutkah semangat kalian? Telah datangkah keputus-asaan kalian? Ketahuilah ujian ini tidak akan mampu menguatkan dan memuliakan kita kecuali kita mampu melaluinya. Sesungguhnya di depan sana masih akan menunggu ujian yang akan bertumpukan beratnya dari yang kita hadapi saat ini! Sesungguhnya akan datang ujian yang akan membuat penglihatan kita menjadi tidak tetap, hati kita menyesak sampai ke tenggorokan, dan hingga kita menyangka kepada Allah dengan berbagai prasangka, di saat itu akan benar-benar terpisah yang haq dan yang bathil, dan apakah kalian rela untuk kalah di saat itu? Sesungguhnya kemenangan di saat itu adalah kemenangan yang sebenar-benarnya. Maka kuatkanlah kaki kalian! Pertajam tajarrud kalian! Janganlah surut kecuali darah telah sampai sebatas lutut!

“Saya ingin berterus terang kepada kalian, bahwa kalian ini belum banyak diketahui orang. Nanti, di saat mereka mengetahuinya dan memahami tujuan-tujuan serta sasaran-sasarannya, niscaya mereka akan memusuhi dan menentang keras dakwah kalian. Di depan kalian akan terbentang berbagai kesulitan dan kalian akan menemui banyak kendala. Saat itulah kalian mulai meniti jalan para aktivis dakwah yang sesungguhnya. Namun sekarang kalian belum dikenal. Kalian baru masuk pada masa-masa persiapan untuk memasuki jalan dakwah dan bersiap-siap untuk menghadapi segala tuntutannya berupa jihad dan peperangan.”

– Hasan Al Banna, dalam Risalah Bainal Amsi wal Yaum –

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 8,43 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Pelajar muslim

Dunia Islam Perlu Mendukung AS